
Suatu waktu, di area pepohonan kampus yang tak serindang dulu, seseorang teman bercerita perihal nasib malangnya yang ditinggal kekasih. Dirinya sedih, bersendu dengan lirih. Kenangan-kenangan yang sudah tak ingin diutarakan, mulai ia buka satu-persatu untuk melepaskan lukanya bersamaan dengan air mata yang menetes dari kelopak matanya.
Dirinya mengaku sakit hati. Harapan besar atas hubungan yang telah dibangun kini harus berakhir dengan kekecewaan.
Temanku tentu bukan satu-satunya. Banyak manusia juga mengalami hal serupa. Kecewa atas apa yang diharapkannya.
Kenapa harus ada kekecewaan di atas harapan?
Kekecewaan itu muncul ketika kita menaruh harapan kepadanya. Seperti yang pernah dikatakan Fahruddin Faiz, seorang Dosen filsafat dari UIN Sunan Kalijaga. Dirinya mengatakan jika semakin besar harapan seseorang, maka semakin besar pula kekecewaan yang akan dialami orang itu.
Menurutnya, antara harapan dan kekecewaan merupakan satu paket komplet yang tidak bisa dipisahkan. Terlebih jika berharap kepada manusia. Seseorang bisa merasakan patah hati yang mendalam karena kecewa.
Hal tersebut serupa dengan kebanyakan orang yang mengalaminya, salah satunya yaitu teman saya. Banyak di antara mereka yang merasakan kekecewaan jika sebelumnya menaruh harapan yang amat besar.
Cemburunya Tuhan
Ketika seseorang menaruh harapan dan kasih sayang kepada orang yang disuka. Namun ternyata malah diduakan, tentu akan merasa kekecewaan yang amat besar. Hal itu berlaku juga pada Sang Pencipta.
Seorang teolog dan cendekiawan asal Arab pernah menuturkan:
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan atas kamu pedihnya sebuah pengharapan supaya engkau mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” –Imam Syafi’i.
Saya rasa hal tersebut sangat relevan jika direpresentasikan dengan kehidupan karena manusia saja akan merasa sangat cemburu bila diduakan, apalagi jika itu seorang hamba kepada Tuhannya.
Sebenarnya, jika harapan yang kita taruhkan kepada sesuatu itu sebanding, bahkan lebih kecil dengan harapan kita kepada Tuhan, layaknya harapan ibu pada masa depan anaknya, akan terus bersanding pula harapan ibu menggandeng Tuhan. Lain halnya jika harapan menduakan Tuhan, rasa kekecewaannya sebanding dengan cemburunya Tuhan.
Nur Rzkn


