
Amanat.id- Aliansi Mahasiswa Walisongo (AMW) menggelar Konsolidasi Akbar dan Pernyataan Sikap sebagai respon berbagai persoalan di masa pemerintahan Prabowo-Gibran di Landmark kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jumat (12/6/2026).
Menteri Kajian Aksi dan Propaganda Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA), Salman Alfarisi mengatakan konsolidasi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap para pemangku kebijakan.
“Tujuannya jelas karena kita mempunyai rasa kemarahan bersama terhadap para pemangku kebijakan,” ujarnya.
Ia menegaskan mahasiswa siap turun aksi jika tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti.
“Ini menjadi alarm perjuangan kita jika tuntutan-tuntutan yang kita aspirasikan tidak ditindaklanjuti, dari kami tidak segan-segan untuk turun ke jalan,” tegasnya.
Salman menyebut AMW telah melakukan konsolidasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Semarang Raya (SERA) dan berencana menggelar aksi pada Senin mendatang.
“Sebetulnya dari kita sudah konsolidasi bareng dengan teman-teman BEM SERA. Rencana pada hari Senin kita akan turun aksi. Namun, tetap berdasarkan kesepakatan dari teman-teman,” ucapnya.
Menurutnya, penundaan aksi dilakukan untuk menghimpun massa yang lebih banyak dengan tetap menunggu kesepakatan bersama.
“Kami juga berpikir jika menahan aksi beberapa hari, kita akan memiliki massa yang lebih banyak. Karena dari kita sudah membuat agenda dari sebulan yang lalu,” katanya.
Ia menjelaskan aksi tersebut akan membawa sejumlah tuntutan.
“Beberapa tuntutan kami adalah menjamin kebebasan pendapat, kebebasan akademik, kebebasan pers dan lain-lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, tuntutan tersebut masih akan dibahas dalam konsolidasi yang lebih besar untuk menentukan bentuk aliansi yang akan bergerak.
“Namun, kami tetap akan membawa tuntutan ini ke konsolidasi yang lebih besar, tergantung dari kami akan melakukan aksi atas nama AMW atau Aliansi Mahasiswa Semarang Raya,” tambahnya.
Salman menilai keresahan yang dirasakan mahasiswa merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang telah terjadi sebelumnya.
“Keresahan yang kita rasakan sekarang bukan terjadi secara tiba-tiba, tetapi berasal dari runtutan permasalahan buruk yang telah terjadi sebelumnya,” tuturnya.
Menurutnya kondisi tersebut diperparah oleh ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola negara sehingga memunculkan gagasan Reformasi Jilid II.
“Kemudian, sedikit demi sedikit pemerintah menunjukkan ketidakmampuannya untuk mengelola negara. Dari situ, kita sudah merasa untuk melaksanakan Reformasi jilid II,” imbuhnya.
Salman berharap para pemangku kebijakan segera mengevaluasi kebijakan yang dinilai meresahkan masyarakat.
“Tentunya para pemangku kebijakan harus melakukan evaluasi secara menyeluruh. Sebab, aksi tersebut menunjukkan bahwa keresahan terhadap kebijakan yang dikeluarkan tidak hanya dirasakan mahasiswa, tetapi juga berbagai elemen masyarakat,” harapnya.
Reporter: Muhammad Wildan Sururi
Editor: Romaito


