Cegah Burnout, Lestri Kusumah Tekankan 4 Aspek Empowerment bagi Calon Psikolog

HMJ Psikologi UIN Walisongo menggelar Seminar Nasional Psychoreflection 2026 bersama CEO Psytalk Indonesia, Lestri Kusumah guna membahas pentingnya self empowerment bagi calon psikolog

3 Min Read
Lestri Kusumah sedang menyampaikan materi dalam Seminar Psychoreflection 2026 di Auditorium 2 Kampus 3, Kamis (15/10/2026).(Amanat/Atiqoh).
lestri kusumah, self empowerment psikolog, ceo psytalk indonesia, psychoreflection 2026, uin walisongo
Lestri Kusumah sedang menyampaikan materi dalam Seminar Psychoreflection 2026 di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (15/10/2026). (Amanat/Atiqoh).

Amanat.id- Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar Seminar Nasional di Auditorium 2 Kampus 3, Kamis (15/10/2026).

Bertajuk “Empower Growth, Shape the Future, Impact the World” merupakan puncak dari rangkaian agenda Psychoreflection 2026 yang menghadirkan Lestri Kusumah, praktisi asal Sukabumi sekaligus CEO Psytalk Indonesia.

Dalam pemaparannya, Lestri menekankan bahwa seorang calon psikolog tidak hanya dituntut untuk memahami kondisi mental orang lain, melainkan juga harus mampu memberdayakan diri sendiri terlebih dahulu.

“Terkadang kita kuliah di psikologi hanya belajar tentang orang lain, tetapi tidak diajarkan bagaimana psikolog agar tidak mengalami burn out. Jadi perlu adanya mindfulness terhadap diri sendiri,” ujar Lestri.

Menurut Lestri, tantangan self-empowerment serupa dengan kondisi sosial di Indonesia yang sarat berita negatif dan dinamika lingkungan, namun hal itu seharusnya tidak menjadi penghalang untuk terus berkembang.

“Tantangan self-empowerment itu seperti situasi sosial di Indonesia; maraknya berita negatif atau dinamika lingkungan jangan sampai menjadi batu sandungan untuk terus berkembang,” terangnya.

Ia mengatakan perjuangan profesi psikolog WNI tergolong berat lantaran membutuhkan calon psikolog yang mandiri dalam mengolah potensi diri serta adaptif terhadap lingkungan.

“Calon psikolog dituntut mandiri memaksimalkan potensi diri sekaligus adaptif terhadap lingkungan. Kita tidak bisa menampik bahwa jalan memperjuangkan profesi psikolog bagi WNI masih cukup berat,” tegasnya.

Lestri mendefinisikan esensi dari empowerment sebagai sebuah proses penguatan kapasitas personal. Ketika seseorang memiliki tingkat pemberdayaan diri yang tinggi, mereka akan lebih cakap dan mandiri dalam mengambil keputusan hidup.

“Empower bukan hanya suatu aktivitas yang bermakna untuk diri sendiri, tetapi kondisi mampu dan mempunyai pengaruh di lingkungan sekitar maupun kapasitas diri, sehingga dapat mengambil keputusan,” lanjutnya.

Ia menekankan self empowerment harus mencakup dari berbagai aspek sebagai bentuk pemberdayaan dalam diri.

“Empowerment itu perlu memenuhi beberapa aspek, yang pertama ada meaning yaitu suatu aktivitas yang terasa terhubung dengan kita,” tuturnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan competence, yaitu kemampuan atau kewenangan seseorang untuk melakukan suatu tugas.

“Yang kedua competence, yaitu dapat menentukan atau memutuskan sesuatu aktivitas yang perlu dilakukan,” katanya.

Lestri mengungkapkan bahwa seseorang memiliki empowerment jika mempunyai kesempatan untuk melakukan sesuatu.

“Untuk self determination yang berarti kita mempunyai ruang untuk melakukan sesuatu,” terangnya.

Ia pun turut menuturkan bahwa impact merupakan suatu tindakan yang berpengaruh terhadap suatu lingkungan.

“Terakhir ada impact yang berarti suatu tindakan kita memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitarnya,” tutupnya.

Reporter: Rosyidah Atiqoh
Editor: Azkiya Salsa Afiana

Share This Article
Surat Kabar Mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Untuk mahasiswa dengan penalaran dan takwa.