
Bertamasya, berkumpul dengan keluarga atau hanya menikmati waktu tanpa melakukan sesuatu adalah bagian kisah yang berlalu ketika liburan pandang usai. Peralihan dari suasana santai ke kehidupan penuh aktivitas pekerjaan menghadirkan perubahan hati yang fluktuatif sehingga kembali ke rutinitas bekerja atau sekolah akan terasa lebih berat.
Waktu yang biasanya dipenuhi dengan aktivitas kesibukan berubah menjadi kesempatan untuk bersantai, beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau melakukan hal-hal menyenangkan. Namun, setelah masa liburan selesai, banyak orang justru merasakan perubahan suasana hati yang tidak nyaman.
Kondisi tersebut memicu rasa hampa, sedih dan tidak memiliki semangat dalam beraktivitas. Situasi ini dikenal dengan post holiday blues, menggambarkan perasaan tidak nyaman dalam hati.
Fenomena ini memang umum terjadi, terutama setelah liburan panjang berlalu. Meski begitu, post holiday blues jangan diabaikan karena akan berpengaruh pada keseharian jika tidak dikelola dengan baik.
Bukan Gangguan Mental, tapi Perlu Diatasi
Post holiday blues merupakan kondisi psikologis seperti lelah, rasa sedih dan kehilangan motivasi yang muncul setelah liburan berakhir. Meski bukan tergolong sebagai gangguan mental klinis, post holiday blues dapat memengaruhi emosional dalam menjalani hari sehingga dapat mengganggu produktifitas seseorang.
Ada beberapa hal yang memicu post holiday blues, salah satu penyebab utamanya adalah perubahan rutinitas secara mendadak. Ketika masa libur, umumnya seseorang lebih santai dalam menjalani kegiatan. Setelah liburan berakhir dan kembali ke rutinitas kerja yang ketat dan penuh tuntutan sehingga membuat perubahan yang mendadak. Banyak orang langsung kembali ke aktivitas harian tanpa memberikan diri mereka masa untuk beradaptasi.
Selain itu, ekspektasi tinggi baik sebagai waktu untuk melepas penat atau kebahagian turut memengaruhi. Liburan yang dirasa belum maksimal dapat memicu rasa kurang puas. Hal ini berkontribusi memproduksi perasaan malas atau kecewa setelah liburan usai.
Meski hanya bersifat sementara dan akan menghilang dalam beberapa hari, post holiday blues di beberapa kasus dapat berkembang lebih parah. Menurut Psikolog Teresa Indira Andani, post holiday blues berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan mental seperti burnout, depresi, atau kecemasan jika tidak ditangani.
Menyiasati Post Holiday Blues
Mengutip dari Very Well Mind, terdapat beberapa kiat untuk mengurangi post holiday blues. Cara utama yang perlu dilakukan adalah dengan memberi jeda transisi sebelum memasuki hari kerja. Tubuh dan pikiran memerlukan waktu untuk beradaptasi. Karena itu, dengan mengisi sisa waktu liburan dengan kegiatan sederhana untuk memberi ruang adaptasi agar perubahan rutinitas tidak terasa mengejutkan.
Dalam proses penyesuaian, melakukan aktivitas yang menyenangkan dapat menjadi solusi efektif. Mencoba mendengarkan musik, menonton film, bersepeda atau hanya sekedar mengobrol bersama teman, menjadi penyangga emosi sebelum kembali ritme harian pekerja. Aktivitas menyenangkan seperti ini menjaga sauna hati agar tetap stabil dan menghindarkan tekanan berlebih pada pikiran dan tubuh.
Agar fase penyesuaian berlangsung dengan optimal, sangat dianjurkan untuk lebih perhatian terhadap diri. Tidur yang cukup, pola makan sehat dan teratur serta memberi ruang untuk merefleksikan diri. Kebutuhan dasar yang terpenuhi akan berpengaruh pada energi untuk menghadapi rutinitas.
Ketika kondisi sudah mulai terbiasa dan stabil, langkah berikutnya adalah dengan menetapkan rencan capaian kecil kedepannya. Menargetkan hal-hal sederhana justru dapat lebih efektif membangkitkan semangat dibanding langsung ke tujuan besar. Karena setiap hal kecil yang telah tercapai dapat memberi rasa kepercayaan diri yang perlahan menyokong motivasi untuk melangkah lebih jauh.
Pada akhirnya, upaya menghadapi post holiday blues bukan hanya untuk kembali produktif secepat mungkin. Namun tentang melatih diri untuk menata ulang ritme kerja secara bertahap untuk menjaga produktivitas tetap stabil. Sehingga tidak memaksakan diri dan terjebak pada tekanan untuk mengejar ketertinggalan. Tubuh dan pikiran yang diberi ruang adaptasi akan lebih seimbang sehingga dapat memulai hari dengan optimal serta menjauhkan diri dari burnout.
Penulis: Nugrahening Catur Wulansari
Editor: Hikam


