Angkat Konflik Remaja dan Orangtua Antarkan Rach Madita Jadi Wisudawan Terbaik FPK

Sempat berkuliah di perguruan tinggi lain sebelum berkuliah di UIN Walisongo hingga akhirnya dengan kegigihannya, Rach Madita berhasil menjadi wisudawan terbaik FPK setelah membahas konflik antara orang tua dan anak di SMP Negeri 10 Semarang

3 Min Read
Potret Rach Madita, Wisudawan Terbaik FPK tampil Anggun sambil memegang ijazah kelulusannya, Sabtu (1/11/2025). (Dok. Khusus).
Wisudawan Terbaik FPK, Rach Madita, Wisuda UIN Walisongo, UIN Walisongo, Wisuda ke-98
Potret Rach Madita, Wisudawan Terbaik FPK tampil Anggun sambil memegang ijazah kelulusannya, Sabtu (1/11/2025). (Dok. Khusus).

amanat.id- Mengangkat skripsi yang berjudul “Pengaruh Keterlibatan Ayah Terhadap Harga Diri Siswa Kelas VIII Peran Kontrol Diri Sebagai Moderator di SMP Negeri 10 Semarang” mengantarkan Rach Madita meraih gelar wisudawan terbaik Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) pada wisuda ke-98 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di Gedung Prof. TGK. Ismail Yaqub Kampus 3, Sabtu (1/11/2025).

Dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) summa cumlaude 3.91, wisudawan kelahiran Semarang tersebut termotivasi dari isu tingginya konflik antara remaja dengan orangtuanya.

“Alasan mengangkat tema ini karena saat remaja ada masa di mana konflik antar orang tua dengan anak itu tinggi,” jelasnya.

Menurutnya kontrol diri sangat penting bagi kehidupan seorang remaja.

“Bila remaja tersebut mampu mengontrol diri dengan baik, dia tetap dapat mengelola dirinya,” imbuhnya.

Rachma menuturkan penelitiannya bukan hanya ditujukan untuk orang tua, tetapi juga membuka pandangan untuk para remaja.

“Sebagai seorang anak, kita juga tidak bisa menuntut orang tua harus bersikap seperti apa, peran remaja adalah bagaimana agar mampu mengelola perilaku yang dapat bermanfaat baik untuk dirinya sendiri.” ujarnya.

Mahasiswa yang kerap disapa Rachma itu mengaku sempat berkuliah di universitas lain yang saat itu merupakan salah satu masa sulitnya.

“Saya sempat berkuliah di kampus lain selama 2 semester di jurusan akuntansi, yang mana hal itu di luar keinginan saya karena tidak diperbolehkan orang tua gapyear tanpa kuliah,” tuturnya.

Saat itu, dirinya merasa kesulitan menjalani kuliah di kampus lain karena bukan renjananya.

“Saya merasa sangat kesulitan karena jurusan itu paling saya hindari, sampai-sampai sulit untuk tidur,” jujurnya.

Dengan kegigihannya, Rachma membuktikan dapat berhasil menggapai jurusan yang diimpikan.

“Saya ingin membuktikan ke orang tua, bahwasanya saya masih ingin memperjuangkan jurusan impian dan akhirnya berhasil,” sambungnya.

Rachma juga sempat tidak menyangka ketika mendapatkan predikat wisudawan terbaik FPK.

“Tidak menyangka mendapat predikat ini, karena saya bukan tipe orang yang suka berekspetasi lebih. Jadi, saat bisa mendapatkan gelar ini syukur Alhamdulillah,” katanya.

Baginya, fokus pada satu pekerjaan dan dituntaskan adalah kunci utama menjalani perkuliahan.

“Sebenarnya saya tidak merancang strategi yang banyak. Hanya fokus buat mengerjakan dan menyelesaikan, gitu aja,” ucapnya.

Selama menjalani kesibukan perkuliahan, Rahma mengobati kejenuhannya dengan menerapkan metode art-teraphy.

“Biasanya, cara aku menghilangkan kejenuhan itu dengan melukis, seperti berkarya seni sebagai cara meluapkan emosi,” jelasnya.

Ia menekankan agar selalu menanamkan jiwa keberanian disaat bimbang menentukan keputusan hidup.

“Dalam hidup, yang paling berharga itu bukanlah garis akhir, tetapi keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika arah tidak lagi hadir,” tutupnya.

Reporter: Fatih Rizqan

Editor: Yumna Amiliatun Nida 

Share This Article
Surat Kabar Mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Untuk mahasiswa dengan penalaran dan takwa.