
Amanat.id- Aliansi Mahasiswa Walisongo (AMW) menggelar konsolidasi akbar dengan tajuk “Reformati: Ikan Busuk Mulai dari Kepala, Wayahe Penggal Ndase Prabowo” di depan Landmark kampus 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jum’at (12/06/2026).
Dalam konsolidasi akbar tersebut, Aliansi Mahasiswa Walisongo menyampaikan 10 tuntutan utama sebagai berikut:
1. Mengembalikan supremasi sipil sebagai prinsip utama demokrasi Indonesia melalui evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan yang berpotensi memperluas peran aparatus keamanan dalam ruang sipil.
2. Meninjau ulang regulasi yang dinilai menimbulkan kekhawatiran terhadap prinsip profesionalisme TNI dan Polri serta memastikan setiap institusi negara bekerja sesuai mandat konstitusionalnya.
3. Menjamin kebebasan berpendapat, kebebasan akademik, kebebasan pers, dan hak masyarakat untuk menyampaikan kritik tanpa intimidasi maupun pembatasan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi.
4. Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program-program pemerintah yang menggunakan anggaran besar agar setiap rupiah uang negara benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
5. Melakukan efisiensi total terhadap fasilitas dan belanja pejabat negara yang tidak berkaitan langsung dengan pelayanan publik.
6. Mengutamakan penciptaan lapangan kerja, penguatan sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat sebagai prioritas utama pembangunan nasional.
7. Menyelesaikan berbagai konflik agraria secara adil dengan mengutamakan kepentingan masyarakat yang terdampak pembangunan.
8. Memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam seluruh proses pengambilan kebijakan publik.
9. Mencegah praktik konflik kepentingan serta memperkuat pengawasan terhadap hubungan antara kekuasaan politik dan kepentingan ekonomi.
10. Menjaga independensi lembaga negara dan memastikan seluruh proses politik berjalan sesuai prinsip konstitusi dan demokrasi.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa Walisongo, Ahmad Alfani Hasan menuturkan konsolidasi akbar dilakukan sebagai bukti ekspresi dan pengawalan kondisi negara saat ini.
“Konsolidasi akbar ini sebenarnya jadi bukti ekspresi bahwa kami Aliansi Mahasiswa Walisongo senantiasa mengawal kondisi yang ada di Indonesia saat ini. Ini juga komitmen yang memang direncanakan,” tuturnya.
Sebelum melakukan konsolidasi, Ia menjelaskan Aliansi Mahasiswa Walisongo sempat melakukan propaganda di media.
“Kami juga melakukan propaganda media. Akhirnya, hasil kesepakatan melibatkan seluruh fakultas adalah untuk melakukan aksi ini,” tuturnya.
Penggunaan istilah “reformati” dalam tagline konsolidasi akbar, Alfani menjelaskan hal tersebut sebagai bentuk ekspresi kekecewaan terhadap kepemimpinan pemerintah saat ini.
“Sebagai bentuk ekspresi dan sebagai pembeda, narasi yang disatukan oleh rakyat hari ini adalah reformasi jilid dua. Kami tidak langsung memakai istilah reformasi jilid dua, tapi reformati. Maksudnya adalah merujuk kepada janji-janji dalam reformasi yang sudah dilanggar oleh rezim hari ini,” tegasnya.
Ia juga menambahkan contoh pelanggaran yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat yaitu dwi fungsi ABRI.
“Contohnya soal dwi fungsi ABRI, kita melihat RUU TNI disahkan tanpa adanya partisipasi rakyat secara menyeluruh, bagaimana tentara melakukan kejahatan kepada masyarakat sipil seperti yang terjadi oleh Andrie Yunus. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk bisa menjamin dari pihak pemerintah bahwa dwi fungsi itu tidak akan diberlakukan kembali,” jelasnya.
Alfani menerangkan reformasi yang digaungkan masyarakat merupakan akumulasi berbagai hal yang telah dilakukan rezim sejak awal sehingga menimbulkan kondisi seperti sekarang.
“Ini semua bukan hanya rupiah yang melemah, bukan hanya mengenai harga pertamax yang sudah naik. Tapi, ini adalah akumulasi yang memang sedari awal rezim lakukan,” titahnya.
Reporter: Lutfi Ardiansyah


