By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nyala Perlawanan dalam “Lagu Hidup”
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Lagu Hidup, Esai lagu hidup, Bagus Dwi Danto, Makna lagu hidup, Esai Lagu
Tangkap layar poster "Lagu Hidup", Sabtu (12/12/2024).
Esai

Nyala Perlawanan dalam “Lagu Hidup”

Last updated: 11 Desember 2024 12:47 am
Kasyfillah Avecinna Lazuardin
Published: 12 Desember 2024
Share
SHARE
Lagu Hidup, Esai lagu hidup, Bagus Dwi Danto, Makna lagu hidup, Esai Lagu
Tangkap layar poster “Lagu Hidup“, Sabtu (12/12/2024).

Kita akan s’lalu butuh tanah
Kita akan s’lalu butuh air
Kita akan s’lalu butuh udara
Jadi teruslah merawat

Begitu sederhana dan lugas penggalan lirik pembuka “Lagu Hidup” milik Bagus Dwi Danto. Hampir seperti kalimat percakapan sehari-hari, tetapi punya daya hantam yang telak.

“Lagu Hidup” adalah bagian dari album pertama bertajuk “Woh” yang dirilis Bagus pada 2017. Dalam relasinya dengan pendengar, lirik-lirik itu dihidupkan untuk memberitakan, menyindir, mengedukasi, hingga melayangkan teguran.

Bagus Dwi Danto seolah memosisikan dirinya sebagai sebuah manifesto kecil di mana tak ada metafora yang berlapis-lapis. Ia memilih menempatkan dirinya di tanah yang nyata, di antara orang-orang yang terlibat langsung dalam perjuangan menjaga hidup dan melawan keserakahan.

Jika kau masih cinta kawan dan saudara, jika kau masih cinta kampung halamanmu, jika kau cinta jiwa raga yang merdeka, tetap saling melindungi

Lewat lirik di atas, dalam setiap kelirihan nada dan kemerduan petikan gitarnya, ia seakan tidak berteriak lantang dari podium tinggi. Namun, berbisik keras dari sawah basah, jalan setapak yang diapit pohon-pohon, sungai kecil yang mulai dangkal, dan setiap pusat-pusat penderitaan yang hadir membawa nyali.

Bagus Dwi Danto secara eksplisit seolah berbisik langsung kepada para petani yang tengah berjaga di batas tanah dan aktivis yang kelelahan selepas hari panjang menghadang alat berat. Lirik tersebut hadir sebagai mantra penguat dan pengingat akan kebutuhan manusia yang paling purba, yaitu menjaga agar tanah tetap bisa diinjak, air tetap bisa diminum, dan udara tetap bisa dihirup. Tanpa itu semua, segala peradaban, teknologi, bahkan perjuangan, tidak ada artinya.

Alih-alih menyerukan kemarahan besar atau agitasi, penggalan lirik dalam “Lagu Hidup” justru dibawakan dengan nada yang lebih tenang, seolah berbisik keras.

Lihatlah, kita ini kecil, tapi apa yang mesti kita jaga begitu besar
Sedihmu adalah sedihku juga
Sakitmu, sakitku, sakit kita manusia

Dua lirik di atas betul-betul membawa pekeling yang kuat. Bagus Dwi Danto dengan lembut menawarkan pengingat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Manusia tidak pernah dirancang untuk hidup sendiri. Paham yang perlu ditanamkan dalam benak yakni, berbahagia di atas kesedihan banyak orang adalah sebuah kekelaman dan kesejahteraan di atas kemiskinan adalah jahat.

Di tengah agresi masyarakat modern yang sibuk menonjolkan individualitas, sibuk membangun tembok daripada jembatan, ia beranggapan bahwa pada dasarnya bio-organis manusia dirancang oleh alam demi organisme sosial bersolidaritas.

“Lagu Hidup” akan kerap terputar di panggung-panggung solidaritas penderitaan, bersuara bersama mereka yang suaranya tenggelam di bawah gemuruh kapitalisme dan keserakahan. Atau setidaknya, suaranya akan terus menggema di kamar-kamar kos pengap para aktivis mahasiswa. Kelak, bila ruang hidup manusia dilumuri keserakahan, kebencian, dan individualitas manusia masif dipertontonkan, maka tepat! “Lagu Hidup” adalah lawannya.

Kasyfillah Avecinna Lazuardin

Leonardo Da Vinci dan Pesan Optimismenya Pada Generasi Galau
Kesadaran Menulis dari Perjumpaan dengan Soesilo Toer
Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati
Fenomena LGBT di Indonesia
Tradisi Lebaran, Dari Baju Baru Hingga Ketupat dan Opor Ayam yang Harus Ada
TAGGED:bagus dwi dantoesai lagu hiduplagu hidupmakna lagu hidup. esai lagu
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Puisi

Barangkali

Fika Eliza
26 April 2019
Beberapa Olahraga yang Dapat Dilakukan Dalam Ruangan
Cerita Unik dari Juara Lomba Catur Orsenik 2019
Akibat Keputusan Penempatan Ma’had, 321 Camaba Terancam Tidak Lanjutkan Kuliah
Gelar Annadwah al-Lugowiyah, UKM-U Nafilaah Ingin Hidupkan Bahasa Arab di UIN Walisongo
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nyala Perlawanan dalam “Lagu Hidup”
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Nyala Perlawanan dalam “Lagu Hidup”
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?