By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Zaman Sampah Visual
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
ilustrasi kepala manusia yang dipenuhi oleh sampah. (dok. internet).
ArtikelOpini

Zaman Sampah Visual

Last updated: 20 Desember 2018 3:54 am
Sigit A.F
Published: 4 Mei 2018
Share
SHARE
ilustrasi kepala manusia yang dipenuhi oleh sampah. (dok. internet).

Globalisasi menuntut manusia untuk terus menggikutinya, dalam mode, fasion; gaya hidup ala masyarakat modern. Jika tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman, masyarakat harus mengikuti perkembangan, mengkonsumsi keluaran terbaru produk industrial. Pikiran ini telah terkonstruk sedemikian rupa, seolah menjadi common sense dalam kehidupan masyarakat sosial.

Pada era Karl Marx (1818-1883), orang yang menguasai zaman adalah orang-orang yang memegang kunci-kunci produksi. Namun, hari ini, tidak ada gunanya di masyarakat, orang yang mempunyai harta berlimpah namun konsumsinya sangat biasa. Manusia hanya akan mempunyai status sosial jika konsumsinya mewah, biarpun secara tataran masyarakat, orang tersebut dalam kelas menenggah ke bawah, bukan golongan elit. Ada pergeseran dari produksi ke komsumerisme yang luar biasa.

Jauh sebelum ‘virus’ ini masuk dalam ruang-ruang diskusi akademisi di Indonesia, Jean Baudrillard (1978) telah membahasanya dalam konteks masyarakat eropa. Bahwa di era kapitalis lanjut, mode of production telah digantikan oleh mode of consumption, Sehingga semua aspek kehidupan manusia tidak lebih hanya sebagai obyek. Sejatinya, manusia adalah subyek dan semua yang di luar dirinya adalah obyek. Namun, kini, baik manusia maupun yang di luar dirinya adalah sama.

Menurut Baudrillard, dalam sistem kapitalis, hubungan manusia telah ditransformasikan dalam hubungan obyek yang dikontrol oleh kode atau tanda tertentu. Perbedaan status dimaknai sebagai perbedaan konsumsi tanda, sehingga kekayaan diukur dari bayaknya tanda yang dikonsumsi. Baudrillad menyebut hal yang demikian sebagai simulakra; realitas palsu yang tak ada arti esensialnya. Sebuah realitas semu, yang seolah masyarakat digiring untuk percaya bahwa itu nyata.

Hal ini, sangat berpengaruh dalam eksistensi setiap manusia yang melihatnya, baik secara individu maupun komunal. Berbagai spanduk berikut banner di pinggiran jalan akan “mendistorsi” alam pikiran manusia. Sebagai misal, “suatu hari saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, tiba-tiba saya terpesona dengan sebuah iklan HP keluaran terbaru yang terpampang pada salah satu banner. Saya ingin memilikinya, namun saya tak memiliki cukup uang untuk membelinya, seketika timbul perasaan tertekan dalam diri—betapa miskinnya saya—alam pikiran saya terdistorsi (baca: tertindas) sedemikian rupa. Sehingga, rusaklah hari saya yang indah seketika itu juga”.

Bagaimana Nasib Generasi Emas 2045?

Sebagaimana yang pernah diwacanakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudaayan (Kemendikbud) 2012, akan lahir generasi emas pada 2045, tepat 100 tahun Indonesia merdeka. Mengingat pada periode tahun 2010 sampai dengan 2035, bangsa Indonesia dikarunia potensi sumber daya manusia berupa populasi usia produktif yang jumlahnya sangat luar biasa; bonus demografi.

Namun, kondisi hari ini berbeda saat wacana generasi emas 2045 dikeluarkan. Ada sebuah arus yang luar biasa deras, yang secara masif merubah perilaku generasi muda. Sebuah ketergantungan pada media sosial—whatsapp, instagram, yotube, twitter, facebook—yang ‘akut’.
Tenaga pemuda hari ini seolah habis untuk mengurusi apa yang tak seharusnya. Media sosial, tempat segala hal dipublikasikan, gaya hidup;mode , fasion, semua yang ada di sana, tak lebih hanya untuk perang tanda (baca: perang gaya).

Sampah visual hari ini, tidak lagi hanya sekedar iklan yang terpampang disepanjang jalan, disiarkan TV, disuarakan radio, tapi berkembang lebih luas, masuk ruang-ruang terprivat dalam diri manusia. Gaya hidup seseorang yang sengaja diumbar di media sosial, menjadi sampah visual bagi lain. Implikasinya, Sampah itu akan masuk dalam alam pikir sesorang yang pada akhirnya akan menyetir perilakunya.

Pada level tertentu, segala tindakan seseorang—yang alam fikirannya telah terkonstruk oleh sampah visual—tak lebih hanya untuk memenuhi keinginannya untuk terus mengkonsumsi tanda. Oleh sebab itu, segala tindakan terkadang kehilangan artinya. Hal itu yang menjelaskan, mengapa misalkan pemuda hari sering galau tiba-tiba, merasakan keterasingan dalam kehidupan sosial yang luar biasa dalam. Mereka terlalu banyak ‘dicekokki’ oleh tanda-tanda yang meresahkan (baca: menindas) hidupnya setiap hari.

Akankah generasi emas 2045 terwujud? Jawabannya sangat tergantung. Dapatkah pemuda hari ini, memposisikan dirinya dengan pengaruh gaya hidup di dunia maya yang tak bisa dibendung. Jika, pemuda hari ini gagal memposisikan dirinya, generasi emas yang dicita-citakan pemerintah bisa saja meleset menjadi generasi maya.

Oleh: Sigit A.F
Pegiat di SKM Amanat

Mencari Kebahagiaan dengan Romantisasi Hidup
Salah Siapa Mahasiswa Nyeleneh?
Meruntuhkan Stigma dan Diskriminasi Minoritas Agama
Kepakaran di Era Digitalisasi
Menagih Tekad Sumpah Pemuda
TAGGED:generasi emas 2045jean baudrillardsampah visualsimulakra
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
bulan syaban
Artikel

Sya’ban, Bulan Istimewa yang Sering Dilalaikan

Mukhayatul Khoiroh
26 Maret 2020
Cerita Dari Orang-Orang Yang Menggugat
4 Sektor Potensial dalam Dunia Saham di Tahun 2024
Rayakan Milad ke-37, UKM Kordais Gelar Festival Rebana Klasik se-Jawa Raya
Racana UIN Walisongo Raih Prestasi Di PWN PTKI se-Indonesia ke- XIV
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Zaman Sampah Visual
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Zaman Sampah Visual
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?