
Amanat.id- Di balik capaian predikat wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Siti Nur Aisyah menyimpan kisah perjuangan sekaligus penelitian yang mematahkan anggapan umum tentang lingkungan pesantren dan minat menabung di bank syariah pada wisuda ke-100 yang berlangsung di Auditorium II Kampus 3, Sabtu (23/5/2026).
Aisyah lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94 melalui skripsi berjudul “Pengaruh Kontrol Diri, Literasi Keuangan Syariah, dan Lingkungan Sosial terhadap Minat Menabung Santri di Bank Syariah.” Tema tersebut dipilih karena ia melihat masih banyak santri yang belum tertarik menggunakan bank syariah meski hidup di lingkungan pesantren dan kampus Islam.
“Aku ingin tahu sebenarnya apa yang memengaruhi minimnya minat mereka untuk menabung di bank syariah,” ungkapnya.
Dari penelitiannya, Aisyah menemukan bahwa lingkungan sosial pondok pesantren dan literasi keuangan syariah tidak selalu berpengaruh terhadap minat santri menggunakan bank syariah.
“Yang menarik, hasil penelitianku justru tidak sesuai teori. Lingkungan sosial pondok pesantren dan literasi keuangan syariah ternyata tidak berpengaruh terhadap minat santri menggunakan bank syariah,” ujarnya.
Di tengah persaingan yang ketat dengan teman-teman sekelas yang memiliki nilai hampir sama, ia sempat pesimis untuk meraih predikat terbaik. Namun, sejak awal perkuliahan, ia telah menargetkan menjadi wisudawan terbaik.
“Aku tidak menyangka bisa jadi wisudawan terbaik karena persaingan dengan teman sekelas sangat ketat dan aku sempat menyerah. Sejak awal kuliah aku memang punya target jadi wisudawan terbaik supaya bisa lanjut S2 gratis agar tidak membebani orang tuaku yang bekerja sebagai petani,” ujar Aisyah.
Perjalanan kuliahnya tidak selalu mudah. Pada awal perkuliahan, ia harus beradaptasi dengan jurusan Perbankan Syariah karena sebelumnya berasal dari jurusan IPA.
“Aku dulu anak IPA, jadi awal-awal merasa nggak cocok di jurusan ini dan harus beradaptasi belajar ekonomi, akuntansi, dan manajemen. Tapi, aku selalu berpikir kalau sudah mulai ya harus diselesaikan,” katanya.
Meski kuliah sambil mondok, ia tetap aktif di berbagai kegiatan, mulai dari organisasi hingga lomba tingkat nasional.
“Selama kuliah di Perbankan Syariah, aku aktif di organisasi, ikut lomba-lomba ekonomi syariah, seminar nasional, short course di Jogjakarta, sampai jadi presenter internasional dan lomba esai tingkat nasional,” ujarnya.
Di balik kegiatan yang padat, Aisyah memiliki prinsip sederhana dalam mengatur waktu. Baginya, kuliah tetap menjadi prioritas utama.
“Sedikit-sedikit dikerjakan terus. Jadi setiap ada waktu kosong langsung nyicil tugas karena kalau sudah sampai pondok biasanya sudah capek,” jelasnya.
Salah satu titik terberat yang ia rasakan selama kuliah terjadi pada semester tujuh. Saat seluruh berkas seminar proposal (sempro) telah siap dikumpulkan, ia justru mengalami kecelakaan.
“Ketika itu seluruh berkas sempro telah siap didaftarkan untuk sidang, aku justru mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi hingga proses pemulihan hampir dua bulan,” ungkapnya.
Kini, setelah resmi menyelesaikan studinya di UIN Walisongo, Aisyah bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan menjadi dosen.
“Aku ingin lanjut S2 dan jadi dosen agar ilmunya bisa bermanfaat untuk orang lain,” tutupnya.
Reporter: Fadhil Fatin
Editor: Irbah Fatin


