Selin Aydin Tekankan Kampanye Komunikasi Inklusif untuk Melawan Islamophobia

Selin Aydin dalam seminar yang diselenggarakan FDK Walisongo menekankan pentingnya kampanye komunikasi inklusif untuk melawan Islamophobia dan membangun moderasi beragama

5 Min Read
Selin Aydin sedang menyampaikan materi dalam Seminar Internasional FDK di Gedung Teater Perpustakaan Kampus 3 UIN Walisongo, Selasa (13/10/2026). (Dok. Khusus).
selin aydin, uin walisongo, seminar internasional fdk. komunikasi inklusif, moderasi beragama
Selin Aydin sedang menyampaikan materi dalam Seminar Internasional FDK di Gedung Teater Perpustakaan Kampus 3 UIN Walisongo, Selasa (13/10/2026). (Dok. Khusus).

Amanat.id- Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo menggelar Seminar Internasional bertema “Public Relations Campaigns for Inclusion, Countering Islamophobia and Advancing Religious Moderation” di Gedung Teater Perpustakaan Kampus 3, Selasa (13/10/2026).

Acara tersebut menghadirkan Kepala Staf Penasihat Kebijakan di Dewan Perwakilan Berlin, Jerman, Selin Aydin sebagai pembicara utama.

Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya kampanye komunikasi inklusif sebagai strategi utama untuk melawan Islamophobia.

Selin menjelaskan bahwa sebagian masyarakat di negara-negara Barat masih memandang Islam melalui stereotip negatif yang keliru.

“Kebanyakan orang Eropa memandang muslim sebagai ancaman karena berbagai kasus terorisme yang terjadi,” ujarnya.

Menurut Selin, identitas Muslim kerap memengaruhi penerimaan seseorang di lingkungan sosial mereka. Ia mencontohkan penggunaan nama yang identik dengan Islam atau atribut keagamaan sering memicu perlakuan diskriminatif.

“Ketika kamu memiliki nama seperti ‘Muhammad’, kamu akan lebih sulit untuk diterima di sana. Sebagian masyarakat di sana juga masih menghubungkan identitas Jilbab dengan tindakan terorisme. Orang berjilbab langsung dicap sebagai teroris,” ungkapnya.

Selin turut menjelaskan bahwa situasi politik dan konflik internasional, termasuk perang di Gaza, dapat memperburuk sentimen Islamofobia di tingkat global. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa prasangka terhadap umat Islam sangat dipengaruhi oleh cara masyarakat memahami peristiwa geopolitik yang terjadi.

“Ketika terjadi perang di Gaza, Islamofobia di sana semakin meningkat,” tambahnya.

Prasangka tersebut bukan hal baru bagi Selin. Ia membagikan pengalamannya ketika masih kecil, tepat setelah peristiwa 11 September 2001 terjadi di Amerika Serikat. Saat itu, ia mendapat pertanyaan menghakimi dari teman-teman sekolahnya mengenai tindakan kelompok radikal yang dikaitkan dengan agamanya.

“Teman saya pernah berkata ‘Golonganmu itu kenapa sampai berbuat begitu?’,” tuturnya.

Pengalaman tersebut sempat membuat Selin bingung dan mempertanyakan situasi yang dihadapinya kepada orang tua.

“Saya bertanya kepada orang tua saya ‘sebenarnya apa yang kita lakukan?’. Orang tua saya menjawab singkat, ‘Kita tidak melakukan apa pun’,” kenangnya.

Berangkat dari pengalaman masa kecil tersebut, Selin menyadari bahwa menghadapi prasangka membutuhkan penjelasan yang konsisten agar orang lain tidak terus-menerus memahami umat Islam melalui stereotip negatif.

“Yang bisa saya lakukan hanyalah terus menjelaskan (explain),” ungkapnya.

Untuk membangun pemahaman yang adil, Selin bersama kelompoknya di Jerman menjalankan gerakan nyata melalui kampanye bertajuk “Eine von Uns”, yang berarti “One of Us” atau “Salah Satu dari Kita.”

Kampanye tersebut membawa pesan kuat bahwa umat Muslim merupakan bagian utuh dari masyarakat dan tidak seharusnya dipandang sebagai kelompok yang terpisah.

Dalam merancang sebuah gerakan komunikasi, Selin memaparkan empat aspek krusial yang wajib diperhatikan dalam perencanaan kampanye.

“Pertama audience, yaitu memahami siapa sasaran kampanye dan masalah yang sedang mereka hadapi,” terangnya.

Selanjutnya terdapat aspek tujuan untuk menentukan fokus arah tindakan kampanye.

“Objective (Tujuan). Menentukan fokus pemahaman atau tindakan nyata apa yang ingin dicapai agar memberikan konteks yang tepat,” ujarnya.

Selin melanjutkan, terdapat aspek partisipasi dan evaluasi untuk mendukung tercapainya sebuah kampanye.

“Memberikan ruang dan kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat aktif, serta melakukan evaluasi unruk mengukur pemahaman yang telah disampaikan,” lanjutnya.

Selin menegaskan bahwa model kampanye yang mengedepankan multiperspektif ini sangat relevan jika diterapkan di Indonesia yang memiliki keberagaman suku, etnis, dan agama.

“Indonesia memiliki berbagai etnis, jadi hal tersebut dapat dilakukan di Indonesia dengan mendengarkan semua pihak. Kita harus cermat memilih media sosial, karena percakapan di sana dapat memperlihatkan beragam pandangan dan persoalan yang berkembang,” jelasnya.

Melalui seminar internasional tersebut, praktik Public Relations (PR) diharapkan bisa menjadi jembatan utama dalam mengikis sentimen negatif.

“Maka dari itu pentingnya komunikasi yang inklusif. Tujuannya untuk mengurangi prasangka dan mendorong pemahaman yang lebih baik antarkelompok masyarakat,” pungkas Selin.

Reporter: Muhammad Rafan Zulhilmi (Cakruma SKM Amanat 2026)
Editor: Nur Rofiqoh Nabila

Share This Article
Surat Kabar Mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Untuk mahasiswa dengan penalaran dan takwa.