
Amanat.id- Mahasiswa kelahiran 2003, Arifah Riana berhasil menyandang predikat wisudawan terbaik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) pada wisuda Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ke-98 yang digelar di Gedung Auditorium II Kampus 3, Sabtu (01/11/2025).
Arifa berhasil menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Model Case Based Learning Berbantuan LKPD untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Keterampilan Komunikasi Ilmiah Materi Termodinamika” hanya dalam waktu satu bulan setengah.
“Awalnya aku nggak pernah nyangka bisa secepat ini. Mulai dari penelitian hingga sidang itu cuma 45 hari,“ kata Arifah saat diwawancarai Tim Amanat.id, Sabtu (11/01)
Ia mengaku mengalami kendala pembatalan di lokasi penelitian pertama, tetapi langsung mampu beradaptasi dengan cepat dan memindahkan lokasi penelitiannya.
“Meski sempat sekolah tempat penelitian pertamaku batal. Tapi alhamdulillah, aku langsung pindah ke SMA 3 Semarang,“ ucapnya.
Di balik prestasi yang didapatkan, terdapat cerita pedih yang Arifah alami, bahkan pernah hampir gagal kuliah karena tertolak beasiswa.
“Padahal sedari MA, aku punya kartu KIP, tapi mengapa bisa gagal dalam semua pendaftaran termasuk Beasiswa KIPK Itu sendiri. Sampai kadang putus asa karna merasa tidak pantas menerima beasiswa,” ungkapnya.
Di lain sisi, ibunya juga sempat kurang setuju untuk Arifah melanjutkan kuliah lantaran sudah kehilangan sosok tulang pungung keluarga.
“Ketika aku menginjak bangku MA, Ayah meninggal, sejak saat itu Ibu bekerja lebih keras untuk menghidupi aku dan kedua adikku. Mungkin itu alasan Ibu tidak setuju aku kuliah karena tidak takut tidak bisa membiayai,” tuturnya.
Kendati demikian, Arifah tidak patah semangat untuk berkuliah. Ia menyakinkan Ibunya bahwa ia bisa kuliah sambil bekerja.
“Aku mencoba meyakinkan Ibuku bahwa aku akan tetap kuliah, soal biaya pasti ada jalanya. Nanti bisa disambil kerja,” ujarnya.
Setelah disetujui oleh Ibunya, masalah lain datang karena tingginya biaya kuliah yang harus dibayarkan.
“Nah, setelah Ibu mau, diawal aku kebingungan dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) 2,8 juta bagaimana mau membayarnya ditambah lagi dengan biaya ma’had 4 juta dimuka,” jelasnya.
Arifah tak kehilangan akal, ia memberanikan diri datang ke sekolah lamanya untuk meminta bantuan dan pandangan untuk biaya berkuliah.
“Istilahnya mengadu lah, aku menceritakan mendapat UKT sekian dan ibu saya tidak berkenan untuk lanjut kuliah. Terus sekolah prihatin dan biaya UKT pertama ku, tiga perempatnya disumbang dari sekolah,” tuturnya.
Demi mencukupi kebutuhanya Arifah mengambil pekerjaan menjadi guru les siswa SMP dan SMA yang jaraknya cukup jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki.
“Aku menjadi guru les mulai dari semester tiga sampai lima karena semester dua saya mahad. Saat menjadi guru les, Aku tidak punya kendaraan sehingga harus jalan kaki dari Tanjung Sari ke Karonsih dan itu dilakukan setiap hari,” jelasnya.
Menurutnya gaji dari guru les tidak seberapa, bahkan untuk makan terkadang masih kurang sehingga mendorong dirinya untuk melaksanakan Puasa Daud.
“Pada saat gaji guru les dibayar 50 ribu per ngajar, aku masih digaji 25 ribu. Sehingga terkadang aku terpaksa puasa daud untuk berhemat dan menabung biaya kuiah. Di sisi lain sebagai bentuk tirakatku,” ujarnya.
Ia berharap untuk teman-teman mahasiswa jangan patah semangat, perjuangkan hal yang diimpikan apapun rintangannya karena rintangan itulah yang membuat sukses nantinya.
“Untuk kawan-kawan mahasiswa Jaga harapanmu. Hidupkan ia terus, kita harus menjadi lebih besar dari penderitaan yang kita alami,” harapnya.
Penulis: David Setyawan
Editor: Makrufiyah



