
Amanat.id- Raut bahagia terpancar dari wajah Mukhamad Aji Ikhwanul Yunus, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ekonomi Islam yang berhasil meraih gelar wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93 pada wisuda ke-99 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo di gedung Prof. TGK. Ismail Yaqub Kampus 3, Sabtu (7/2/2026).
Mahasiswa yang akrab disapa Aji tersebut mengaku tidak menyangka mendapatkan gelar wisudawan terbaik FEBI.
“Jujur, awalnya saya tidak berekspektasi. Karena IPK masih ada yang di atas saya tapi ternyata wakil dekan 1 mengatakan penilaiannya menyeluruh, tidak hanya akademik,” ujarnya.
Menurutnya, predikat wisudawan terbaik tidak hanya ditentukan oleh capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK).
“Wisudawan terbaik itu bukan cuma soal IPK. Jujur aja, masih ada satu IPK yang di atasku, tapi juga mempertimbangkan TOEFL, IMK, prestasi, keaktifan organisasi, dan berbagai kegiatan non-akademik lainnya,” imbuhnya.
Selama masa studi Aji menorehkan beberapa prestasi yang membanggakan, termasuk menjadi Penerima Beasiswa Djarum Plus.
“Aku juga penerima beasiswa Djarum di tahun 2024-2025 yang mana dari UIN Walisongo total penerimanya hanya 5 orang sementara pendaftar secara nasional mencapai sekitar 21.000 dan yang lolos hanya 500 orang,” terangnya.
Selain memprioritaskan akademik, Aji juga sering mengeksplor banyak hal baru seperti mengikuti organisasi hingga berbagai komunitas.
“Akademik tetap nomor satu namun kita harus eksplor banyak hal seperti organisasi, komunitas, volunteer dan sebagainya karena siapa tahu itu jadi nilai plus kita,” ujarnya.
Menurutnya, kunci mencapai sebuah keberhasilan adalah dengan konsisten dalam mencapai tujuan dan lebih percaya proses daripada hal instan.
“Kebanyakan mahasiswa pengen yang instan, tapi saya lebih percaya ke proses, tidak apa pelan daripada tidak sama sekali karena dari hal kecil akan mendapat yang besar nantinya,” ucapnya.
Aji berhasil menyelesaikan tugas akhirnya dengan judul “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Islamic Human Development Index (I-HDI) Terhadap Tingkat Kemiskinan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sebagai Variabel Intervening di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2015-2024”.
Aji menjelaskan bahwa pengajuan skripsinya sempat ditolak dosen pembimbing sehingga ia harus melalui banyak revisi dan menjaga konsistensi bimbingan.
“Awal pengajuan ke dospem 2 ditolak, langsung suruh ganti. Hampir setiap minggu begadang untuk mengejar revisi. Tentu capek, tapi saya percaya kalau mau cepat selesai, kuncinya harus konsisten dan tidak boleh absen bimbingan,” paparnya.
Konsistensi tersebut membuahkan hasil. Aji berhasil melalui seminar proposal hingga sidang munaqosah dengan nilai sempurna.
“Alhamdulillah, prosesnya bisa saya lewati dengan lancar sampai sidang munaqosah,” ujarnya.
Di balik capaian tersebut, Ia mengungkapkan sedikit kesedihan karena ayahnya tidak sempat melihat ia berada di posisi tersebut.
“Ada kesedihan dalam diri saya karena Ayah tidak bisa melihat saya berada di posisi ini. Pada 29 Desember pagi saya sidang Munaqosah, malam harinya Ayah berpulang. Dan kebetulan, kemarin genap 40 hari kepergiannya,” ungkapnya.
Ayahnya sempat mengetahui Aji akan mengikuti wisuda pada Februari, namun belum sempat mengetahui putranya meraih predikat wisudawan terbaik.
“Bapak tahu saya akan wisuda Februari, tapi belum tahu kalau saya jadi wisudawan terbaik. Penghargaan ini saya persembahkan untuk beliau. Saya yakin beliau bangga,” tuturnya.
Aji mengingat pesan orangtuanya ketika awal berkuliah di UIN Walisongo yang sebelumnya tidak ada dalam rencana.
“Di awal masuk kuliah, saya tidak pengen di sini. Sempat terpikir, untuk apa kuliah di sini mending gap year aja. Tapi orang tua selalu meyakinkan dengan ‘coba dijalanin saja’ dan ternyata saya mendapatkan banyak hal baik disini,” pungkasnya.
Reporter: Oktavia Suci Ramadani
Editor: Romaito


