
Amanat.id- Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang meluluskan tiga wisudawan pada Wisuda Periode Agustus, Sabtu (22/8/2026).
Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknik Lingkungan UIN Walisongo, Noor Amalia Chusna mengaku bersyukur Prodi yang dipimpinnya berhasil mengantarkan mahasiswa angkatan pertama meraih gelar Sarjana.
“Tentu merasa bahagia dan bersyukur dengan kurikulum yang sudah kami siapkan ini, akhirnya bisa meluluskan dan bisa menghantarkan mahasiswa kami untuk mencapai gelar sarjana teknik,” ujarnya.
Ia mengatakan proses meluluskan angkatan pertama memiliki sejumlah tantangan, salah satunya mata kuliah capstone design yang menjadi bagian dari kurikulum Teknik Lingkungan.
“Capstone design itu mewajibkan mahasiswa untuk bisa merancang, mendesain hal-hal teknis di bidang lingkungan. Itu merupakan tantangan yang terbesar,” katanya.
Ia menjelaskan mahasiswa harus menyelesaikan capstone design yang ditempuh pada semester tujuh sebelum dapat mengambil tugas akhir.
“Capstone design itu muncul di semester tujuh. Jadi setelah semester tujuh baru teman-teman mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan bisa mengambil tugas akhir. Memang harus dituntaskan terlebih dahulu dan beban di capstone juga cukup berat SKS-nya,” jelasnya.
Ia menyebut angkatan pertama Teknik Lingkungan berjumlah 59 mahasiswa. Dari jumlah tersebut tiga mahasiswa berhasil mendaftar dan mengikuti Wisuda Periode Agustus 2026.
“Jumlah mahasiswa angkatan 2022 sebenarnya sebanyak 59 mahasiswa. Saat ini sudah ada mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir sebanyak delapan, tetapi yang bisa mendaftar hanya tiga,” tuturnya.
Setelah meluluskan angkatan pertama, pihak Prodi melakukan evaluasi untuk mengarahkan mahasiswa berdasarkan bidang dan minat yang dimiliki.
“Setelah mengevaluasi kondisi yang ada, ke depannya kami akan membagi mahasiswa sesuai dengan minatnya, seperti bidang udara, air limbah, air bersih, persampahan, atau bahkan dokumen lingkungan. Sebelumnya memang belum ada pembagian sesuai bidang ataupun passion mahasiswa,” paparnya.
Menurutnya, pembagian bidang tersebut diharapkan bisa membantu mahasiswa lebih terarah sejak kerja praktik hingga penyusunan tugas akhir.
“Dengan pembagian tersebut tentu mahasiswa ini sudah bisa terarah mulai dari kerja praktik, capstone design, lalu nanti proposal hingga tugas akhir,” terangnya.
Wisudawan Prodi Teknik Lingkungan, Muhammad Romizan Khoir mengaku bangga dapat menyelesaikan pendidikan tepat waktu delapan semester.
“Pastinya sebagai wisudawan angkatan pertama saya sangat bangga bisa menyelesaikan tepat waktu delapan semester,” katanya.
Ia menjelaskan Prodi Teknik Lingkungan UIN Walisongo memiliki kekhasan pada peminatannya.
“Yang berbeda di Prodi Teknik Lingkungan UIN Walisongo adalah peminatan dari rekayasa dan manajemen lingkungan yang pastinya berbasis Unity of Sciences atau kesatuan pada ilmu pengetahuan dan juga ilmu keagamaan,” tuturnya.
Sebagai angkatan pertama Prodi Teknik Lingkungan, Romizan mengatakan mahasiswa mendapat pendampingan langsung dari dosen sejak Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo hingga proses perkuliahan.
“Karena kita belum punya kakak tingkat, seluruh support system mulai dari PBAK hingga perkuliahan semuanya didukung dan langsung didampingi oleh bapak ibu dosen Teknik Lingkungan,” terangnya.
Menurutnya, mahasiswa angkatan pertama turut menjadi bagian dari proses pengembangan kurikulum Prodi Teknik Lingkungan.
“Dari segi pembelajaran angkatan pertama menjadi sebuah exercise atau latihan prodi bagaimana kurikulum yang sesuai dengan prodi keteknikan,” jelasnya.
Ia berharap lulusan perdana mampu membuktikan bahwa lulusan Prodi Teknik Lingkungan UIN Walisongo dapat bersaing di dunia kerja.
“Sebagai lulusan perdana, kami mempunyai tanggung jawab untuk membuktikan bahwasanya almamater UIN Walisongo Semarang khususnya Teknik Lingkungan bisa diperhitungkan di dunia pekerjaan dan tentunya mempunyai integritas dan juga loyalitas,” ujarnya.
Salah satu wisudawan Prodi Teknik Lingkungan lainnya, Husmita Marani mengaku harus mencari referensi dari luar karena Prodi Teknik Lingkungan belum memiliki referensi yang dapat dijadikan acuan.
“Karena angkatan pertama, kami benar-benar tidak ada acuan referensi dari kakak tingkat. Kami harus mencari tahu sendiri referensi dari luar,” ucapnya.
Selain mencari referensi secara mandiri, mahasiswa juga menghadapi berbagai kebijakan yang cukup mendadak.
“Sebagai angkatan pertama sering jadi percobaan, jadi banyak kebijakan. Perubahannya itu mendadak, jadi kita harus bisa cepat beradaptasi,” terangnya.
Wisudawan Prodi Teknik Lingkungan lainnya, Nibras Cahya Dirgantara menggambarkan perjalanan angkatan pertama sebagai proses “babat alas”.
“Kami harus ‘babat alas’ atau mencari dan membuka jalan. Kami juga sebagai contoh pertama dan masih menghadapi berbagai keterbatasan sebagai prodi baru,” ungkapnya.
Menurutnya, keterbatasan juga dirasakan dari sisi fasilitas, terutama laboratorium pada masa awal berdirinya Prodi Teknik Lingkungan.
“Prodi baru tentu minim fasilitas. Seperti laboratorium yang dulu hanya menumpang dengan prodi lain,” katanya.
Menurutnya, pembelajaran di Teknik Lingkungan tidak hanya memberikan pemahaman teori.
“Di Teknik Lingkungan, kami tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga bagaimana mengidentifikasi masalah, menganalisis penyebabnya, kemudian mencari solusi yang dapat diterapkan,” ujarnya.
Setelah lulus, Ia berencana memasuki dunia kerja untuk mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya.
“Tentu saya ingin mengimplementasikan ilmu yang diperoleh sehingga dapat berguna di dunia pekerjaan. Lalu saya percaya guru terbaik adalah pengalaman,” tuturnya.
Kepada mahasiswa yang masih menempuh pendidikan, ia berpesan agar tetap bertahan dalam proses perkuliahan.
“Terbentur, terbentur, terbentuk setiap pelajaran yang kalian jalani. Tetap jaga, solidkan, dan bawa kebanggaan Prodi Teknik Lingkungan,” pesannya.
Ia berharap perjuangan angkatan pertama dalam merintis Teknik Lingkungan dapat dikembangkan.
“Kami pernah memulai, kami pernah berjuang, kami pernah terbentur, dan akhirnya kami terbentuk. Saya berharap apa yang kami mulai sebagai angkatan pertama bisa dilanjutkan dan dikembangkan jauh lebih baik oleh adik-adik tingkat kami,” pungkasnya.
Reporter: Romaito


