By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Stockholm Syndrome; Saat Korban Kejahatan Membela Pelaku
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Artikel

Stockholm Syndrome; Saat Korban Kejahatan Membela Pelaku

Last updated: 28 Juli 2022 8:52 pm
Erlita Mirdza Septyasningrum
Published: 28 Juli 2022
Share
SHARE
Korban kejahatan, membela pelaku
Ilustrasi kejahatan membela pelaku: Pixabayp

Apa yang terpikirkan dalam benak anda ketika mendengar seorang pelaku kejahatan justru menjadi pembela terhadap pelaku kejahatan? Apakah hal semacam ini benar-benar ada? Atau justru settingan demi mendapatkan popularitas semata?

Orang yang—dalam hal ini korban—melakukan pembelaan terhadap pelaku kejahatan, dalam kajian psikologi dinyatakan sebagai Stockholm syndrome. Sindrom Stockholm atau Stockholm Syndrome adalah reaksi psikologis yang ditandai oleh rasa simpatik atau kasih sayang yang muncul dari korban penculikan terhadap pelaku.

Stockholm Syndrome muncul sebagai mekanisme pertahanan diri yang bisa dilakukan secara sadar atau tidak sadar oleh korban. Pada dasarnya, reaksi pertahanan diri membuat seseorang menunjukkan perilaku atau sikap yang berlawanan dengan apa yang sesungguhnya mereka rasakan atau harusnya lakukan.

Barangkali, kita mungkin akan dibuat keheranan oleh korban yang justru menjadi kawan bagi pelaku. Tapi, hal ini memang nyata terjadi. Ada semacam kedekatan psikologi yang membuat korban menjadi lebih peduli terhadap pelaku.

Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu korban membela pelaku. Pertama, pelaku kejahatan seperti penyandera menunjukkan kebaikan berlebih kepada korban atau yang disandera. Kedua, kejadian yang dialami dan berlangsung lama, membuat tekanan yang besar pada korban dan pelaku. Dan ketiga, korban tidak menyadari, Karena rasa saying terhadap perlaku melebihi logikanya.

Dilansir dari IDN Times, para psikolog menganggap Stockholm syndrome adalah gangguan yang ada pada diri manusia, pada saat system bertahan di lingkungan yang tidak bersahabat lemah. Umumnya gejala yang akan dialami oleh para penderita Stockholm syndrome terdiri dari 3 aspek, di antaranya aspek social, di mana korban memiliki rasa kegelisahan dan paranoid terhadap pelaku. Kedua, emosional berupa adanya ketakutan, keputusasaan, hingga ketidakberdayaan. Ketiga, aspek kognitif yang membuat korban merasakan kebingungan, delusi hingga ingatan yang kabur.
Selain aspek diatas, gejala penderita Stockholm syndrome umunya mirip dengan penderita post traumatic stress disorder (PTSD).

Saat ini tidak ada perawatan khusus untuk para penderita Stockholm Syndrome, hanya saja diberikan obat-obatan yang sama dengan pasien penderita PTSD.

Penulis: Erlita Mirdza S

Tumpuk-Menumpuk Beban Guru Gaptek
Virus Corona Menghantui, Kemanusiaan Masyarakat Diuji
Sertifikasi Halal dan Diskriminasi Identitas
Harmoni Cinta dalam Pendidikan
Tips Berpuasa bagi Penderita Diabetes
TAGGED:korban kejahatanmembela pelaku
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
DEMA UIN Walisongo, DEMA-U, Kronologi konflik DEMA UIN Walisongo, Intimidasi DEMA-U UIN Walisongo, UIN Walisongo
UIN WalisongoVaria Kampus

Kronik Viralnya Konflik DEMA-U dan Akun Anonim Seminggu ke Belakang

Redaksi SKM Amanat
21 April 2024
5 Cara Mindfulness agar Hidup Lebih Fokus
Wajib Ma’had Jadi Syarat KRS dan Sidang Skripsi Maba UIN Walisongo 2023
Habib Ali: Tidak Pantas Bertanya Alasan Perayaan Maulid Nabi
Ismail Sampaikan Harapan untuk Kemajuan UIN Walisongo dalam Saintek Bersholawat
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Stockholm Syndrome; Saat Korban Kejahatan Membela Pelaku
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Stockholm Syndrome; Saat Korban Kejahatan Membela Pelaku
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?