
Berada di wilayah ketinggian 0,75-348 meter di atas permukaan laut (MDPL), Kota Semarang menyimpan rekap perjalanan panjang pergerakan tanah. Kota ini memiliki wilayah dataran rendah dan tinggi yang sudah terbentuk puluhan ribu lamanya. Meski mendapat julukan Kota yang Aman, Tertib, Lancar, dan Sehat (ATLAS), Kota Semarang tak terlepas dari bahaya bencana alam yang mengintai setiap saat. Salah satunya sesar atau yang lebih dikenal dengan julukan tanah gerak di wilayah Kota Semarang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) sesar adalah kata kerja yang berarti pindah atau beralih tempat sedikit; bergeser. Hal ini selaras dengan penuturan dari Sonny Aribowo, periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menjelaskan bahwa sesar aktif setidaknya bergerak satu kali dalam sebelas ribu tahun.
Sesar di Kota Semarang terjadi karena adanya aktivitas lempeng tektonik yang berlangsung ribuan tahun lamanya. Sehingga, secara struktur geologi, Kota Semarang termasuk sesar aktif. Terlebih Semarang berada di Pulau Jawa yang menjadi tujaman Lempeng Eurasia di utara dan Lempeng Indo-Australia di selatan. Di mana Lempeng Eurasia bergerak ke tenggara, sedangkan Lempeng Indo-Australia yang berada di selatan bergerak ke utara dan menunjam ke bawah sistem busur kepulauan Sumatra dan Jawa (Trenggoning, 1994). Akibat tujaman ini terbentuklah struktur-struktur geologi regional di wilayah daratan Jawa.
Di Kota Semarang terdapat sesar Kaligarang yang membagi wilayah Semarang Barat dan Semarang Timur. Sesar ini sudah aktif sejak zaman Terisier hingga Kuarter. Pengukuran dan analisis yang dilakukan menghasilkan data lapangan yang menunjukkan bukti-bukti adanya sesar aktif di sekitar Kota Semarang (Poedjoprajitno, 2008). Struktur undak beserta gawir-gawir sesar dan alur sungai terpotong (offset) merupakan bagian dari bukti bahwa tektonika masih berlangsung di wilayah ini. Zona utama Sesar Kaligarang mempunyai kinematik pergerakan sesar geser mengiri (Fahrudin, 2011).
Sesar mempunyai bentuk dan ukuran dimensi yang berbeda-beda, mulai dari beberapa sentimeter saja hingga dapat mencapai ratusan kilometer panjangnya.
Sesar aktif dengan pergerakan kecil bisa saja mengakibatkan kerusakan seperti jalan, bangunan, atau infrastruktur lainnya. Di tahun 2025, Kota Semarang pernah mengalami sesar yang cukup menggemparkan masyarakat, yaitu pada 20 Maret 2025 di ruas jalan tol Jangli, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Berdasarkan pantauan lapangan dari Kompas.com kedalaman akibat sesar ini mencapai 1 meter yang mengakibatkan beberapa rumah warga di sekitar sesar tersebut menjadi ambles.
Peristiwa ini merupakan fenomena deformasi, yaitu pergeseran wujud, lokasi, dan ukuran dari suatu materi baik secara absolut maupun relatif dalam suatu kerangka referensi terterntu akibat suatu gaya yang bekerja pada materi tersebut.
Sementara itu, sesar besar bisa mengakibatkan dampak yang lebih menyeramkan, seperti tanah longsor, gempa bumi hebat yang bisa melumpuhkan ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan sosial masyarakat.
Meski begitu, sesar yang terdapat di Kota Semarang tergolong ke dalam sesar yang kecil. Namun, sebagai masyarakat sudah sepatutnya mewaspadai jika sewaktu-waktu sesar tersebut aktif. Oleh karenanya mitigasi bencana baik dari masyarakat, pemerintah, atau akademisi perlu dilakukan untuk menghindari hal-hal buruk yang bisa terjadi di kemudian hari.
Penulis: Saskia R. N.


