By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mengingatkan Perjuangan Mahasiswa yang Belum Tuntas
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Opini

Mengingatkan Perjuangan Mahasiswa yang Belum Tuntas

Last updated: 12 Juli 2018 11:56 pm
Sigit A.F
Published: 6 Maret 2017
Share
SHARE
Ilustrasi: Doc.google.com

Di zaman pasca-modern ini, common enemy mahasiswa tidak seperti angkatan 28, 45, 66, atau 98. Jika musuh angkatan 28 dan 45adalah kolonialisme, kemudian musuh angkatan 66 dan 98 adalah rezim otoriterianisme, lalu musuh mahasiswa sekarang siapa? Pergerakan dinamika mahasiswa yang tidak jelas hanya akan mengaburkan visi mahasiswa itu sendiri dalam eksistensinya. Atau kita malah masih menggunakan visi lama yang tidak kontektual dengan zaman?

Penjajahan memang telah berakhir.Namun, perlu disadari bahwakekuatan asing mengalihkan strategi dan taktik untuk tetap menjaga esensi kolonialisme. Pengerukan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Indonesia, lalu dibawa ke negeri penjajah merupakan tujuan utama kolonialisme. Oleh sebab itu setelah negeri ini merdeka, Indonesia seolah menjadi ‘lahan basah’ bagi negara-negara maju.

Presiden Soekarno sudah mengingatkan ancaman itu setelah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Ia menyadari bahwa kolonialisme bermetamorfosa ke bentuk baru. Karenanya, ia berdiri berdiri pada gerakan politik non-blok supaya tidak dihegemoni negara-negara maju. Ia juga memeloporiadanya poros Asia-Afrika sebagai kekuatan baru di dunia.

Namun kekhawatiran Soekarno ternyata dikaburkan presiden ke-dua Soeharto. Pada tahun 1967, muncul undang-undang PMA (Penanaman Modal Asing). Setelah itu, modal asing mulai membanjiri negeri, menguasai SDA dalam berbagai sektor dengan legitimasi undang-undang.Salah satunya adalah PT Freeport Indonesia (1967), pertambangan raksasa asal Amerika Serikat yang bermukim di Irian Jaya. UU tersebut membolehkan penguasaan SDA di Indonesia selama 30 tahun.

Meskipun Soeharto telahdilengserkan, sistem yang diwariskan telah mengakar kuat di negeri ini. Membutuhkan tenaga yang mungkin sebanding dengan tenaga rakyat Indonesia dalam memproklamirkan kemerdekaan. Terlihat kini alotnya perundingan antara pemerintah dengan Freeport setelah dibuatnya PP No. 1 tahun 2017—padahal tidak sedikit pertambangan di pelosok negeri ini yang dikuasai asing.

langkah pemerintah untuk merubah Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Pertambangan Usaha Khusus (IUPK) terhadap PT Freeport Indonesia (FI) merupakan kebijakan yang tepat. Penyerahan 51 persen saham FI kepada pemerintah atau swasta nasional adalah hal yang wajar karena pertambangan tersebut ada di Indonesia. Negara memang harus mempunyai kuasa yang lebih terhadapa SDA yanga ada.

Selama penguasaan SDA Indonesia mayoritas di tangan asing, sampai kapanpun bangsa ini akan menjadi negara miskin. Ke-jahiliyah-an tesebut harus segera diakhiri jika rakyat menginginkan sejahtera dan berdikari secara ekonomi di kancah dunia.

Refleksi Malari

Malapetaka15 Januari 1974 yang dikenal sebagai peristiwa Malarimerupakan demonstrasi terbesar mahasiswa sejak didirikannya Orba.Tindakan mahasiswa pada waktu itu adalah penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang membuka jalan bagi investor asing menguasai SDA Indonesia.Peristiwa yang berujung kerusuhan dengan menewaskan sedikitnya 11 orang, 300 korban luka-luka dan penahanan terhadap 775 orang hanya berakhir dengan pembungkaman rezim terhadap aspirasi.Praktis, setelah pembungkaman ini kita tidak mendengarkan lagi penolakan masif dari mereka, ‘para aktivis’.

Padahal, jika kini kita dapat mereflekskan kembali kegelisahan mahasiswa pada waktu itu, mungkin kita akan mendapatkan jawaban dari kondisi negara sekarang.

Sejatinya, penentuan common enemy dalam dinamika perjuangan mahasiswa adalah untuk menentukan fokus pergerakan. Tiadanya fokus, hanya akan menyebabkan kekuatan mahasiswa terpecah-pecah. Alhasil, energi akan terbuang tanpa hasil yang berarti.

Mahasiswa harus kembali menjadi creative minority (minoritas kreatif). Golongan yang menurut Edward Shills (1980) memiliki kecukupan paradigma pikir, analisis dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Bukan malah mencurahkan segenap daya dan upayanya hanya untuk menuntaskan Sistem Kredit Semester (SKS), sistem warisan Orba dengan maksud menjadikan mahasiswa hanya back to campus.

Mahasiswa seyogyanya mengawal terus kebijakan tersebut, karena sangat berarti bagi segenap rakyat Indonesia, tidak malah sibuk dengan politik praktis dan meramaikan isu SARA yang ada.

Sigit A F
Mahasiswa Fakultas Ushuluddin
dan Humaniora UIN Walisongo Semarang
Impor Rektor, Ketergantungan Indonesia pada Asing
Bayang Akademik Non-akademik Setelah Lulus Kuliah
Mengapa Kita Harus Percaya dengan Mulut Politisi?
Apalagi Setelah Pesta Ketidaktahuan Diri?
Sumatra Jadi Peringatan, Papua Adalah Kesempatan
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Keinginan Hidup, Keinginan hidup normal, Film Sleep Call, Resensi film Sleep Call, Film mental health, 
Film

Dualisme Keinginan Hidup Normal

Bayu Setyawan
2 Agustus 2024
Imbas Longsor, Perbaikan Kantin FST UIN Walisongo Diperkirakan Capai 400-600 Juta
Rektor Wajibkan Civitas Akademika UIN Walisongo Kenakan Pakaian Ala Santri
Kurangi Stigma Negatif HIV-AIDS, An-Niswa Gelar Seminar Hari Aids Sedunia
Tabloid SKM Amanat Edisi 70
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Mengingatkan Perjuangan Mahasiswa yang Belum Tuntas
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Mengingatkan Perjuangan Mahasiswa yang Belum Tuntas
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?