
Merantau bukanlah kata asing di kalangan mahasiswa, memilih untuk kuliah dan hidup di tempat baru sudah menjadi budaya mahasiswa. Tak sedikit pelajar di Indonesia memilih untuk merantau guna menggapai cita-citanya.
Meninggalkan kebiasaan dan memulai kehidupan baru kiranya kalimat yang cocok untuk mewakili mahasiswa rantau. Mereka juga harus mempunyai pertahanan yang kuat untuk menghadapi hal tak terduga.
Hidup di lingkungan, budaya, dan peraturan yang baru mengharuskan diri untuk beradaptasi, mampu menyesuaikan diri saat berbicara dan bersikap serta berbaur dengan masyarakat sekitar.
Di bawah ini Amanat.id telah merangkum lima manfaat merantau.
1. Lebih mandiri
Mahasiswa yang hidup di perantauan tidak lagi bergantung kepada keluarga maupun teman, melakukan semuanya sendiri bahkan ketika sakit pun merawat diri sendiri. Artinya, mereka sudah hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Sikap mandiri bisa dikategorikan menjadi dua, mandiri secara materi dan mandiri secara kepribadian. Mandiri materi adalah mampu mengelola kebutuhan hidup tanpa bergantung pada siapa pun. Sedangkan mandiri secara pribadi adalah mampu untuk mengatur hidup, menangani masalah, dan percaya kepada diri sendiri.
2. Kemampuan manajemen yang baik
Di rumah, semua aktivitas biasanya berjalan teratur, ada keluarga yang mengingatkan dan memberi perhatian kepada segala aktivitas yang dijalankan.
Lain halnya ketika hidup di perantauan, mahasiswa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Mahasiswa rantau wajib memiliki kemampuan mengatur segala kegiatan miliknya dengan mandiri.
Selain itu, hal yang riskan terjadi adalah ketika tidak bisa mengatur waktu dan keuangan dengan baik, karena keduanya adalah hal penting agar bisa bertahan di perantauan.
Dengan memperhitungkan keuangan yang dibutuhkan, diri akan terlatih untuk menerapkan manajemen keuangan agar tetap seimbang.
3. Memahami arti hidup
Serba-serbi merantau membawa cerita menarik ke dalam hidup mahasiswa. Menjalani hidup yang tidak sesederhana kuliah, makan, tidur saja. Harus bisa melawan rasa malas, insecure, takut tertinggal, dan perasaan negatif yang hadir selama hidup sebagai mahasiswa.
Tidak ada tempat bersandar selain percaya pada diri sendiri. Rasa cemas dan khawatir selalu muncul di tengah perjalanan, mengingat orang-orang tersayang yang mendukung dan memberi harapan penuh terhadap kita.
Mulai memahami bahwa hidup ini sangat berarti bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan orang terdekat. Di saat masa sulit datang, teman dan keluarga bisa saja memberikan bantuan, semangat, dan dukungan.
Namun, tetap saja diri yang mampu mengendalikannya, dengan tujuan, harapan, dan impian menjadi motif hidup yang sebenarnya.
4. Lebih bersyukur
Hidup di daerah orang dengan segala fasilitas dan kebutuhan yang terpenuhi memunculkan rasa syukur dalam diri. Hari-hari menjadi anak rantau dengan mensyukuri hal sekecil apa pun, sekedar kotak nasi yang didapat di acara pengajian saja sudah membuat hati merasa senang.
Banyak hal-hal yang membuka mata dan pikiran, sehingga menimbulkan rasa syukur. Hidup di lingkungan asing dan mendapat teman baru, suasana baru, makan dan minum bisa terpenuhi, fasilitas kuliah memadai, rasanya bagaikan menjadi mahasiswa yang sangat beruntung.
5. Menghargai keberadaan keluarga
Keluarga adalah bagian terpenting dalam diri seseorang, tempat menampung segala permasalahan yang ada dan tempat kembali ketika berada di tengah problematik kehidupan.
Mungkin ketika berada di satu ruang bersama keluarga akan terasa biasa. Namun, akan berbeda rasanya saat jauh dan tidak satu atap lagi. Rasa kehilangan dan kesepian seketika menerpa.
Momen seperti inilah yang menjadikan peran keluarga sangat berharga ketika menjadi mahasiswa rantau. Sikap tak acuh seketika hilang di perantauan, sejalan dengan rasa menghargai keberadaan keluarga pada hidup kita.
Nita Putri A.


