
Amanat.id- Postingan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di akun @demauinsmg yang berisikan foto para Brand Ambassador (BA) Walisongo Campus Ambassador (WCA) dengan tulisan “Brand Ambasador Hanya Sebagai Ikon Seremonial Bukan sebagai Ikon Intelektual” memicu kontroversi, Selasa (21/4/2026).
Postingan tersebut menimbulkan berbagai macam komentar, di antaranya akun @tnt**** yang mengarah pada WCA.
“Bisu dan tuli adalah kemampuan mereka dalam menghadapi isu kampus,” tulisnya di kolom komentar.
Terdapat komentar lain justru mempertanyakan peran DEMA UIN Walisongo terkait tidak ada banding Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk mahasiswa.
“Perihal kayak gini diurusin. Dua tahun ngga ada banding UKT diem-diem aja,” tulis akun @paknawis***.
BA WCA 2025, Intan Muthoharoh mengatakan ia tidak diharuskan menanggapi postingan tersebut.
“Sebagai WCA menanggapi postingan ini sebenarnya tidak diharuskan,” ujarnya saat diwawancarai tim Amanat.id, Senin (20/4/2026).
Menanggapi hal tersebut, dirinya menilai bahwa ranah protes yang dilakukan oleh DEMA UIN Walisongo kurang tepat karena menyeret nama WCA yang notabenenya bukan sebagai politik kampus.
“Ranah yang dilakukan oleh DEMA UIN Walisongo kurang tepat karena mereka ingin melakukan protes terhadap kampus, tetapi malah menyeret WCA yang notabenya bukan politik kampus hingga kami dikatakan bisu dan tuli terhadap masalah kampus,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa WCA UIN Walisongo dibawahi langsung oleh Wakil Rektor (WR) III, akan tetapi ranahnya berbeda dengan DEMA UIN Walisongo dan Senat Mahasiswa (SEMA).
“Kami memang dibawahi langsung oleh WR III, akan tetapi ranahnya sangat berbeda dengan DEMA atau SEMA UIN Walisongo, di mana mereka yang memiliki kewenangan dengan birokrasi langsung,” tambahnya.
Intan menilai, urusan dengan birokrasi merupakan diluar ranah tugas WCA.
“Berbicara dengan birokrasi itu di luar ranah WCA UIN Walisongo. Tugas kami membantu humas karena interaksi yang terjalin terhadap mahasiswa dan calon mahasiswa baru. Jadi jika dihubungkan dengan bisu dan tuli, itu memang di luar ranah kami,” ujarnya.
Sejalan dengan Intan, WCA 2023, Indira Ananda berpendapat fungsi advokasi mahasiswa berada pada DEMA, jadi kritik terhadap kampus seharusnya bukan kepada mahasiswa yang tidak memiliki kewenangan pengambilan keputusan.
“Perlu dipahami bahwa fungsi advokasi mahasiswa berada pada lembaga seperti DEMA, jadi kritik terhadap kampus seharusnya diarahkan pada kebijakan dan struktur, bukan mahasiswa yang tidak memiliki kewenangan pengambilan keputusan,” ucapnya.
Sebagai mahasiswa yang pernah menjadi WCA, Indira melihat bahwa postingan tersebut merupakan kritik yang sah.
“Saya melihat postingan tersebut sebagai kritik yang sah. Namun, klaim yang disampaikan perlu dipertanyakan yang mana hal tersebut lebih berpotensi menciptakan kesalahpahaman dan polarisasi daripada solusi,” ujarnya.
Ia menilai bahwa mengaitkan WCA dengan hilangnya daya kritis mahaswa merupakan generalisasi yang tidak objektif.
“Jika disebut kajian akademik, seharusnya terdapat hal yang jelas. Mengaitkan WCA dengan hilangnya daya kritis mahasiswa merupakan generalisasi yang tidak objektif, karena WCA bukan pengambil kebijakan maupun lembaga advokasi,” tuturnya.
Indira mengatakan bahwa sebagai WCA yang merepresentasikan kampus dengan baik bukan berarti menutup mata terhadap isu yang terjadi.
“Makna dari duta atau ambassador berarti utusan atau representasi, maka sebagai WCA kami akan merepresentasikan hal yang baik, namun tetap tidak menelan mentah-mentah dan menutup mata pada isu yang terjadi,” ujarnya.
Melihat banyak mahasiswa yang kontradiktif, dirinya beranggapan karena mahasiswa lain melihat WCA yang paling dekat dengan birokrasi.
“Melihat kami sebagai mahasiswa yang paling dekat dengan birokrasi, mereka beranggapan bahwa kami menutup mulut akan isu yang terjadi, hal ini yang menyebabkan munculnya kontradiktif dari mahasiswa, padahal banyak dari anggota kami yang ikut aksi dan menyuarakan segala isu kampus,” ucapnya.
Ketua DEMA UIN Walisongo, Moh. As’ad Hasanudin Afffandi berpendapat bahwa kontroversi yang terjadi merupakan dinamika alamiah.
“Persoalan kontroversi dari postingan tersebut merupakan dinamika alamiah dan hanya persoalan kesalahpahaman,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ia mengatakan bahwa tidak ada kalimat yang secara personal mengarah WCA.
“Jika membaca kajian secara keseluruhan, tidak ada kalimat yang secara personal menuju ke arah BA maupun WCA,” ucapnya.
Dirinya beranggapan bahwa kontroversi yang timbul akibat clickbait dan judul yang menarik.
“Yang menimbulkan kontroversi mungkin karena clickbait yang kami tampilkan dan judulnya yang menarik,” tuturnya.
Akan tetapi As’ad menyayangkan pembaca yang hanya berhenti pada judul tidak sampai isi.
“Kami menyayangkan teman-teman yang hanya berhenti pada judul bukan isi,” ujarnya.
Ia melanjutkan bahwa yang pihaknya kritik perihal sistem kampus tanpa niat menjadikan WCA sebagai pancingan.
“Yang kami kritik adalah sistem kampus, sekalipun memasukkan persoalan BA itu bukan secara personal, akan tetapi secara sistem. Dan kami tidak berniat menjadikan BA sebagai pancingan,” lanjutnya.
Dirinya berharap bahwa melalui kajian tersebut para pemangku kebijakan bisa memahami isi kajian yang dibuat.
“Kami harap kajian yang dibuat dapat tersampaikan kepada para pemangku kebijakan dan bisa memahami isi kajian yang kami buat,” harapnya
As’ad juga mengatakan bahwa pihaknya menyampaikan maaf kepada pihak yang merasa tersinggung dengan postingan tersebut.
“Kami juga meminta maaf kepada pihak yang merasa tersinggung, karena kami tidak berniat untuk secara personal menyinggung,” tuturnya.
Reporter: Dinda Alfiani


