
Virus Hanta tengah menjadi sorotan dunia, dimulai setelah adanya kabar meninggalnya salah satu awak kapal pesiar MV Hondius. Virus tersebut diduga berasal dari seorang warga Belanda yang terpapar saat berada di Argentina sebelum naik kapal.
Korban diketahui merupakan pasangan suami istri asal Belanda, Leo schilperoord (70) dan Mirjam Shcilperoord (69) yang sedang melakukan perjalanan mengamati burung di Amerika Selatan sejak akhir 2025. Mereka diduga terpapar Virus dari lingkungan yang tercemar cairan tubuh tikus pembawa Virus Hanta.
Setelah berlayar, Virus Hanta mulai menyebar di antara penumpang. World Health Organization (WHO) mengonfirmasi bahwa virus yang ditemukan adalah Varian Andes. Jenis tersebut dapat menular dari manusia ke manusia melalui interaksi. Kasus ini menjadi perhatian internasional karena penularan ke manusia tergolong langka.
Berbeda dengan Covid-19
WHO menyampaikan pada laman resminya, bahwa Virus Hanta berjenis zoonosis yang secara alami dikeluarkan oleh hewan pengerat seperti tikus dan ditularkan kepada manusia. Kasus pertamanya diketahui setelah adanya penderita yang berhasil diisolasi pada tahun 1978. Ia terjangkit virus dari penyebarannya melalui tikus kecil berjenis apodemus agrarius di dekat sungai Hantan.
Penemuan tersebut memperkuat dugaan adanya keterkaitan dengan kasus demam berdarah yang dialami para tentara perang Korea. Karena pada masa perang, banyak tentara harus tinggal di tempat seadanya dengan kondisi kebersihan yang tidak terjaga. Mereka bertahan di tenda, parit, maupun bangunan kosong yang tidak terawat. Kondisi tersebut membuat banyak lokasi menjadi sarang tikus, dan situasi menjadi berbahaya ketika para tentara tanpa sengaja bersentuhan dengan tikus yang telah terjangkit virus. di pegunungan, hutan, dan pedesaan dengan kondisi kebersihan yang seadanya. Sehingga mereka tidur di tenda, parit, atau bangunan kosong yang menjadi habitat tikus liar pembawa virus.
Virus Hanta secara alami hidup dalam tubuh hewan pengerat seperti tikus sebagai inang alaminya melalui proses koevolusi yang berlangsung selama ribuan tahun. Pada kondisi tertentu, virus ini dapat menular ke manusia ketika seseorang terpapar lingkungan yang telah terkontaminasi oleh hewan pengerat. Penularannya dapat terjadi melalui gigitan, kontak langsung dengan urine, kotoran, atau air liur tikus. Penyebarannya dapat juga melalui inhalasi aerosol, yaitu ketika seseorang tanpa sengaja menghirup debu atau partikel udara yang telah tercemar Virus Hanta.
Dalam perkembangannya, muncul banyak varian yang tersebar di benua Asia, Eropa sampai Amerika. Namun, Varian Andes yang berasal dari Benua Amerika yang memiliki potensi kematian tertinggi. WHO memperkirakan tingkat kematian akibat virus ini sebesar 50%, sedangkan kasus di Asia berkisar <1–15%.
Gejala awal Virus Hanta memiliki kemiripan dengan Covid-19 atau influenza yang sama-sama menyebabkan gangguan pernapasan dan demam. Namun penyebarannya berbeda dengan penyakit pernafasan seperti Covid-19. Virus Hanta memiliki karakteristik yang berbeda dengan Covid-19 yang menyebar antar manusia melalui batuk dan bersin. Virus hanta menular melalui udara yang terkontaminasi kotoran dan urine tikus. Berbeda dengan Varian Andes yang ditularkan melalui kontak erat sesama manusia.
Sudah Terdeteksi di Indonesia
Mengutip dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) , Virus Hanta pertama kali terlacak di Indonesia sekitar tahun 1980-an. Kajian yang telah dilakukan di berbagai kota besar menemukan superelevasi sebesar 11%. Dengan kata lain, ada setidaknya 10 orang di kota besar yang terpapar Virus ini, meskipun kemungkinan tidak pernah terdiagnosis.
Kondisi penyebaran Virus Hanta di Indonesia, baik manusia maupun hewan masih belum diketahui secara menyeluruh, walaupun sejumlah kasus sudah pernah dilaporkan. Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa infeksi Virus Hanta, termasuk varian seoul, telah ditemukan di masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, dalam Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora) yang dilaksanakan pada tahun 2015 sampai 2018 di 29 provinsi, menemukan adanya rodensasi yang membawa virus hanta. Hewan pembawa virus tersebut diketahui tersebar di berbagai lingkungan, seperti area pemukiman, kawasan pertanian, dan wilayah hutan.
Menurut keterangan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, saat ini terdapat dua kasus suspek di Jakarta dan Yogyakarta. Sedangkan dalam kurun waktu 2024 sampai 2026 terkonfirmasi ada 23 kasus positif terjangkit Virus Hanta dengan tiga orang meninggal dunia.
Hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah penyebaran Virus Hanta. Namun, terdapat tindakan yang dapat meminimalisir dengan kontrol populasi hewan pengerat serta mencegah kontak dengan urine, tinja dan air liur. Selain itu, menutup lubang-lubang untuk memastikan tidak ada yang masuk serta menjaga kebersihan rumah, sehingga kontak dengan hewan pengerat dapat diminimalisir.
Penulis: Evelyn Atha Nasywa
Editor: Hikam Abdillah


