By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Johan Cruyff dan Perjuangan Hak-Hak Pekerja
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Esai

Johan Cruyff dan Perjuangan Hak-Hak Pekerja

Berbagai upaya yang dilakukan Johan Cruyff sebagai bentuk perjuangan hak-hak pesepakbola menjadi pekerjaan resmi

Last updated: 12 Juni 2026 7:59 pm
Moehammad Alfarizy
Published: 12 Juni 2026
Share
SHARE
johan cruyff, perjuangan hak pekerja, sepak bola, barcelona, world cup 2026
Potret gerakan meliuk Cruyff menyihir pertahanan Argentina di perempat final Piala Dunia 1974. (www.gettyimages.com).

Dari melawan tirani Franco di Spanyol hingga proyek ambisius La Masia. Cruyff bukan hanya sekadar legenda, ia adalah penjelmaan revolusi sepak bola itu sendiri. Jika dunia mengingat nama Socrates, bek tengah brazil yang memperjuangkan demokrasi melalui klub Santos F.C maka Cruyff turut mewarisi daya juangnya di Catalan. Sejak kepergiannya dari Ajax Amsterdam ke Barcelona tahun 1973, Cruyff tak hanya bermain sepak bola tetapi menolak tunduk di bawah rezim Franco yang militeristik.

Contents
Mazhab Total Football dan Proyek Ambisius La MasiaPerjuangan Melawan Industri Sepak Bola

Skor kemenangan 5-0 di Camp Nou saat debut pertamanya merupakan pukulan telak bagi rezim Franco. Real Madrid yang menjadi representasi bagi kediktatoran Spanyol harus takluk di bawah keindahan visi bermain dan sikap bengal anak dari Amsterdam. Musim 1973/1974, secara ajaib Cruyff mampu membawa Barcelona memenangkan trofi LaLiga setelah beberapa kali didominasi oleh Real Madrid.

Hanya dalam waktu 90 menit, Johan Cruyff berhasil membangkitkan gairah dan semangat nasionalisme dibanding politisi manapun yang memperjuangakan kemerdekaan Catalan di bawah tekanan rezim Franco. Musim-musim setelahnya begitu berat bagi Barcelona karena hanya memenangkan Copa del Rey di musim 1977/1978. Menjelang final piala dunia tahun 1978, Belanda bermain tanpa Johan Cruyff. Banyak spekulasi pemberitaan di media massa menyebut ia diancam oleh pemerintahan militer Argentina supaya tidak ikut serta.

Belanda tunduk di bawah kaki Mario Kempes seperti yang digambarkan oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir edisi pertama sebagai pribadi yang sabar ketika dilanggar oleh musuh, ia bangkit dan terus menggiring bola. Entah Kempes sadar bahwa ia sedang di bawah rezim militer karena memang tak ada pilihan lain untuk melanjutkan pertandingan.

Mazhab Total Football dan Proyek Ambisius La Masia

Revolusi total football Johan Cruyff memandang sepak bola bukan sebagai bentuk yang kaku. Ia mengkritisi sistem permainan lama yang hanya fokus pada strategi menyerang dan bertahan tanpa ada variasi taktik lainnya. Bagi Cruyff sepak bola semacam menjadi teks yang dinamis sebagaimana Derrida memandang demikian. Sepak bola selama ini berdiri di atas logosentrisme pemain bintang di beberapa klub-klub saat itu.

Permainan sepak bola klasik familiar menggunakan catenaccio Italia yang lebih defensif. Dalam total football ruang didefinisikan sebagai sesuatu yang cair. Permainan oper-operan pendek dari kaki ke kaki hingga membentuk serangan. Cruyff melalui warisan dari taktik khas belandanya mendekonstruksi posisi pemain. Jika dalam sepak bola klasik fokus antara penyerang dan bek, maka dalam total football semua pemain memiliki peran penting dalam menjalankan taktik.

Cruyff menentang gaya permainan lama yang terlalu sentral pada satu pemain atau mengumpulkan pemain bintang dalam satu klub seperti Real Madrid. Ketika ia menjadi pelatih kepala Barcelona tahun 1988, hal pertama yang dilakukan ialah merombak kurikulum La Masia yang sudah usang. Cruyff turut membawa mazhab total football dari Ajax Amsterdam secara praksis diterapkan dalam skema permainan Barcelona yang kelak dikenal dengan sebutan tiki-taka.

Mazhab total football tak lahir dari ruang yang nyaman. Kilas baliknya total football tercipta dari kondisi sosial politik di Amsterdam. Tahun 1960an Amsterdam tersulut api konflik ideologi, antara konservatisme dan golongan anak muda progresif yang dinamakan gerakan provo. Gerakan provo tak puas dengan kondisi Amsterdam yang diselimuti oleh kaum borjuis.

