Puisi

Kayu Bakar yang Lembab

Di pangkuan bumi yang resah, ia berbaring Terhias embun menjerat napas Kulitnya sarat rindu pada api Namun, hujan telah menjahitnya…

Meja Kopi

  Aku menginginkan meja yang lebih luas Singkirkan saja piring-piring kosong itu! Biarkan pekat pahit kopi yang mendidih oleh seduhmu…

Ranjang Bunda

Ia rajut sendiri ranjang tempatnya berbaring. Yang benangnya dari hujan Simpulnya dari malang. Ketika jari benar mati, dan cahaya benar…

Samar

- Advertisement -
Ad imageAd image
Latest Puisi News

Jelaga

Tangan-tangan besi penguasa membedah dada rimba, Menanam barisan sawit sebagai nisan bagi…

Garis Luka

Ia berdiri di sudut ruang sunyi, Menggenggam harapan yang patah Tubuhnya memberi…

Menggila Karena-Nya

Tuhan berlari-lari penuh dipikiran Terjal takdir dibuatnya tak apa Dalam sumur bukan…

Penunggang Cita

‎Mau jadi apa? ‎Kata mereka lewat kerongkongan yang dicekik asa ‎ ‎Mereka…

Sendok, Garpu, dan Piring Ketiga

Sendok jatuh hati pada piring, Sejak pertama kali mereka makan bubur bersama.…

Penyair Liar

Bolehkah aku menjadi pena, mendiktekan alurmu? Menjelma kuas pada palet keindahan yang…

CINTA PERTAMA

Cinta, satu kata namun banyak makna Cinta tak harus bersuara, Kadang cukup…

Detak Asing yang Bergerincing

Aku berdiri di tepi waktu Ditemani ratapan pilu yang merenyai-renyai Gejolak sendu…

Hujan adalah kita

Apa yang mendekap kita begitu lama? Sehingga kita tak sadar banyak yang…