BEM FISIP UNNES Dorong Optimalisasi Potensi Desa Peron lewat Village Development 2026

Pengabdian BEM FISIP Unnes bertajuk Village Development 2026 menghadirkan berbagai program pemberdayaan masyarakat Desa Peron di antaranya pengajaran di sekolah hingga gotong royong

3 Min Read
Sanggar kesenian Desa Peron tampil dalam pentas seni sebagai bagian dari rangkaian Village Development 2026 yang digelar BEM FISIP UNNES, Sabtu (3/10/2026). (Dok. Khusus).
bem fisip unnes, desa peron, village development 2026, fisip unnes, unnes
Sanggar kesenian Desa Peron tampil dalam pentas seni sebagai bagian dari rangkaian Village Development 2026 yang digelar BEM FISIP UNNES, Sabtu (3/10/2026). (Dok. Khusus).

Amanat.id- Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Semarang (UNNES) melalui Departemen Sosial Masyarakat menggelar Village Development 2026 di Desa Peron, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Minggu (4/10/2026).

Mengusung tema “Berkarya untuk Desa, Berdampak untuk Sesama”, kegiatan pengabdian tersebut mencakup bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, kesenian, hingga gotong royong.

Wakil Ketua Pelaksana Village Development 2026, Salwa Nur Zafrania menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai dengan pengajaran di sekolah dan dilanjutkan dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat.

“Kita mulai kegiatan dari jam 7 sampai jam 12 mengajar di SD, dilanjutkan sosialisasi magot, cek kesehatan, pemasangan bank sampah, serta ada gebyar seni,” jelas Salwa.

Humas Village Development 2026, Dhiyah Feby Androani menuturkan kegiatan tersebut berfokus pada pengembangan potensi yang sebelumnya telah dimiliki Desa Peron.

“Desa peron sudah ada program, namun masih belum optimal. Jadi kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi desa,” ujar Dhiyah.

Dhiyah menambahkan, salah satu upaya optimalisasi dilakukan melalui pendampingan pemasaran produk gula aren yang telah diproduksi masyarakat.

“Di desa ini sebelumnya sudah ada kegiatan pembuatan gula aren.Dalam pengabdian ini kami membantu mengoptimalkan program dengan memberikan pelatihan pemasaran gula aren lewat media sosial,” kata Dhiyah.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Village Development 2026, Reijeivel D. T. A. Pandiangan menjelaskan program sosialisasi magot dilakukan sebagai upaya mengolah sampah rumah tangga yang masih belum dimanfaatkan secara optimal.

“Kami mengajak ibu-ibu mengolah sampahrumah tangga agar tidak langsung dibuang tetapi diolah untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ibu-ibu sangat antusias dengan adanya kegiatan ini pkarena belum pernah ada. Di desa ini sampah rumah tangga langsung dibuang tanpa diolah atau bahkan dikasih ke hewan ternak yang justru tidak bergizi bagi ternaknya, jadi kami menyosialisasikan magot,” ungkap Reijeivel.

Ia juga menambahkan terdapat sosialisasi di bidang pendidikan, seperti pengajaran dan perlombaan.

“Pada jenjang TK kami mengadakan lomba mewarnai, di jenjang SD kami mengadakan Lomba Cerdas Cermat (LCC), serta bimbingan belajar pada siswa SMP,” ujarnya.

Selain itu terdapat juga program gotong royong yang diwujudkan melalui pemasangan kaca cembung dan pembuatan papan penunjuk desa.

Sementara itu, bidang kesenian diisi dengan pentas seni yang melibatkan sanggar kesenian yang berada di Desa Peron.

“Kami menggandeng sejumlah sanggar setempat untuk berkontribusi dalam pameran kesenian,” jelasnya.

Reijeivel berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat dan meninggalkan dampak bagi masyarakat Desa Peron.

“Harapannya akan sangat berdampak dan membekas di Desa Peron,” pungkasnya.

Reporter : Meyra Karunia Putri

Share This Article