
Amanat.id– Belum lama ini, sosial media diramaikan dengan banyaknya akun mengatasnamakan kampus dengan isi konten yang menampilkan objek fisik mahasiswanya, Kamis (30/10/2025).
Tak terkecuali Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Di media sosial, khususnya TikTok banyak bermunculan akun seperti @uinws.cantik, @uinws.ganteng, @uinws.musang, yang menampilkan fisik mahasiswa tanpa tujuan yang jelas. Bahkan @uin.ws.hiking, @uinws.aktivis, dan @uinws.racing pun ikut meramaikan Fyp TikTok.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) UIN Walisongo, Ahmad Jangki Dausat menyebutkan munculnya fenomena tersebut hanya berfokus pada penampilan fisik belaka.
“Sisi negatif dalam fenomena ini mungkin menurut saya terletak pada esensi konten tersebut hanya berfokus pada tampilan fisik,” ujarnya saat diwawancarai secara langsung, Kamis (30/10).
Menurutnya adanya fenomena akun kampus cantik atau ganteng hanya menjadi objek komoditas di ruang digital.
“Fenomena ini sangat mengobjektivikasi seseorang hanya menjadi sebuah komoditas, nilai individu hanya didasarkan pada bagian tubuhnya,” ucapnya.
Ia memaparkan bahwa fenomena tersebut menyebabkan bergesernya makna mahasiswa.
“Mengabaikan seperti kepribadian, kecerdasan, dan nilai setiap individu seutuhnya. Adanya akun seperti itu hanya memfokuskan dalam hal kriteria fisik, seperti ‘uin ws cantik maupun uin ws ganteng’ di sini adanya fokus tunggal penyempitan makna,” paparnya.
Lanjutnya, pergeseran makna mahahsiswa tersebut menimbulkan adanya standar kecantikan di lingkungan perkuliahan.
“Dalam hal ini bisa memperkuat bahwasanya setiap individu hanya dijadikan sebagai objektivikasi ketika seorang mengomentari konten. Mereka hanya mereduksi nilai sebatas fitur fisik, seperti ketika hanya melihat dari matanya yang cantik,” ujarnya.
Jangki juga menjelaskan dampak psikologis dari adanya fenomena tersebut adalah kecenderungan untuk mencari validasi di ruang digital.
“Mungkin bisa dikatakan ketidakseimbangan eksistensialisme. Ketika seorang individu merasa nilainya tidak cukup untuk diakui di dunia nyata, mereka cenderung beralih mencari validasi dengan cara yang lain di ruang digital,” jelasnya.
Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Atika Dwi Puspita menyebutkan banyaknya akun kampus cantik atau ganteng dapat merusak citra UIN Walisongo sebagai perguruan tinggi Islam.
“Jika dikelola dengan baik dan berisi konten positif tidak masalah, tetapi jika isi kontennya tidak mencerminkan etika atau nilai kampus bisa menimbulkan kesalahpahaman bahkan bisa merusak citra UIN Walisongo di mata publik,” ujarnya, Rabu (29/10).
Menurutnya adanya akun yang mengatasnamakan kampus berpotensi untuk disalahgunakan.
“Saya sempat melihat juga dari salah satu akun tersebut dikenakan biaya jika ingin mengunggah postingan di akun tersebut, jadi dari pandangan saya kesannya mencari peluang untuk keuntungan pribadi,” katanya.
Ia menjelaskan fenomena tersebut dapat mengarah pada konsumsi objek fisik seseorang ke hal yang negatif.
“Mereka yang membuat akun-akun seperti itu hanya fokusnya ke fisik dan parasnya saja. Hal-hal seperti itu hanya sebagai objek kesenangan semata, bisa memicu hal negatif tergantung pandangan dan persepsi orang-orang yang melihat konten tersebut,” jelasnya.
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Rachel (bukan nama sebenarnya) merasa adanya tren tersebut tidak sesuai dengan UIN Walisongo sebagai kampus Islam.
“Menurut saya agak aneh karena pandangan saya atau banyak orang lembaga pendidikan seperti universitas apalagi dengan embel-embel islam,” imbuhnya, Rabu (29/10).
Ia juga mengatakan adanya akun tersebut berpotensi menjadikan mahasiswa sebagai objek fisik.
“Menurut saya akan ada objektivikasi secara fisik. Kita tidak tahu motif dari pemegang akun itu seperti apa. Dugaan saya hanya sebatas lelucon aja. Bahan jenakaan biasa,” katanya.
Ia mengkhawatirkan adanya pencurian data pribadi di akun yang mengatasnamakan UIN Walisongo.
“Tidak bisa dipungkiri di media sosial itu apapun bisa terjadi. Tuntutan viral dan like. Itu juga menjadi kekhawatiran saya, ditakutkan nanti adanya kesengajaan maupun tidak untuk mencomot atau mengambil foto tanpa izin,” tutupnya.
Belum lama ini juga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (UNDIP) pun mulai resah terhadap akun anonim yang mengatasnamakan kampus. BEM UNDIP sendiri sudah membuat pernyataan sikap di akun instagram resminya.
Sejak Rabu, (29/10) tim Amanat.id telah mencoba menghubungi Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo, Muhammad Mu’tasim Billah untuk dimintai keterangan. Namun, tidak digubris hingga berita ini diterbitkan.
Reporter: Moehammad Alfarizy



