
Amanat.id- Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo menyelenggarakan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Psikologi sebagai salah satu rangkaian Psychoreflection 2026 dengan tema “Ignition Awareness for Safe and Sustainable Community” di Ruangan B.3-9, B.3-10 dan B.3-11 Gedung Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) Lantai 3, Sabtu (19/9/2026).
Ketua Pelaksana Psychoreflection 2026, Wardah Zakiah Rahmadani menjelaskan tema yang menjadi dasar kegiatan tersebut.
“Tema yang diangkat adalah ‘Ignition Awareness for Safe and Sustainable Community’, yang menjadi landasan konsep kegiatan dalam menumbuhkan kesadaran dan semangat menuju komunitas yang aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia memaparkan tiga cabang lomba yang digelar dalam Psychoreflection 2026.
“Psychoreflection 2026 terdiri atas tiga cabang lomba, yaitu Lomba Poster, Lomba Cerdas Cermat, dan Reels Contest,” paparnya.
Ia menambahkan peserta LCC merupakan mahasiswa Psikologi, sedangkan dewan juri terdiri dari dosen Psikologi dan SDM UIN Walisongo yang berpengalaman.
“Lingkup pesertanya adalah mahasiswa Psikologi secara nasional dengan dewan juri yang terdiri dosen Psikologi dan melibatkan SDM UIN Walisongo yang berpengalaman,” jelasnya.
Ia menjelaskan LCC Psycoreflection 2026 memiliki keunikan karena menggabungkan pengetahuan psikologi dengan suasana kompetisi yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kerja sama tim.
“Keunikannya terletak pada perpaduan antara pengetahuan psikologi dan suasana kompetisi yang seru. Peserta tidak hanya dituntut mengetahui jawaban, tetapi juga harus cepat, tepat, dan mampu bekerja sama dalam tim,” lanjutnya.
Menurutnya, antusiasme peserta cukup tinggi selama mengikuti LCC Psycoreflection 2026.
“Terdapat 12 anggota di setiap kelas yang mewakilkan 3 delegasi, dengan total 4 kelas dari angkatan 2025. Antusiasme peserta cukup tinggi, terlihat dari keaktifan mereka selama mengikuti rangkaian lomba serta semangat dalam menjawab setiap pertanyaan,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, ia menyebut beberapa aspek yang menjadi tantangan utama selama proses LCC Psycoreflection 2026 berlangsung.
“Tantangan utamanya terletak pada penyusunan konsep, aspek teknis perlombaan, koordinasi antarpanitia, hingga memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana,” tuturnya.
Ia mengatakan antusiasme peserta dan panitia selama perlombaan menjadi momen yang paling berkesan baginya.
“Momen paling berkesan adalah saat melihat peserta dan panitia sama-sama antusias selama perlombaan berlangsung sehingga rasa lelah dalam persiapan seakan terbayar lunas di momen tersebut,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan Psycoreflection 2026 dapat menjadi ruang bagi mahasiswa FPK untuk memperluas relasi dan menumbuhkan semangat akademik.
“Diharapkan peserta memperoleh tambahan wawasan mengenai psikologi, sekaligus melatih kemampuan berpikir cepat, kerja sama tim, dan keberanian berkompetisi. Bagi mahasiswa FPK secara umum, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang untuk memperluas relasi dan menumbuhkan semangat akademik,” katanya.
Salah satu peserta LCC psycoreflection 2026, Azalia Balqis Muqoddas mengatakan mendapatkan informasi perlombaan LCC dari teman sekelasnya.
“Awalnya memang ditawarin sama teman sekelas yang panitia, terus dipikir-pikir boleh juga ya coba-coba hal baru,” ujarnya.
Azalia mengatakan timnya tidak melakukan latihan khusus, melainkan membagi materi yang dikuasai dan meminta bantuan teman jika ada materi yang belum dipahami.
“Tidak ada latihan khusus. Kami hanya membagi beberapa materi yang sudah dikuasai dan minta bantuan teman jika ada materi yang sekiranya belum kami pahami,” jelasnya.
Dalam persiapan materi, ia mengatakan setiap anggota mendapatkan bagian materi yang berbeda sehingga tidak ada materi yang tumpang tindih.
“Kami belajarnya per orang dibagi dapat materi apa aja, jadi kami lumayan all out dalam mempersiapkan materi. Tidak ada yang tumpang tindih, semua sama banyaknya,” tuturnya.
Ia menyebut babak penyisihan menjadi bagian paling menegangkan selama perlombaan. Namun, babak tersebut juga membuat timnya lebih optimistis untuk melanjutkan perlombaan.
“Babak penyisihan adalah babak paling menegangkan menurut kita. Babak ini yang jadi pembuka bahwa kita itu bisa dan membuat kita lebih optimis,” ucapnya.
Setelah mengikuti lomba, Azalia mengatakan dirinya memperoleh wawasan baru sekaligus rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap ilmu psikologi.
“Rasa keingintahuan yang muncul dalam diri saya, juga mendapatkan insight baru karena banyak hal yang ternyata belum saya ketahui. Banyak materi atau studi kasus yang sebenarnya relevan, tapi masih bingung dalam pengaplikasian ilmu psikologi,” jelasnya.
Reporter: Rosyidah Atiqoh
Editor: Romaito


