By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ilusi Lukisan Tua
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
CerpenSoeket Teki

Ilusi Lukisan Tua

Last updated: 12 Juli 2026 8:13 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 12 Juli 2026
Share
SHARE
cerpen, cerpen skm amanat, cerpen soeket teki, soeket teki skm amanat, ilusi lukisan tua
Ilustrasi lukisan perempuan. (Istockphoto.com).

”Sudah kubilang, Jane! Kamu bisa cepat sedikit tidak? Bahkan kura-kura sekalipun akan tertawa melihat kelambananmu,” gerutu Theo kesal kepada adiknya.

Sudah sedari tadi mereka berdua sibuk menyusuri jalan-jalan sempit di gang untuk menemukan kotak kayu berharga milik Ibu yang terjatuh saat hendak melakukan perjalanan ke kota untuk menjual beberapa kayu bakar. Theo hanya menuruti kata adiknya yang menghilangkan kotak kayu tersebut.
”Kau lihat sendiri, Theo! Kakiku baru saja terkilir, aku tak bisa berjalan cepat sepertimu!” balas Jane tak mau kalah.
Pergelangan kaki kirinya memerah, akibat perjalanan jauh ke kota kemarin yang sangat melelahkan. Ditambah lagi, jalan setapak yang biasa dilaluinya sedang ada perbaikan. Alhasil Theo mengusulkan untuk melewati hutan yang dipenuhi semak-semak belukar,  agar perjalanan mereka sedikit lebih cepat. Di tengah asiknya perjalanan, Jane tidak menyadari ada seuntai tanaman rambat mengikat erat kedua kakinya. Entah dari mana datangnya, tapi Jane baru pertama kali melihat sejenis tanaman merambat berduri yang berlapis emas.
”Sebuah keajaiban,” pikir Jane saat itu.
Theo yang segera menyadari situasi dengan sigap memotong habis benalu tersebut. Tetapi, herannya lapisan emas pembungkus duri ikut memudar seketika dan menyisakan lebam di pergelangan kaki Jane.
Theo mulai menenangkan diri. Ia terdiam sejenak berpikir keras, alis matanya yang tebal menukik tajam. Ada sesuatu yang janggal.
“Tunggu, bukankah kotak kayu kemarin hilang setelah kita melewati semak belukar? Aku pikir saat di gang sempit, kotak kayu itu masih ada di genggaman tanganmu,” tanya Theo. Ia seolah kembali teringat detail kejadian terlilitnya kaki Jane.
Jane ikut berfikir, menyadari akan hal itu, ”Betul juga! Mungkinkah kita kembali ke semak-semak belukar itu?”
Theo langsung mengangguk mantap. Dirinya yakin, kotak kayu terjatuh di antara semak-semak mematikan itu. Secercah harapan mulai tergambar di benak mereka berdua.
***
10 tahun lalu, ketika Ibu dan Nenek melakukan perjalanan ke kota sebelah. Jalan utama ditutup. Mereka mencari jalan pintas lain seperti bibir sungai atau hutan semak belukar yang masih dapat dijangkau. Dalam perjalanan tersebut, Nenek berjalan lebih cepat di depan Ibu. Tapi setetelah beberapa saat, Nenek baru menyadari bahwa Ibu menghilang misterius, jejaknya sama sekali tidak nampak. Bahkan suara teriakan atau pijakan kakinya seolah hilang ditelan bumi sekalipun. Nenek panik dan segera melaporkan berita atas hilangnya Ibu kepada warga setempat, pencarian pun dilakukan tiga hari berturut-turut. Akan tetapi, hasilnya nihil. Warga lebih memilih untuk menyimpan rapat berita hilangnya Ibu. Theo dan Jane yang saat itu masih berumur 10 tahun belum begitu paham atas insiden tersebut. Dalam ingatan Theo, Nenek hanya menyerahkan kotak kayu kecil berisikan perhiasan emas untuk dijaganya. Peninggalan dari Sang Ibu.
Lamunan Theo akan ingatannya kembali buyar. Angin siang hari memadukan panas dan sejuknya suhu udara, dedaunan dari ukuran kecil hingga besar menyambut kedatangan dua kakak beradik tersebut. Pijakan kaki dengan sepatu boot kulitnya menyisakan jejak bertekstur di tanah lembab. Rupanya tidak banyak orang yang melintasi jalan, suasananya singup tak berpenghuni. Hanya kicauan burung dan kerikan jangkrik seolah menyambut siapapun yang memasuki wilayahnya. Theo sedari tadi memegang erat tangan Jane, ia tak ingin kejadian Ibunya kembali terulang dan kehilangan keluarga satu-satunya yang tersisa. Pandangan Jane terus menelusuri di mana tempat terakhir ia menjatuhkan kotaknya.
