By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nani Wartabone: Tokoh Proklamator yang Terlupakan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Nani Wartabone: Tokoh Proklamator yang Terlupakan

Last updated: 10 November 2024 9:22 am
Redaksi SKM Amanat
Published: 10 November 2024
Share
SHARE
Nani Wartabone, Pahlawan Indonesia, Tokoh proklamator, Pahlawan dari Gorontalo, Perjuangan Nani Wartabone, Sang proklamator dari timur
Patung Nani Wartabone sebagai ikon di kota Gorontalo (TRIBUNnews.com).

Saat mendapat pertanyaan mengenai tokoh proklamator Indonesia, kebanyakan orang akan menjawab dengan yakin Sukarno dan Hatta. Jawaban tersebut tidak sepenuhnya salah, karena memang kedua tokoh tersebut menjadi aktor penting dalam pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Namun, sebenarnya jauh sebelum Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan, ada anak daerah Gorontalo yang lebih dulu memproklamasikan kemerdekaan, dialah Nani Wartabone.

Nani Wartabone lahir di keluarga yang terpandang, ayahnya seorang aparatur pemerintah Hindia Belanda dan ibunya keturunan salah satu kerajaan di Gorontalo. Sehingga secara otomatis ia memiliki privilese untuk bersekolah. Kendati demikian, Nani dikenal sebagai anak pemberontak di sekolah. Ia menilai bahwa para gurunya terlalu mengagungkan bangsa Belanda. Dari sinilah jiwa nasionalisme Nani Wartabone terbentuk.

Gerakan dalam perjuangan kemerdekaan Nani mulai saat dirinya migrasi ke Surabaya untuk menemani sang Ibu berobat. Nani pun mengawali gerakannya dengan merintis organisasi bernama Jong Gorontalo pada 1923. Kemudian, Nani Wartabone bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) serta menjadi Ketua Cabang pada 1928 dan saat bersamaan ia juga mendirikan organisasi Partai Indonesia (Partindo), walaupun setelahnya dibubarkan karena adanya masalah internal.

Perjuangan Nani Wartabone terus berlanjut dengan masuknya dalam organisasi Muhammadiyah. Ia gencar menyebarkan ajaran Islam sekaligus menanamkan rasa nasionalisme kepada masyarakat. Pada tahun 1941, ia membangun Komite 12 yang bertujuan untuk menghadapi Perang Pasifik.

Puncak dari perjuangannya adalah ketika Nani Wartabone memimpin aksi pemberontakan kepada pemerintahan Belanda yang sedang melemah karena kedatangan pasukan Jepang. Ia menyandera para pejabat Belanda dan juga menurunkan bendera Belanda serta menggantinya dengan bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya.

Nani Wartabone menegaskan bahwa bangsa Indonesia terkhusus yang ada di Gorontalo sudah merdeka dari kolonial. Nani bergerak cepat, sore harinya ia membentuk Pucu Pimpinan Pemerintahan Gorontalo yang berperan sebagai Badan Perwakilan Rakyat.

Dalam kesempatannya, Nani Wartabone memberikan orasi yang penuh dengan semangat. Ia mengatakan dengan lantang bahwa bangsa Indonesia yang berada di Gorontalo sudah merdeka dan bebas dari penjajahan serta pemerintahan telah diambil alih oleh pemerintah nasional. Nani Wartabone juga menegaskan bahwa tugas setelah ini adalah menjaga keamanan dan ketertiban bangsa.

Namun, perjuangan Nani Wartabone terhenti saat ia dipenjarakan di Manado oleh Pemerintah Jepang dan baru bebas pada 1944. Setelahnya Nani Wartabone menjabat sebagai pemimpin Gorontalo.

Nani Wartabone meninggal di usianya yang ke-89 bersamaan dengan berkumandangnya azan salat Jumat pada 3 Januari 1989. Ia meninggal bukan sebagai pejabat, melainkan petani yang tinggal di desa terpencil.

Atas jasanya, pemerintah menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada 6 November 2003 dan mendapat julukan sebagai “Sang Proklamator dari Timur“. Kendati demikian, namanya seolah tak pernah terdengar dan dibahas dalam buku dan diskusi sejarah.

Penulis: Hikam Abdillah
Editor: Rizkyana Maghfiroh

Ita Martadinata dan Pemerkosaan Massal 1998: Fakta yang Dirabunkan dari Penulisan Ulang Sejarah Indonesia
Beda Makna Lebaran dengan Idul Fitri
Diet yang Salah Itu Tidak Baik, tetapi Tidak Ingin Diet Itu Kesalahan
5 Karakter yang Harus Kamu Pahami Sebelum Jadi Relawan
Kekuasaan di Atas Kemanusiaan
TAGGED:nani wartabonepahlawan dari gorontalopahlawan indonesiaperjuangan nani wartabonesang proklamator dari timurtokoh proklamator
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Training of Teaching Wujudkan Guru PAI yang Profesional dan Berkarakter

Yuni Nur Hidayati
24 November 2017
Wisudawan Terbaik FUHUM, Kaitkan Isu Toleransi dengan Peristiwa di Al-Zaytun
Perluas Akses Pendidikan, FISIP UIN Walisongo Rencanakan Bentuk Tiga Prodi Baru
Beredar Informasi KKN ‘Hantu’, LP2M Angkat Bicara
Mahasiswa UIN Walisongo Adakan Pelatihan Pengolahan Ikan Lele
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Nani Wartabone: Tokoh Proklamator yang Terlupakan
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Nani Wartabone: Tokoh Proklamator yang Terlupakan
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?