
Amanat.id– Puluhan motor berjejer di sepanjang bahu jalan hingga halaman depan Gedung Mahad II Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Rabu (4/6/2025).
Halaman depan Gedung Mahad II kini berubah menjadi lahan parkir bagi beberapa mahasiswa yang sedang menjalankan program wajib mahad.
Kepala Bagian (Kabag) Umum, Muhammad Munif menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena tidak adanya regulasi larangan membawa kendaraan pribadi.
“Mahad itu tidak punya lahan parkir, dari kepala mahad sendiri juga tidak memberikan larangan bawa motor bagi santri, itu sebabnya banyak banyak kendaraan tidak tertib dan kacau,” ujarnya saat diwawancarai tim Amanat.id, Rabu (4/6).
Ia menyebutkan bahwa lahan parkir yang berada di area Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) maupun Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) tidak diperuntukkan bagi santri.
“Parkir yang berada di area FITK maupun FUHUM itu memang bukan untuk santri,” sambungnya.
Ia menegaskan birokrasi akan berencana untuk membuat lahan parkir di lingkungan Mahad UIN Walisongo.
“Kami menginginkan untuk membuat lahan parkir yang layak dan aman, tetapi belum dapat direalisasikan secara riil karena tidak adanya perintah dan anggaran yang tidak cukup akibat efiesiensi,” ujarnya.
Munif memaparkan bahwa penertiban parkir bisa dilakukan dengan kebijakan larangan membawa kendaraan pribadi.
“Penertiban bisa dilakukan melalui kebijakan, jadi mahasiswa yang berada di mahad dilarang membawa kendaraan,” katanya.

Lanjutnya, parkir berbayar juga bisa diterapkan agar parkir di kawasan UIN Walisongo menjadi tertib.
“Parkir berbayar dapat diterapkan sebagai penertiban, tidak hanya di lingkungan mahad tetapi juga seluruh UIN Walisongo,” lanjutnya.
Munif berpesan untuk bersabar mengenai pemeliharaan sarana dan prasarana karena kendala anggaran.
“Kami ini menganalisa, sekiranya anggaran ada untuk pemeliharan bangunan dan lingkungan akan kami eksekusi. Kalau sekarang belum itu karena anggarannya juga yang belum ada. Jadi mohon semua mohon bersabar,” ucapnya.
Menggapi hal tersebut, mahasiswa Program Studi (Prodi) Ekonomi Islam, Bahrul Alam menyampaikan bahwa parkir yang tidak teratur di lingkungan mahad menganggu mobilitas staf dan pengurus.
“Kalau untuk mahasiswa ini tidak menganggu, kecuali staf dan pengurus mahad seperti petugas kebersihan dan pihak katering,” ujarnya, Senin (4/6).
Menurut Alam, tidak adanya kebijakan yang jelas berpengaruh pada kacaunya parkir bagi mahasiswa program mahad.
“Tidak pernah ditekankan kebijakan untuk melarang membawa kendaraan pribadi dari pengurus, jika ada pastikan yang parkir di depan mahad sudah mendapat teguran,” ucapnya.
Ia mengatakan bahwa pihak kampus juga tidak menyediakan fasilitas parkiran yang cukup dan layak bagi mahasiswa program mahad.
“Pihak kampus tidak menyediakan fasilitas yang cukup. Memang betuk sudah ada parkiran, tetapi itu terbatas, bahkan parkiran khusus santri pun tidak ada,” katanya.
Senada dengan Alam, mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), M. Nazhif Hidayat juga menyayangkan tidak adanya parkiran khusus yang berada di mahad.
“Parkiran khusus mahad itu tidak ada, sedangkan tempat parkir yang sudah disediakan tidak muat. Pada akhirnya banyak santri untuk memilih parkir di depan gedung hingga ke bahu jalan,” tuturnya.
Reporter: Dinda Alfiani
Editor: Moehammad Alfarizy


