
Amanat.id- Ajeng Selvia Maharani, Mahasiswi Program Studi (Prodi) Sosiologi menjadi lususan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 3,81 dalam wisuda ke-98 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di Auditorium II kampus 3, Sabtu (1/11/2025).
Mahasiswi asal Tangerang tersebut berhasil menerbitkan artikel ilmiah yang berjudul “Harmoni Tradisi dan Sejarah: Kajian tentang Sedekah Bumi dan Tasyakuran di Petilasan Genuk Kemiri Kadipaten Pati Jawa Tengah.”
Ajeng tertarik meneliti tradisi sedekah bumi dan tasyakuran di Petilasan Genuk Kemiri. Sekaligus Kadipaten Pati atau Kota Pati merupakan kampung halaman orang tuanya.
“Saya meneliti Genuk Kemiri karena di sana masih ada tradisi sedekah bumi dan tasyakuran. Tetapi, petilasan ini belum banyak diketahui orang. Kebetulan juga bapak saya asalnya dari sana,” ujarnya.
Ajeng menambahkan bahwa Petilasan Genuk Kemiri yang ada dalam penelitiannya tersebut merupakan cikal bakal berdirinya Kadipaten Pati.
“Walaupun daerah Genuk Kemiri ini sekarang sudah berganti nama, tapi petilasan yang ada di Genuk Kemiri ini merupakan cikal bakal berdirinya Kadipaten Pati,” tambahnya.
Ia menjelaskan tradisi sedekah bumi dan tasyakuran yang dilaksanakan di Petilasan Genuk Kemiri diadakan lima tahun sekali dalam rangka Hari Lahir Kota Pati. Prosesi tersebut akan dilaksanakan melalui proses boyongan dari Genuk Kemiri ke Alun-Alun Simpang Lima Kota Pati.
“Setiap lima tahun sekali ada boyongan (pindah). Sedekah bumi dan tasyakuran dilaksanakan di petilasan kemudian diboyong ke alun-alun. Rangkaian acaranya banyak, ada karnaval dan gunungan dari hasil bumi berupa buah, sayur, dan lain-lain,” jelasnya.
Ia juga turut senang karena proses submit artikel ke jurnal terhitung cepat, hanya butuh waktu enam bulan.
“Kata dosen pembimbing, proses submit artikel saya ke jurnal terbilang cepat karena biasanya butuh waktu satu tahun hanya untuk submit. Tapi saya bisa dalam enam bulan saja,” terangnya.
Meskipun sempat terkendala narasumber sebab harus mencari juru kunci dan data yang valid, Ajeng pantang menyerah menyelesaikan penelitiannya.
“Kendalanya di narasumber. Petilasan ini kan ada juru kunci dan tidak semua dapat menceritakan kembali kisahnya, harus dari tokoh adat. Untungnya dapat diambil datanya,” tuturnya.
Ajeng menjelaskan proses pengerjaan artikel ilmiahnya dibagi dalam dua sesi. Semester pertama fokus pada riset dan penyusunan. Kemudian, di semester berikutnya disubmit ke jurnal dan menghadapi revisian. Penelitian Ajeng juga sempat ditolak oleh jurnalnya sehingga mengharuskannya mensubmit ke jurnal lain.
Ia berpesan kepada mahasiswa UIN Walisongo yang saat ini masih berjuang menyelesaikan tugas akhirnya. Menurutnya jangan takut untuk terlambat karena hari ini bukan akhir, tapi perjalanan untuk hidup yang baru.
“Untuk teman-teman yang sedang skripsian, jangan takut untuk terlambat sebab cepat belum tentu tepat, dan terlambat belum tentu benar-benar terlambat karena hari ini bukan akhir tapi hari ini adalah perjalanan untuk hidup yang baru,” katanya.
“Jangan takut gagal, jangan takut berbeda. Dinikmati saja proses skripsinya, nangis juga tidak apa-apa,” pungkasnya.
Reporter: Naili Zumna H.