Provo awalnya gerakan sederhana menolak rokok, kemudian berkembang menjadi counter culture anarkis anti-kapitalisme, anti-konsumerisme, dan getol melawan institusi gereja. Gerakan provo meluas menjadi tindakan-tindakan menentang institusi politik di Amsterdam seperti kepolisian dan pemerintah setempat. Pada tahun 1965, Gerakan Provo berkumpul di depan kantor kedutaan besar Amerika Serikat di Amsterdam untuk menolak Perang Vietnam.

Terjadi bentrokan kepolisian dan Gerakan Provo yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, dan seniman di jalanan Kota Amsterdam. Begitupula di Stadion Amsterdam Arena bergemuruh dengan permainan cair total football yang dipersembahkan oleh Johan Cruyff dan kawan-kawan. Ajax menjadi wajah baru sepak bola Belanda yang merevolusi sistem permainan di lapangan.

Perjuangan Melawan Industri Sepak Bola

Di luar lapangan hijau, Johan Cruyff turut mendesak KNVB untuk menaikkan hak pemain sepak bola menjadi pekerjaan resmi yang bukan lagi amatir. Tahun 60-an pesepak bola belum menjadi pekerjaan resmi seperti yang ada saat ini. Pada Oktober 1968 Johan Cruyff dan teman-temannya memboikot laga melawan Bulgaria karena ketidaksepakatan bonus dengan KNVB.

Rendahnya gaji dari klub atau timnas mengharuskan mereka mengambil pekerjaan lain supaya bisa bertahan hidup. Mereka juga tidak diizinkan berorganisasi ataupun membentuk serikat. Dia mengatakan bahwa pesepak bola harus mendapatkan gaji yang layak untuk menghidupi keluarganya di tengah kondisi politik Belanda tahun 1960-an.

Kisah pemain yang mencari sampingan pekerjaan bukan hanya Johan Cruyff dan kawan-kawannya, kisah yang lebih modern dari Jamie Vardy sebelum terikat kontrak dengan Leicester City. Saat masih mengenakan jersey Stocksbridge Park Steels FC, Vardy menjadi pemain amatir sekaligus bekerja sebagai buruh pabrik. Di Italia ada tim AS Roma yang menjadi basis massa dari pekerja buruh industri sebagai medium untuk mengekspresikan hak-hak pekerja.

Selama menjadi pemain professional, Johan Cruyff terus menerus menyuarakan tentang hak-hak pekerja disaat staf KNVB mendapatkan asuransi untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, sementara kesejahteraan pemain sepak bola di Belanda saat itu masih belum sejahtera.

Sepanjang karir sepak bola hingga akhir hayatnya Johan Cruyff dikenang oleh masyarakat Catalan sebagai pejuang yang keras kepala, bengal, dan tak mau diatur di Camp Nou maupun jalanan Amsterdam. Setelah Cruyff wafat, koran-koran olahraga di Spanyol merilis fotonya dan membandingkan dengan tokoh revolusioner Kuba, Che Guevara.

Saat ditanya oleh wartawan mengapa dirinya tidak ikut serta dalam Piala Dunia 1978 saat Argentina di bawah pemerintahan militer, Cruyff dengan tegas mengatakan: “Bagaimana bisa bermain sepak bola hanya beberapa meter dari ‘kamp’ penyiksaan?”

Penulis: Moehammad Alfarizy

Dengung Telinga
Nyala Perlawanan dalam “Lagu Hidup”
Syariah, Kepingan Puzzle Solusi Ekonomi Hijau
Dies Natalis ke-56 UIN Walisongo, Musahadi Sampaikan Berbagai Prestasi dan Perkuat Program Internasional
Teror Nafsu dalam Balutan Patuh di Pondok Pesantren
TAGGED:barcelonaheadlinejohan cruyffperjuangan hak pekerjasepak bolaworld cup 2026
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Unjuk Rasa Evaluasi 9 Tahun Jokowi, Jawa Tengah
RegionalVaria Kampus

Sampah Berserakan saat Unjuk Rasa Evaluasi 9 Tahun Jokowi; Bertentangan dengan Norma

Redaksi SKM Amanat
25 Oktober 2023
Majalah Soeket Teki SKM Amanat Edisi 10
Dibuka Tahun 2024, Fakultas Kedokteran UIN Walisongo Sedang dalam Persiapan
Polda Jateng Tangkap Tiga Warga Diduga Dalang Penolakan Jenazah Covid-19 di Semarang
Agama Lokal, Rentan Terdiskriminasi
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Johan Cruyff dan Perjuangan Hak-Hak Pekerja
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Johan Cruyff dan Perjuangan Hak-Hak Pekerja
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?