”Selalu siaga dengan sekitarmu, Jane. Kita tidak tahu apa sebenarnya tempat ini.” Suara beratnya terdengar. Jiwa pelindung Theo muncul sebagai seorang kakak, semenjak hilangnya Ibu 10 tahun lalu.
Jane mengingat-ingat tempat di mana ia terlilit, kemungkinan besar disitulah kotak kayu tersebut jatuh. ”Sepertinya kita lewat sini kemarin bukan, Theo? Aku ingat betul ada tanda silang di pohon besar jati itu.”
Theo mengangguk setuju. Ia memutar balik arah menuju pohon besar jati. Kali ini Jane memimpin di depan sembari merasakan suasana sekitar yang mendadak dingin. Tangannya merapat memeluk tubuh untuk mendapatkan kehangatan, tetapi demi sekotak kayu pemberian Ibu, mereka tetap melanjutkan pencariannya.
Ditambah langit gelap yang mulai menitikkan air matanya satu persatu, Theo dan Jane berlari untuk berteduh di bawah dahan-dahan pohon besar. Menghindari percikan air yang menjadi lebat dalam hitungan detik.
”Janeee, ayo kita berteduh!” teriak Theo dengan suara lantangnya. Pantulan gema yang menyebar membuat suaranya perlahan tidak terdengar jelas, saking luasnya hutan tersebut.
”Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Pasti kotak kayu tersebut hilang terbawa arus air yang lebat.” Jane mulai panik, pikirannya sudah kemana-mana.
”Untuk sementara waktu, kita di sini dulu saja Jane. Jangan sampai kau jatuh sakit gara-gara hujan sialan ini,” kesal Theo.
Theo mulai putus asa atas rencana pencarian kotak kayu dan penelusuran tempat yang sudah dirasanya janggal. Terlebih lagi, arloji yang digunakannya menunjukkan waktu petang. Tidak ada persiapan barang seperti senter, makanan, dan yang lainnya untuk bertahan. Karena dipikirnya, tidak akan memakan waktu lama untuk menemukan kotak kayu tersebut.
Theo mengusap-usap kedua telapak tangannya, berharap hantaran panas mengurangi dinginnya suhu, Jane disebelahnya mengikuti. Kilatan cahaya petir menyinari hutan gelap dalam hitungan detik saja. Disusul suara gemuruh langit yang seolah menggeram atas kehadiran dua adik kakak malang itu.
”Lihatlah dengan seksama, Jane!” perintah Theo dengan semangat. Theo melihat asap yang menyebar dalam radius 10 meter, sepertinya ada rumah warga disitu.
”Iya! Aku melihatnya. Segera kita kesana dan minta petunjuk!” sahut Jane bersemangat.
”Tapi jangan gegabah, Jane. Kita tidak tahu siapa mereka dan anehnya mengapa ada orang yang mau mendirikan tempat tinggal di tengah hutan begini. Kita musti waspada dahulu.” langkah Theo selalu hati-hati akan keputusan yang harus diambil. Ia pun memerintahkan untuk mengendap-endap menuju sumber cerobong asap.
Sesampainya di pekarangan rumah kecil dengan lampu petromaks kuning, satu jendela usang disampingnya dan atap rumah yang mau roboh, mereka mendengar sayup-sayup obrolan dua orang lelaki dari dalam rumah. Kedua remaja tersebut mendekat, mencerna suara apapun yang datang dari dalam.
”Aku pikir ini akan menjadi lukisan legendaris dengan bayaran termahal. Karena seperti yang kau tahu, dua komponen utama sudah terpenuhi. Jadi tunggu apa lagi?” ujar seorang lelaki paruh baya kisaran 50 tahun-an dengan suara parau.
”Tapi tidakkah kamu berpikir, Tuan? Imbalan yang kita dapatkan harus lebih besar daripada emas yang aku korbankan kemarin hari. Cukup sulit mengalihkan perhatiannya jika tanpa kilauan cahaya emas pada tanaman milikku. Manusia memang serakah, Hahaha,” suara berat lelaki muda yang terdengar angkuh.
Mendengar percakapan kedua lelaki tersebut, Wajah Theo memerah seketika. Bukan seperti merah jambu ataupun blush make up, kali ini merah padam seperti api.
”Dengarkan semua itu, Jane. Aku memang selalu merasa aneh dengan hutan ini,” dengan amarah yang memuncak, Theo segera mendobrak keras pintu peyot itu. Tak sempat menghentikan, Jane ikut tertepis berkat pukulan keras Theo.
”Hentikan, Theo! Kamu sendiri yang bilang jangan ge-gabah…” suaranya lirih, masih terkejut dengan perkataan dua orang lelaki asing itu.
