By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Refleksi Hari Lahir Pancasila] Makna Pancasila dan Keadaan Indonesia Hari Ini
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
ArtikelOpini

[Refleksi Hari Lahir Pancasila] Makna Pancasila dan Keadaan Indonesia Hari Ini

Last updated: 2 Juni 2019 11:01 pm
Rima Dian Pramesti
Published: 1 Juni 2019
Share
SHARE
(Instagram/Fakartun).

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Apa yang ada di pikiran kita ketika membaca ungkapan dari Bung Karno tersebut? jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia hari ini, seolah-olah perkataan Bung Karno tersebut menjadi kenyataan. Dibuktikan dengan serangkaian pelaksanaan pemilu kemarin.

Hoaks, fitnah, ujaran kebencian dimana-mana. Alih-alih hal tersebut menjadikan perpecahan pada masyarakat Indonesia. Sesama teman saling menjatuhkan, demi kekuasaan mereka rela mengorbankan ikatan tali persaudaraan yang diikat beberapa tahun lamanya.

Ya, meskipun Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan hasil Pemilu 2019, namun masyarakat masih belum sepenuhnya bisa dipisahkan dari label kubu 01 dan 02. Hal tersebut di dasari oleh kekecewaan para pendukung yang dinyatakan kalah, yakni kubu Prabowo. Puncak kekecewaannya diluapkan pada aksi damai tanggal 21 dan 22 Mei kemarin. Meskipun akhirnya aksi tersebut berakhir ricuh, dan menimbulkan beberapa orang luka-luka dan meninggal dunia.

Banyak label yang dilekatkan pada aksi tersebut dari gerakan People Power, Gerakan Kedaulatan Rakyat (GKR), sampai people power enteng-entengan. Label-label tersebut berasal dari Amien Rais yang merupakan pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga.

Alhasil sebagian masyarakat tergiring opini oleh apa yang dilakukan oleh Amien Rais tersebut. Ironisnya mengaca dari prosesi pemilu serentak kemarin menggambarkan Pancasila sebagai Ideologi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya sebatas formalitas saja.

Sejarah mencatat jika Pancasila lahir tak luput dari sebuah perdebatan panjang. Namun dengan pemikiran nasionalismenya para pendahulu kita berhasil menghasilkan pedoman Ideologi negara dalam sebuah kehidupan masyarakat yang beragam.

Kesadaran atas kebinekaan dan refleksi sila ketiga

Selain Pancasila, terdapat pula semboyan yang ditujukan untuk mempersatukan rakyat Indonesia. Kita mengenalnya dengan sebutan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.”

Oleh karena itu, seharusnya kesadaran atas kebhinekaan tak bisa ditawar-tawar lagi, karena dengan kesadaran tersebut akan mendorong sikap saling menghargai meskipun beda pilihan. Baik kubu 01 maupun kubu 02 semuanya pasti punya keinginan yang sama, yaitu kemajuan bangsa Indonesia. Yang harus kita lakukan sekarang ini adalah menggaungkan lagi sila ketiga yang seakan telah hilang.

Persatuan Indonesia berarti negara mengakui dan menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah kesatuan rakyat yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan latar belakang sejarah, budaya, agama dan kepercayaan yang berbeda. Maka negara (pemerintah) harus menjaga, memelihara dan memperkokoh persatun Bangsa Indonesia.

Negara memfasilitasi dan mendorong berdirinya partai-partai politik, organisasi, badan hukum dan perkumpulan apapun di Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk memperkuat persatuan rakyat dalam satu kesatuan, yaitu bangsa Indonesia. Boleh menjadi pendukung nomor 1, boleh juga menjadi simpatisan nomor 2, tetapi janganlah lupa nomor yang ke-3, yaitu persatuan Indonesia.

Kembali Fitri

Kita tahu, kurang dari satu minggu, umat islam akan merayakan hari kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa. Alangkah damainya jika pada Hari Raya Idul Fitri nanti kita juga bisa merefleksikan makna pancasila yang sebenarnya. Khususnya dalam hal persaudaraan dan persatuan Indonesia.

Berbeda pilihan, pendapat, pandangan, adalah hal biasa. Namun jangan sampai sebuah perbedaan itu terbelenggu pada sikap fanatisme yang menuju pada ruang perpecahan atau kehancuran.

Mengutip dari perkaataan K.H Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Indonesia ke-empat bunyinya “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian,”

Jika kita menoleh jauh ke belakang, banyak hal yang bisa kita pelajari dari para pendahulu kita. Salah satunya Gus Dur, sifat Gus Dur patut kita contoh, kepemimpinannya mengedepankan sikap toleran terhadap sesama. Gus Dur mengingatkan, jabatan itu tidak dibawa mati, tidak perlu sampai terjadi pertumpahan darah dari para pengikutnya. Itu pesan Gus Dur yang paling kuat saat ia dilengserkan dari jabatannya.

Melihat itu semua, kita sadar bahwa perlu kita sudahi pertikaian yang disebabkan fanatisme berlebihan pada prosesi pemilu kemarin. Jadikan refleksi dan evaluasi di dasari pada Ideologi kehidupan bangsa dan bernegara kita.

Lantas, sudahkan perilaku kita mencerminkan lima poin penting Pancasila itu?

Penulis: Rima Dian Pramesti

Melihat Egoisme Bekerja di Kasus Covid-19
3 Manfaat Menggambar untuk Atasi Stres
Mengingatkan Perjuangan Mahasiswa yang Belum Tuntas
Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Gaya Hidup
Yang Terjadi Saat Anak dan Orangtua Bergosip
TAGGED:artikel pancasilahari lahir pancasilaindonesia hari inimakna pancasila dan indonesia hari inirefleksi hari lahir pancasila
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
sps, sps awards, penghargaan sps, isma 2025, januar p ruswita
Nasional

Dorong Karya Berkualitas, SPS Kembali Adakan Penghargaan Pers 2025

Eka Rifnawati
24 Mei 2025
Ini Tuntutan KBMW tentang Keringanan UKT Akibat Pandemi Corona
Saksi Ruang Keluarga
Masih Ada Harapan, FDK Perpanjang Waktu Pendaftaran Munaqosah
Saat Mengunjungi Jogja, Ini 8 Tempat Wisata yang Bisa Kamu Kunjungi
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: [Refleksi Hari Lahir Pancasila] Makna Pancasila dan Keadaan Indonesia Hari Ini
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: [Refleksi Hari Lahir Pancasila] Makna Pancasila dan Keadaan Indonesia Hari Ini
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?