By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ketika Sibuk Dianggap Prestasi, Burnout Dinormalisasi
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
burnout, gejala burnout, dampak psikologi burnout, dampak burnout mahasiswa, gejala gangguan mental
Ilustrasi seseorang yang sibuk (istockphoto.com).
Opini

Ketika Sibuk Dianggap Prestasi, Burnout Dinormalisasi

Last updated: 23 Mei 2025 7:00 pm
Nadia Safwa Aqila
Published: 23 Mei 2025
Share
SHARE
burnout,  gejala burnout, dampak psikologi burnout, dampak burnout mahasiswa, gejala gangguan mental
Ilustrasi seseorang yang sibuk (istockphoto.com).

Di dunia perkuliahan, kesibukan seringkali dijadikan patokan keberhasilan. Mahasiswa yang ikut banyak organisasi, sibuk rapat, ambil magang di sela-sela kelas, bahkan merintis usaha kecil-kecilan, kerap dianggap lebih hebat dan lebih terpandang. Sedangkan, yang hanya kuliah dan punya waktu untuk diri sendiri, sering dinilai kurang ambisius dan kurang berkembang.

Tanpa kita sadari, hal ini mulai membentuk kebiasaan di mana kelelahan menjadi sesuatu yang dibanggakan. Padahal, lelah sendiri bukanlah prestasi.

Hal tersebut tidak muncul begitu saja, salah satu akar dari permasalahan ini adalah karena tekanan sosial untuk selalu terlihat produktif. Di media sosial, kita sering lihat postingan teman yang sedang rapat, ikut acara besar, atau pamer kegiatan non-stop. Seperti yang dikemukakan oleh Sulastri dan Ike (2022) bahwa banyak mahasiswa secara tidak sadar mengalami Fear of Missing Out (FoMO) dalam konteks akademik dan sosial yang membuat mereka merasa harus terus aktif agar tidak tertinggal dari teman-temannya.

Tekanan ini diperkuat oleh media sosial yang menjadi wadah utama dalam memamerkan kesibukan dan pencapaian. Rasanya, kalau tidak sibuk, kita seperti sedang tidak melakukan apa-apa yang berarti. Padahal, sibuk bukan jaminan sedang melangkah ke arah yang tepat.

Lebih dari itu, tekanan sosial ini perlahan-lahan mengubah cara kita mengambil keputusan, yang lebih berbahaya, tekanan ini membuat kita lupa untuk bertanya tentang hal yang sebenarnya diinginkan. Banyak mahasiswa akhirnya ikut kegiatan bukan karena tertarik, tapi karena takut disebut “mahasiswa kupu-kupu.”

Kita menumpuk tanggung jawab, mengejar semua kesempatan, sampai lupa bahwa kapasitas diri juga butuh dijaga. Akibatnya, datanglah burnout, kelelahan secara fisik, emosi dan mental yang disebabkan keterlibatan dalam jangka waktu yang panjang.

Burnout di dunia kampus bukan hal sepele. Menurut studi oleh Alimah, dkk. (2016) gejalanya bisa muncul dalam bentuk kelelahan fisik berupa sakit kepala, kelelahan emosi seperti mudah marah dan tidak semangat kuliah, serta kelelahan mental hingga menarik diri dari pergaulan.

Sayangnya, burnout ini jarang dianggap serius. Justru sering dianggap wajar. Seakan-akan, semakin lelah kita, semakin layak kita diakui. Ini adalah bentuk romantisasi kelelahan yang pelan-pelan mengikis kesehatan mental dan kebahagiaan. Menormalisasi burnout justru menjauhkan mahasiswa dari kesehatan mental yang seharusnya menjadi prioritas.

Perlu disedari bahwa tidak semua kesempatan harus diambil dan tidak ada salahnya memilih untuk beristirahat. Istirahat bukan berarti malas. Itu adalah bentuk rasa sayang pada diri sendiri, asalkan tahu kapasitas dan waktunya. Kampus juga perlu berperan, bukan hanya mendorong mahasiswa untuk aktif, tetapi juga menyediakan ruang yang aman bagi mereka yang ingin bernapas sejenak.

Masa kuliah seharusnya menjadi waktu untuk bertumbuh secara utuh, bukan hanya di atas kertas sertifikat atau pengalaman organisasi. Kita butuh lebih banyak mahasiswa yang berani berkata, “Aku butuh jeda,” tanpa rasa bersalah. Pada akhirnya, tubuh dan pikiran yang sehat jauh lebih bernilai daripada gelar “mahasiswa super sibuk” yang perlahan-lahan mengikis kebahagiaan dari dalam diri.

Maka dari itu, penting bagi mahasiswa untuk mengubah pola pikir ini. Istirahat tidak bisa melulu diartikan sebagai bentuk kemalasan. Sebaliknya, seperti dijelaskan oleh Siah & Tan (2016), self-care dan waktu istirahat yang cukup justru berkontribusi pada pencapaian akademik yang lebih baik dan peningkatan kesejahteraan psikologis.

Nadia S. A.

Menelusuri Penyebab Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan
Pengaruh Algoritma Media Sosial terhadap Gaya Hidup
Paradoks Keadilan dan Antitesisnya
Kejahatan Seksual pada Siswa, Krisis Moral Pendidik?
Rokok Itu Menenangkan atau Mematikan
TAGGED:Burnoutdampak burnout mahasiswadampak psikologi burnoutgejala burnoutgejala gangguan mental
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Maling Helm, Pria Ini Akhirnya Terciduk

Mohammad Iqbal Shukri
16 November 2017
Kejahatan Orang-orang (yang Katanya) Saleh
Pernah Gagal Bukan Berarti Kamu Tidak Bisa Sukses
Kenalkan Permainan Tradisional pada Anak-anak Kota Demi Cegah Kepunahan Budaya Tradisional
Wirda Mansyur dan Iqbalina Zahro Meriahkan Pembukaan Harlah HMJ Biologi
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Ketika Sibuk Dianggap Prestasi, Burnout Dinormalisasi
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Ketika Sibuk Dianggap Prestasi, Burnout Dinormalisasi
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?