
Amanat.id- Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen, Muhamad Husni Mubarok meraih wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.91 pada wisuda sarjana ke-102 yang digelar di Auditorium II Kampus 3, Sabtu (7/11/2026).
Wisudawan asal Tegal tersebut berhasil menyelesaikan studinya dengan skripsi berjudul “Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, dan Leverage terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus pada Perusahaan yang Tercatat di Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2021-2025)”.
Penelitian tersebut menganalisis kondisi keuangan perusahaan berkaitan dengan nilai perusahaan, serta sejauh mana kebijakan dividen berperan dalam hubungan tersebut.
Pencapaian tersebut tidak pernah terlintas dalam benaknya. Pasalnya, sejak awal perkuliahan Husni justru tidak memiliki motivasi yang begitu besar. Ia juga mengaku bahwa IPK pada masa awal kuliah masih berada di tingkat menengah. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai beradaptasi dan menemukan semangat bertumbuh.
“Seiring waktu, saya mulai beradaptasi. Berawal dari keterpaksaan, lama-kelamaan menjadi terbiasa. Saya berprinsip melakukan yang terbaik karena tiap hal yang dimulai harus dituntaskan,” titahnya.
Meski telah mantap memilih UIN Walisongo, perjalanan Husni selama menjalani perkuliahan tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru.
“Saat itu, saya kesulitan menemukan teman yang cocok, yang benar-benar bisa mendukung dan memotivasi agar kami sama-sama bertumbuh menjadi lebih baik. Namun, setelah beberapa semester, saya mulai beradaptasi dan menemukan teman serta lingkungan yang cocok sehingga bisa berkembang bersama,” ungkapnya.
Di balik perjalanan kuliahnya, Husni memiliki pengalaman menghadapi kegagalan. Sebelum memasuki dunia perkuliahan, ia beberapa kali mengikuti seleksi sekolah kedinasan, tetapi belum berhasil. Ia juga pernah mencoba mengikuti seleksi CPNS. Pengalaman tersebut justru menjadi salah satu dorongan baginya untuk lebih serius menjalani perkuliahan.
Ada satu nasihat sederhana yang masih ia ingat, yaitu menuntaskan apa yang telah dimulai.
“Ketika perjalanan menggunakan ojek, seorang pengemudi memberi saya nasihat agar ia menyelesaikan kuliah terlebih dahulu sebelum kembali mencoba mengikuti seleksi lainnya,” ujarnya.
Selain menjalani perkuliahan, Husni juga mengambil sejumlah pekerjaan paruh waktu.
“Saya pernah bergabung dengan tim katering, wedding organizer (WO), dan tim rebana. Pekerjaan tersebut saya lakukan ketika tidak ada jadwal kuliah, seperti pada akhir pekan atau hari libur,” katanya.
Dukungan keluarga menjadi salah satu alasan Husni bertahan menyelesaikan pendidikannya.
“Ibu penjual jajanan di pasar, ayah petani di kampung. Selain ayah dan ibu, kakak juga turut membantu pembiayaan selama saya menempuh pendidikan di UIN Walisongo,” tuturnya.
Selama menjadi mahasiswa FEBI, Husni juga pernah dipercaya menjadi asisten dosen dan berkesempatan menyampaikan materi kepada mahasiswa di beberapa kelas.
“Saya pernah menjadi asisten salah satu dosen yang mana hal tersebut sangat berkesan. Dari pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar sekaligus mengembangkan kemampuan diri,” jelasnya.
Berbagai pengalaman selama kuliah membuat Husni menyadari pentingnya memperluas relasi dan berani mencoba hal baru.
“Saya yang awalnya hanya memiliki beberapa teman akhirnya memahami bahwa membangun hubungan dengan banyak orang dapat membuka kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama,” titahnya.
Husni berpesan kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan perkuliahan agar tidak mudah menyerah dan tetap teguh pada tujuan.
“Alon-alon asal kelakon. Walaupun berjalan perlahan, yang penting tetap sampai pada tujuan,” pesannya.
Reporter: Syabita Oktavia Nur Pratiwi
Editor: Azkiya Salsa Afiana

