By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Rokok dalam Lakon Kebudayaan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Esai

Rokok dalam Lakon Kebudayaan

Last updated: 5 Juli 2024 9:08 pm
Riska Ayu Maharani
Published: 5 Juli 2024
Share
SHARE
Rokok, Sejarah rokok, Budaya merokok, Rokok kretek, Rokok dan budaya Indonesia, Konsumsi rokok
Ilustrasi orang sedang memegang rokok (istockphoto.com)

Ratusan tahun lamanya, rokok menjadi terapi stres bahkan telah menjadi suatu keharusan bagi penikmatnya. Satu hari tak menghisap batang rokok rasanya seperti kehilangan sesuatu di dalam diri.

Membahas masalah rokok memang tak ada habisnya, rasanya kaum perokok tak mempan dengan kenaikan harga cukai rokok walaupun masalah kesehatan terus menghantui penikmatnya.

Pada masa pandemi, ketika seluruh sektor perekonomian terhambat, penikmat rokok mengakali rutinitas mereka dengan mengganti rokok kelas atas ke kelas bawah. Ada juga yang mengganti rokok mereka dengan rokok lintingan yang lebih murah.

Melansir dari ValidNews, Tio (28) anak muda dari Jakarta Selatan mengaku bahwa dengan mengonsumsi rokok lintingan, lebih irit dibanding harus beli rokok siap hisap. Hal ini bisa jadi jurus jitu agar bisa tetap merokok tanpa terganggu krisis keuangan di era pandemi.

Rokok bukan sekedar asap. Pembicaraan mengenai rokok menjadi hal yang rumit karena setiap orang memiliki argumen-argumen yang sifatnya personal dam subjektif. Melekatnya rokok pada kebiasaan mayoritas masyarakat Indonesia menciptakan sebuah budaya dan ritual di belahan Indonesia tertentu.

Misalnya di Pacoten, Madura, masyarakat Desa Pinang menggunakan rokok sebagai bentuk undangan pernikahan. Tradisi ini menduduki strata sosial. Semakin kaya tamu undangan, semakin mahal rokok yang digunakan. Artinya, semakin besar pula jumlah sumbangan (amplop) yang harus diberikan.

Bergeser ke Pulau Sumatera, saat prosesi adat Batak Angkola, penyelenggara acara menyediakan rokok di dalam sebuah gelas yang diletakkan di antara tokoh-tokoh masyarakat yang hadir. Kebiasaan ini sudah menjadi budaya turun-temurun, seperti pada acara marpege-pege (musyawarah pernikahan), memberi makan anak perempuan yang baru menikah, dan lain sebagainya.

Bukan budaya lokal

Rokok adalah produk hasil olah rasa dan kreativitas leluhur. Pada sebatang rokok, muncul ekspresi jiwa yang terpancar pada penikmatnya. Entah dijadikan sebagai penghilang stres, teman membaca koran, atau mengiringi diskusi ringan. Rokok selalu nampak pada jagongan-jangongan di malam hari. Diiringi secangkir kopi hitam dengan pemandangan langit penuh bintang.

Menurut Ketua Pusat Pengendalian dan Pengawasan Tembakau (TC-SC), Kartono, merokok adalah pengaruh budaya luar. Budaya merokok lahir dari suku Indian di Amerika, kemudian dikenalkan oleh bangsa Eropa. Setelah masuk ke Eropa inilah, rokok menyebar hingga penjuru dunia.

Rokok pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada abad ke-17 oleh pedagang Eropa, terutama dari Belanda. Pada awalnya, rokok dianggap sebagai barang mewah dan diperuntukkan bagi kaum bangsawan dan pejabat kolonial. Namun, seiring berjalannya waktu, rokok mulai menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Pada masa kolonial, industri rokok berkembang pesat di Indonesia. Belanda memperkenalkan perkebunan tembakau dan memanfaatkan tenaga kerja lokal untuk mengolah daun tembakau menjadi produk rokok.

Indonesia memiliki ciri khas dalam rokoknya, salah satunya adalah rokok kretek. Kretek adalah rokok tidak berfilter yang terbuat dari tembakau dan cengkeh. Penggunaan cengkeh dalam rokok kretek mulai dikenal saat masa kolonial.

Berawal dari sesak napas yang dialami, Naji Djamhari bereksperimen untuk membuat sebuah rokok yang lebih sehat dengan mencampurkan beragam rempah seperti cengkeh ke dalam lintingan tembakau untuk dihisap. Ia pun berhasil menemukan rokok pereda sesak nafas. Perada sesak ini dihasilkan oleh cengkeh yang ada.

Dalam perkembangannya, kretek dibagi menjadi kretek tangan yang dibuat oleh tangan manusia tanpa diberi filter dan kretek mesin yang terbuat dari mesin-mesin dengan tingkat presisi tinggi.

Saat ini, industri rokok di Indonesia masih tetap menjadi industri yang menguntungkan. Dibuktikan dengan munculnya berbagai varian pruduk dengan bermacam merek. Hadir pula vape atau rokok elektrik di tengah masyarakat. Namun, perlu ditekankan bahwa perlu ada batasan dalam konsumsi rokok agar sehat dan terhindar dari penyakit.

Riska Ayu

Hak Buruh Perempuan yang Terabaikan
Tak Usah Resah, Indeks Prestasi Bukan Harga Mati
MJO Dalang di Balik Drama Banjir Semarang
Mencari Kebenaran dalam Bongkahan Mitologi
Konsumerisme Gaya Baru Mahasiswa, Selamat Jalan Aktivis
TAGGED:budaya merokokkonsumsi rokokrokokrokok dan budaya indonesiarokok kreteksejarah rokok
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Esai

Cinta atau Harapan, Mana yang Sebenarnya Menyakitkan?

Afridatun N
7 Agustus 2019
Earth Hour Gelar Aksi Swicth Off Sebagai Wujud Cinta Pada  Bumi
Mahasiswa UIN Walisongo Soroti Ketidakjelasan Informasi Banding UKT 2024
Pengalaman Kuliah di Luar Negeri, Salsabiela Teliti Isu Boikot dan Jadi Skripsi Terbaik UIN Walisongo
Belajar Pengawasan Pemilu Lewat Kartun
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Rokok dalam Lakon Kebudayaan
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Rokok dalam Lakon Kebudayaan
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?