
Amanat.id- Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya (BEM SERA) menggelar aksi bertajuk “PANTURA: Panca Tuntutan Rakyat, Jateng Menyambut Reformasi Jilid 2” di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, Senin (15/6/2026).
Ketua BEM Universitas Katolik Soegijapranata, Ivan Octavian menjelaskan gelombang massa yang hadir pada aksi tersebut berasal dari berbagai elemen masyarakat.
“Untuk yang tergabung dalam gerakan ini cukup melebur, ada mahasiswa dari seluruh Semarang Raya, juga ada masyarakat, ojol, dan sebagainya,” tuturnya.
Bagi Ivan, tujuan aksi tersebut dilaksanakan untuk menuntut pemerintahan Prabowo-Gibran turun dari jabatannya.
“Di antara tuntutan utama, yang digaungkan adalah mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk turun dari jabatannya,” paparnya.
Koordinator Lapangan (Korlap) UIN Walisongo, Ahmad Alfani Hasan menjelaskan massa aksi bergerak dimulai dari Kantor Pos Titik Nol Semarang dan berpusat di depan Gedung DPRD Jateng.
“Massa memulai pergerakan dengan melakukan long march dari titik kumpul di Kantor Pos Titik Nol dan dilanjutkan memblokade kawasan Tugu Muda untuk menarik perhatian publik, sebelum akhirnya memusatkan titik aksi di depan Gedung Gubernuran,” ujarnya.
Alfani memastikan massa keseluruhan yang hadir pada aksi mencapai lebih dari 1.000 orang.
“Estimasi massa yang terdata itu sekitar lebih dari seribu orang dari berbagai universitas yang ada di Jawa Tengah,” terang Alfani.
Massa aksi tersebut tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa, lanjutnya, tetapi juga masyarakat umum.
“Gerakan hari ini adalah emansipasi dari mahasiswa. Tentu kami juga mengajak masyarakat secara umum akan tetapi memang tidak dikoordinir secara penuh,” katanya.
Alfani menjelaskan dalam aksi tersebut juga terdapat teatrikal simbolik berupa seseorang mengenakan seragam sekolah sebagai kritik terhadap program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Ada dari teman-teman membuat teatrikal dengan menggunakan baju SMP, hal itu sebagai simbol dari kritik anak-anak yang keracunan oleh MBG,” ujarnya.
Ia menekankan keluhan masyarakat terkait kritik program MBG yang hanya dianggap data statistik semata bagi pemerintah.
“Angka masyarakat yang sakit bahkan meninggal karena MBG hanya dianggap sebagai angka statistik saja dimata pemerintah. Sehingga teatrikal ini adalah bentuk simbolik perlawanan bahwa MBG bukan program yang baik,” ucapnya.
Alfani memaparkan rencana kegiatan aksi disepakati hingga petang dan berakhir secara kondusif.
“Kami bersepakat aksi sampai jam 17.30, setelah itu akan ditarik mundur. Akan tetapi melihat kondisi saat ini yang belum selesai, tentu Korlap akan berkoordinasi lagi,” ujar Alfani.
Alfani juga menegaskan bahwa massa aksi akan terus bergerak hingga mendapat respon yang konkret.
“Tentu kalau seandainya tidak direspons, pasti kami akan agendakan turun ke jalan lagi. Akan ada follow up dan tidak akan berhenti di sini,” titahnya.
Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), Rizaldi Rauf mengeluhkan situasi nasional yang sedang terjadi saat ini.
“Situasi nasional saat ini sudah sangat mencekik masyarakat kecil,” keluhnya.
Rizaldi menilai banyak kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakatnya.
“Melambungnya nilai dollar, kenaikan harga BBM, serta disahkannya UU Polri secara diam-diam. Tak hanya itu, Program MBG milik pemerintah merugikan kita,” tuturnya.
Reporter: Adhilni Mizaniyatul Ilmi
Editor: Azkiya Salsa Afiana