”Apa yang kalian lakukan terhadap Ibuku, hah!!” bentak Theo dengan amarahnya yang meledak-ledak. Pikirannya berantakan. Ingatan 10 tahun lalu kembali tiba-tiba, ketika ucapan Nenek tentang kisah lukisan tua besar yang selalu berubah-ubah objek lukisannya, teringat jelas.
Kedua lelaki tersebut sedikit terkejut. Dengan cepat, berusaha mengkondisikan wajahnya. Berlagak seolah hal buruk itu memang bagian dari rencananya.
Mata Theo terus tertuju pada kain putih besar yang menutupi frame sebesar papan tulis sekolah dibagi dua. Di antara dinding-dinding karya seni lainnya, kain putih besar tersebut lebih mencuri perhatiannya.
 ”Penasaran dengan keindahan lukisannya, Nak. Tenangkan dulu napasmu, kau terlihat terburu-buru,” ucap lelaki tua dengan kecakan khasnya.
”Katakan di mana kotak kayu emas milik Ibuku! Kau pasti sudah mencurinya, hei Pria tua bangka!” geram Theo. Jane berlindung dibaliknya.
“Buat apa kau menanyakan kotak jelek itu? biar kutunjukkan lukisan fantastis yang bisa menghipnotismu,” dengan cepat pria tersebut menarik kain putih sebagai penutup. Kanvas putih tulang dengan motif detail yang sangat indah, terlihat seorang wanita paruh baya dengan senyum tulusnya membawa sekotak kayu bewarna keemasan. Sorot mata teduh yang selalu dirindukan setiap anak.
 ”Ibu! Itu Ibuku!” ujar Theo dengan nada tinggi. Air mata yang tak kuat lagi dibendung dalam pertahanannya, jatuh lepas membasahi sekujur tubuhnya yang berkeringat. Jane yang mengetahui itu menangis sejadi-jadinya. Berlari memeluk lukisan indah tersebut. Akal logikanya tak lagi bisa menerima atas apa yang telah terjadi.
”Tidak semua bisa dipertanyakan, Nak. Itulah dunia. Tidak semua milik kita pula, bisa bertahan selamanya. Lagipula, lukisan itu abadi bukan? Tidak seperti nyawa seseorang, hahahaha,” ejek Pria yang lebih muda.
”Tidak! Kau pasti menjebak ibuku!” napasnya tersengal-sengal, ”kau, kau benar-benar penjahat, tua bangka!!!” hardik Theo.
Hari itu adalah kali pertama kedua kakak beradik tersebut menyaksikan kembali senyum tulus sang ibunda setelah sepuluh tahun lamanya. Senyuman itu terbingkai indah dalam kotak kayu kesayangannya yang khas, abadi dalam sapuan warna-warna pastel yang mendetail.
Melihat celah saat penjagaan melengah, Theo dengan sigap menyambar lukisan itu. Ia menarik tangan adiknya, berlari kencang keluar dari rumah tersebut. Terus berlari tanpa menoleh. ”Jangan bingung Jane, hanya ini yang bisa kita usahakan untuk Ibu,” isaknya dengan suara parau yang pecah oleh tangis.
Jane hanya bisa terisak, tetapi perlahan ia merasakan sesuatu yang aneh. Lukisan tua dalam genggamannya mendadak melonggar, hancur perlahan, lalu melebur menjadi butiran debu yang terbang terbawa angin. Dalam sekejap, rumah tua yang reyot itu pun lenyap dari pandangan. Seolah-olah semua itu tak pernah ada. Seolah-olah lukisan itu hanyalah fatamorgana, dan kenangan tentang ibu memang telah terkubur rapat sejak dua puluh tahun silam.
Penulis: Adhilni Mizaniyatul Ilmi (Warga Kampoeng Sastra Soeket Teki)
Hidup itu Keparat
Sosok itu
Aktif di Berbagai Organisasi Tak Halangi Warda Jadi Wisudawan Terbaik FDK
Berlalu
Luruh
TAGGED:Cerpencerpen skm amanatcerpen soeket tekiheadlineilusi lukisan tuasoeket teki skm amanat
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Buka Bersama, Rektor UIN Walisongo
UIN WalisongoVaria Kampus

Buka Bersama dan Diskusi Terbuka, Persiapan Kuliah 100% Tatap Muka

Nurul Fitriyanti
15 April 2022
Daftar Calon Kru Magang yang Lolos Tahap Pra Workshop SKM Amanat 2020
3 Cara Mengangkat Harkat Martabat Negara ala Syamsul Ma’arif
[Indepth] Meramu (Lagi) Sketsa Deradikalisasi
Asih Nurjanah, Wisudawan Terbaik FISIP Wisuda Ke-84
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ilusi Lukisan Tua
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ilusi Lukisan Tua
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?