
Di dunia perkuliahan, kesibukan seringkali dijadikan patokan keberhasilan. Mahasiswa yang ikut banyak organisasi, sibuk rapat, ambil magang di sela-sela kelas, bahkan merintis usaha kecil-kecilan, kerap dianggap lebih hebat dan lebih terpandang. Sedangkan, yang hanya kuliah dan punya waktu untuk diri sendiri, sering dinilai kurang ambisius dan kurang berkembang.
Tanpa kita sadari, hal ini mulai membentuk kebiasaan di mana kelelahan menjadi sesuatu yang dibanggakan. Padahal, lelah sendiri bukanlah prestasi.
Hal tersebut tidak muncul begitu saja, salah satu akar dari permasalahan ini adalah karena tekanan sosial untuk selalu terlihat produktif. Di media sosial, kita sering lihat postingan teman yang sedang rapat, ikut acara besar, atau pamer kegiatan non-stop. Seperti yang dikemukakan oleh Sulastri dan Ike (2022) bahwa banyak mahasiswa secara tidak sadar mengalami Fear of Missing Out (FoMO) dalam konteks akademik dan sosial yang membuat mereka merasa harus terus aktif agar tidak tertinggal dari teman-temannya.
Tekanan ini diperkuat oleh media sosial yang menjadi wadah utama dalam memamerkan kesibukan dan pencapaian. Rasanya, kalau tidak sibuk, kita seperti sedang tidak melakukan apa-apa yang berarti. Padahal, sibuk bukan jaminan sedang melangkah ke arah yang tepat.
Lebih dari itu, tekanan sosial ini perlahan-lahan mengubah cara kita mengambil keputusan, yang lebih berbahaya, tekanan ini membuat kita lupa untuk bertanya tentang hal yang sebenarnya diinginkan. Banyak mahasiswa akhirnya ikut kegiatan bukan karena tertarik, tapi karena takut disebut “mahasiswa kupu-kupu.”
Kita menumpuk tanggung jawab, mengejar semua kesempatan, sampai lupa bahwa kapasitas diri juga butuh dijaga. Akibatnya, datanglah burnout, kelelahan secara fisik, emosi dan mental yang disebabkan keterlibatan dalam jangka waktu yang panjang.
Burnout di dunia kampus bukan hal sepele. Menurut studi oleh Alimah, dkk. (2016) gejalanya bisa muncul dalam bentuk kelelahan fisik berupa sakit kepala, kelelahan emosi seperti mudah marah dan tidak semangat kuliah, serta kelelahan mental hingga menarik diri dari pergaulan.
Sayangnya, burnout ini jarang dianggap serius. Justru sering dianggap wajar. Seakan-akan, semakin lelah kita, semakin layak kita diakui. Ini adalah bentuk romantisasi kelelahan yang pelan-pelan mengikis kesehatan mental dan kebahagiaan. Menormalisasi burnout justru menjauhkan mahasiswa dari kesehatan mental yang seharusnya menjadi prioritas.
Perlu disedari bahwa tidak semua kesempatan harus diambil dan tidak ada salahnya memilih untuk beristirahat. Istirahat bukan berarti malas. Itu adalah bentuk rasa sayang pada diri sendiri, asalkan tahu kapasitas dan waktunya. Kampus juga perlu berperan, bukan hanya mendorong mahasiswa untuk aktif, tetapi juga menyediakan ruang yang aman bagi mereka yang ingin bernapas sejenak.
Masa kuliah seharusnya menjadi waktu untuk bertumbuh secara utuh, bukan hanya di atas kertas sertifikat atau pengalaman organisasi. Kita butuh lebih banyak mahasiswa yang berani berkata, “Aku butuh jeda,” tanpa rasa bersalah. Pada akhirnya, tubuh dan pikiran yang sehat jauh lebih bernilai daripada gelar “mahasiswa super sibuk” yang perlahan-lahan mengikis kebahagiaan dari dalam diri.
Maka dari itu, penting bagi mahasiswa untuk mengubah pola pikir ini. Istirahat tidak bisa melulu diartikan sebagai bentuk kemalasan. Sebaliknya, seperti dijelaskan oleh Siah & Tan (2016), self-care dan waktu istirahat yang cukup justru berkontribusi pada pencapaian akademik yang lebih baik dan peningkatan kesejahteraan psikologis.
Nadia S. A.


