By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Manusia yang Kehilangan Jati Dirinya
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Manusia yang Kehilangan Jati Dirinya

Last updated: 30 November 2021 11:38 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 30 November 2021
Share
SHARE
Sumber: idntimes

Ketika melihat pencapaian yang didapat teman atau orang-orang di sekitar, apa reaksi kalian? Memacu diri sendiri untuk mengejar dan melampaui mereka atau justru tenggelam dalam rasa pesimisme yang dalam, bahkan merasa menjadi manusia yang paling rendah?

Jika kalian mengalami reaksi yang kedua, merasa minder atas pencapaian orang lain dan menganggap diri sendiri sebagai orang yang tak bermakna, kalian patut berhati-hati. Bukan berhati-hati dari orang lain, berhati-hatilah pada diri sendiri.

Kehilangan kepercayaan diri menjadi salah satu tanda seseorang tengah mengalami krisis identitas. Krisis identitas sendiri disebabkan oleh ketiadaan jati diri dalam jiwa seseorang.

Padahal, Fahruddin Faiz, seorang filsuf muda mengatakan bahwa jati diri sangat penting ada dalam jiwa manusia sebagai pilar eksistensi diri. Tanpanya, seseorang tidak akan mengenali dirinya sendiri.

Hal tersebut bukanlah hal yang sepele. Tidak bisa mengenali diri sendiri bisa menciptakan ketakutan yang berlebih untuk bertindak dan menentukan jalan hidup.

Krisis identitas ini bisa memendam potensi seseorang untuk berkembang lebih jauh. Bagaimana diri akan berkembang jika hatinya sendiri tidak memiliki keberanian melangkah ke depan? Hidup tanpa optimisme sama dengan hidup tanpa tujuan.

Pahamilah ungkapan Cogito Ergo Sum milik Descartes, “Aku berpikir maka aku ada”. Rangkaian kata itu penuh dengan optimisme. Itu bermaksud bahwa yang paling penting di dunia ini ialah eksistensi diri, keberadaan seseorang itu sendiri.

Maka menemukan jati diri dengan mencoba memahami diri sendiri menjadi kunci awal menghadapi krisis identitas. Dengan begitu, kalian tahu senjata apa yang dibutuhkan dan bagaimana menggunakannya dalam menghadapi jalan di depan dan membentuk eksistensi.

Kalian tidak ingin bukan, terus berada dalam fase krisis identitas? Di mana pikiran-pikiran negatif dapat dengan leluasa menguasai dan membuat kalian rentan mengalami frustrasi, depresi, dan berujung kehilangan akal sehat.

Penulis: Eva Salsabila A

Simulakra dan Cermin Kejahatan Anak
Salah Mengungkapkan Kekesalan di Media Sosial, Mengancam Hubungan Pertemanan
Stockholm Syndrome; Saat Korban Kejahatan Membela Pelaku
Kafe Gethe Semarang, Teh Klasik Kental dengan Sejarah
Perlunya Edukasi Sampah Sejak Dini
TAGGED:artikelKehilangan jati diriKrisis identitastidak percaya diri
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Norwegian Wood, Kematian, Eksploitasi Seksual, Resensi Norwegian Wood, Haruki Murakami, Buku Haruki Murakami
Buku

Belenggu Kematian dan Eksploitasi Seksual

Eka Rifnawati
31 Desember 2024
HMJ HPI Berhasil Datangkan 26 PTAI Se-Indonesia dalam Formahii
Ini 11 Pondok Pesantren Dekat UIN Walisongo
Tanggapan Wamenag RI dan Rektor UIN Walisongo atas Aksi Jilid II
Kisah Pilu Ketika Kemarau Panjang Melanda
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Manusia yang Kehilangan Jati Dirinya
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Manusia yang Kehilangan Jati Dirinya
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?