
Amanat.id- Sampah kerap berserakan setelah prosesi Wisuda periode November di sekitar area Auditorium II, Kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Sabtu (7/11/2026).
Salah satu Petugas kebersihan UIN Walisongo, Bayu Setiawan mengaku kecewa terhadap perilaku wisudawan yang membuang sampah sembarangan.
“Saya kecewa dengan wisudawan yang masih buang sampah sembarangan, kepedulian terhadap lingkungan masih sangat kurang,” akunya.
Ia juga menyayangkan kurangnya ketegasan pihak universitas terhadap pedagang yang nekat berjualan di area kampus UIN Walisongo.
“Ada peraturan yang melarang pedagang masuk, tapi nyatanya banyak yang lolos ke dalam. Itu juga yang membuat sampah semakin banyak,” ujarnya.
Bayu menambahkan, pedagang dapat dikumpulkan di satu tempat agar sampah lebih mudah dibersihkan.
“Mungkin bisa dipindahkan di tempat yang sama agar tidak menyebar di semua fakultas, jadi membersihkan sampahnya lebih mudah,” tambahnya.
Ia berharap kampus dapat menambah fasilitas tempat sampah dan tambahan petugas kebersihan agar pembersihan lebih efektif.
“Saya harap tempat sampah diperbanyak dan personel di tambah agar pekerjaan lebih efisien tanpa kerepotan,” harapnya.
Wisudawan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Taufiqillah menuturkan sampah yang berceceran rata-rata sampah plastik.
“Sampah kantong plastik, botol, dan bungkus jajanan sering ditinggalkan berantakan di area kampus 3,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa membuang sampah pada tempatnya merupakan kesadaran diri menjaga lingkungan.
“Saya selalu bawa sampah saya sampai menemukan tempat sampah terdekat untuk membuangnya, hal tersebut merupakan kesadaran pribadi dalam menjaga lingkungan tetap bersih,” tegasnya.
Taufiq menjelaskan jumlah tempat sampah yang disediakan di area wisuda belum memadai.
“Menurutku jumlah tempat sampahnya masih kurang karena volume orang yang datang juga besar, jadi perlu tambahan tempat sampah di beberapa titik,” jelasnya.
Serupa dengan Taufiq, Wisudawan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) FTIK, Alima menyayangkan fasilitas tempat sampah yang kurang layak untuk momen wisuda.
“Fasilitasnya kurang lengkap apalagi di momen wisuda. Jumlah sampah bertambah karena yang jajan bukan hanya mahasiswa,” ujarnya.
Ia menuturkan perlunya kantong plastik di dalam Auditorium agar wisudawan tidak kesulitan membuang sampah.
“Kedepannya bisa diberi kantong plastik tiap saf kursinya supaya wisudawan lebih mudah membuang sampah, karena tidak memungkinkan kalau membuang keluar waktu prosesi wisuda,” tuturnya.
Berbeda dengan Alima, Wisudawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Anisa Nur menilai penempatan tempat sampah di dalam Auditorium tidak memungkinkan, namun penambahan tong sampah perlu dilakukan.
“Harusnya terdapat penambahan tong sampah di sekitar area wisuda yang mudah dijangkau banyak orang, kalau di dalam itu tidak memungkinkan.” ujarnya.
Ia menerangkan kesadaran membuang sampah pada tempatnya merupakan kebiasaan yang sudah terlatih dan terbentuk dalam diri.
“Kesadaran membuang sampah di tempatnya itu tergantung kebiasaan masing-masing. Kalau sudah terbiasa otomatis jaga sampahnya sampai lihat tempat sampah, tapi kalau terbiasa meninggalkan sampah karena berpikir nanti bakalan ada yang bersihin juga bakalan keterusan kayak gitu,” pungkasnya.
Reporter: Putri Natasya Islamadina
Editor: Azkiya Salsa Afiana

