
Pada tanggal 7 Mei 2024 lalu, perusahaan teknologi raksasa “Apple” merilis video promosi produk iPad Pro terbaru lewat akun kanal Youtube mereka. Video promosi tersebut menuai banyak respons negatif dari banyak pihak karena pesan yang coba dibawakan dari video tersebut.
Dalam video berjudul ‘Crush!’ tersebut memperlihatkan alat hidraulik raksasa yang menekan hancur bermacam-macam alat musik, buku, kamera, dan berbagai peralatan kreatif lainnya dan memampatkannya menjadi produk iPad Pro yang mereka promosikan. Pada video tersebut, pihak Apple sepertinya hendak menunjukkan fitur-fitur yang tersedia pada iPad Pro sama banyaknya dengan alat-alat yang telah dihancurkan. Namun, banyak pihak dan sosok yang menganggap pesan yang terkandung dalam iklan iPad Pro tersebut lebih dari itu.
Kini, pihak Apple telah meminta maaf. Video YouTube yang kontroversi tersebut tidak dihapus. Hanya saja kolom komentarnya dinonaktifkan. Dari kejadian kontroversi iklan tersebut timbul sebuah pertanyaan, Apakah kita benar-benar membutuhkan teknologi maju hingga harus meninggalkan seni tradisional?
Perkembangan teknologi yang begitu cepat dapat menjadi pisau bermata dua. Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi banyak membantu kita menyelesaikan banyak permasalahan. iPad Pro contohnya, kita dapat menggambar, menulis, mengedit video, dan aktivitas lainnya yang sebelumnya memerlukan berbagai peralatan. Kini, kita hanya membutuhkan iPad atau teknologi serupa untuk mengerjakan hal-hal tersebut dalam sebuah alat. Efisiensi dan kepraktisan ini adalah keunggulan utama dari teknologi.
Hadirnya kepraktisan yang ditawarkan oleh teknologi bukan lantas kita meninggalkan alat-alat seni tradisional. Gitar, kanvas, cat minyak, piano adalah beberapa dari sekian benda seni konvensional yang mempunyai nilai sejarah, budaya, dan nilai sakral seni itu sendiri. Melenyapkan benda-benda tersebut memberi simbol penghancuran nilai-nilai yang terdapat di dalam benda-benda tersebut.
Eksistensi penggunaan benda-benda konvensional seni masih cukup kental khususnya di daerah-daerah pelosok di Indonesia, seperti wayang kulit, gamelan, hingga alat-alat untuk membatik. Penggunaan alat-alat konvensional tersebut bukan hanya sebagai penyaluran hobi dan hiburan semata tapi juga sebagai mata pencarian.
Namun, ketika kita membicarakan daerah di perkotaan yang eksistensi penggunaan alat seni tradisional konvensionalnya cenderung berkurang. Sarana hiburan hampir sepenuhnya tergantikan oleh teknologi yang lebih modern seperti video game, hingga bioskop perfilman.
Transisi budaya ini menjadi gambaran sekaligus bahan untuk kita mengambil sikap bijak tentang realitas yang bersifat lebih parktis dan fleksibel secara penggunaannya. Belum lagi perkembangan AI saat ini membuat beberapa kalangan masyarakat khawatir.
Kontroversi iklan iPad Pro oleh Apple seharusnya dapat dijadikan refleksi oleh kita dalam memandang perkembangan teknologi bersamaan dengan pengaruhnya terhadap kesenian konvensional. Seni dan teknologi seharusnya dapat berjalan beriringan. Jangan sampai kita terlena akan kemudahan yang ditawarkan hingga meninggalkan dan melupakan nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisional.
Penulis: Tazakka Nafis
Editor: Khasan Sumarhadi


