
Amanat.id- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar seminar nasional dengan tema “Optimalisasi Aktivitas Fisik dalam Membangun Kesadaran Serta Kesehatan Gen Z” di Gedung Teater Perpustakaan Kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (4/6/2026).
Kepala Pelatih Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Taekwondo Jawa Tengah Aceh Sumatera Utara, David Hasan Barutu Sinaga menjelaskan tantangan melatih generasi saat ini yang kehidupannya serba mudah dan cepat.
“Tantangan yang dihadapi sekarang adalah melatih generasi z yang terbiasa serba cepat dan mudah sehingga minim daya juangnya,”katanya.
Ia memaparkan dalam meraih kejuaraan dimulai dari hal sederhana yakni disiplin.
“Untuk meraih kejuaraan atau kesuksesan, dimulai dengan hal sederhana yaitu disiplin,” terangnya.
David melanjutkan, bentuk disiplin bukanlah sebuah hukuman melainkan kebiasaan yang menajdi pola.
“Disiplin bukanlah soal hukuman, tetapi sebuah kebiasaan. Contohnya seperti datang tepat waktu, menghormati pelatih, menyelesaikan program latihan, menjaga pola tidur dan menjaga asupan gizi,” tuturnya.
Bagi David, menjadi juara dalam perlombaan harus berbekal disiplin, bukan hanya motivasi semata.
“Disiplin dapat mengalahkan motivasi. Motivasi sifatnya naik turun, sedangkan disiplin merupakan pola yang dibangun secara konsisten harus tetap berjalan apapun kondisinya. Seorang juara bukan hanya mengandalkan semangat dan mood saja,” titahnya.
Ketika maju pada suatu perlombaan, David menjelaskan bahwa chemistry antara pelatih dan atlet sangat berperan.
“Pelatih percaya atlet dan sebaliknya, tanpa kepercayaan dan chemistry program sehebat apapun tidak akan berhasil,”ujarnya.
Menurutnya, prestasi besar lahir dari rasa saling percaya antara atlet dengan pelatihnya.
“Jika tidak memiliki chemistry antara pelatih dan atlet, musuh atlet bukan hanya lawannya, tetapi pelatih yang di belakang juga jadi musuh,”katanya.
Ia berpesan bagi atlet atau mahasiswa biasa untuk mulai berolahraga.
“Mulai bergerak dan berolahraga karena itu investasi masa depan, percuma uang banyak tapi habis untuk pengobatan,” tutupnya.
Reporter: Dwi Endang Setyorini


