By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Sudan, Negeri yang Tak Henti Berperang
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Sudan, Perang Saudara Sudan, Perang Sudan, Perang Berdarah, Konflik Sudan
Tangkapan citra satelit yang diambil pada tanggal 3 Februari (kiri) dan 10 Februari (kanan) menunjukkan pasar utama di kamp Zamzam di Darfur Utara di Sudan diserang (Sumber:
Kolom

Sudan, Negeri yang Tak Henti Berperang

Eskalasi konflik yang memicu perang saudara di Sudan merupakan rentetan berdarah setelah satu setengah tahun lalu 14.000 orang terbunuh akibat pemboman, kelaparan, dan eksekusi di luar hukum

Last updated: 7 November 2025 10:27 am
Hikam Abdillah
Published: 7 November 2025
Share
SHARE
Sudan, Perang Saudara Sudan, Perang Sudan, Perang Berdarah, Konflik Sudan
Tangkapan citra satelit yang diambil pada tanggal 3 Februari (kiri) dan 10 Februari (kanan) 2025 menunjukkan pasar utama di kamp Zamzam di Darfur Utara di Sudan diserang (Sumber: science.org).

Dunia kembali dihebohkan dengan informasi bahwa ada ratusan ribu orang dieksekusi mati dalam kurun waktu hanya tiga hari di Sudan. Peristiwa tersebut terjadi setelah penguasaan kelompok Rapid Support Forces (RSF) di wilayah El-Fasher di Darfur Barat. Tidak main-main, jumlah korban yang terjadi beberapa hari lalu tersebut menjadi catatan kelam dalam ekskalasi perang saudara di Sudan.

Contents
Perang saudara yang tak berkesudahanMasyarakat sipil semakin terhimpit

Mengutip dari laporan Aljazirah, masyarakat di wilayah El-Fasher telah mengalami blokade oleh RSF sejak 18 bulan yang lalu. Akses mereka terhadap dunia luar luar ditutup, mengakibatkan bantuan kemanusiaan seperti makanan serta obat-obatan tidak dapat masuk. Pembatasan ini dimaksudkan untuk mencegah adanya warga yang kabur.

Dalam data laporan dari Jaringan Dokter Sudan, setidaknya ada 1.500 warga sipil tak bersenjata. Peristiwa ini merupakan rentetan berdarah setelah satu setengah tahun yang lalu 14.000 orang terbunuh akibat pemboman, kelaparan, dan eksekusi di luar hukum.

Perang saudara yang tak berkesudahan

Semenjak mendeklarasikan kemerdekaannya pada 1956 dari tangan Inggris, kondisi Sudan nyatanya tidak semakin membaik. Negeri ini mengalami dua kali perang saudara dan ketidakpastian pemerintahan akibat kudeta yang berulang kali terjadi.

Terhitung Sudan telah mengalami 35 kali kudeta militer. Dari ke 35 kudeta, terdapat enam yang berhasil, 12 gagal serta 17 lainnya digagalkan. Sehingga negeri ini mendapatkan julukan sebagai Laboratory of Coups atau Laboratorium Kudeta.

Mayoritas kudeta yang terjadi hanya seperti pergantian kekuasaan saja, dari pemimpin militer ke pimpinan militer lainnya. Pemerintahan demokratis hanya berumur pendek, setidaknya hanya ada tiga periode: 1956-1958, 1964-1969, dan 1985-1989.

Pola yang sama juga terjadi dalam peristiwa kudeta terakhir di Sudan. Mantan Presiden Omar Al Bashir digulingkan pada April 2019 lalu, di mana sebelumnya ia juga mengkudeta pemerintahan Sadiq Al-Mahdi yang terpilih secara demokratis pada tahun 1989.

Di balik keberhasilan pelengseran Presiden Omar Al-Bashir, ada dua jenderal besar yang menjadi pusat kudeta tersebut, yaitu Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan dengan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Jenderal Hamdan Dagalo yang memimpin Pasukan Reaksi Cepat (RSF).

Pasca kudeta, dua jenderal tersebut sepakat untuk mengakui kepemimpinan pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok. Namun, pada tahun 2021 mereka melancarkan kudeta karena perebutan kekuasaan antara kelompok militer dan sipil dalam pemerintahan.

Perselisihan internal terus berlanjut, ketika kelompok RSF dan SAF berseteru merebutkan legitimasi atas pengaruh juga kontrol kekayaan mineral yang strategis. Keadaan mulai memanas ketika terjadi konfrontasi bersenjata oleh pasukan RSF di beberapa wilayah. Pergerakan tersebut dinilai oleh kelompok SAF sebagai sebuah ancaman keamanan.

Pada awal minggu-minggu pertama, RSF telah berhasil menguasai sebagian Ibu Kota Khartoum dan memegang kontrol beberapa fasilitas strategis, termasuk bandara, dan istana kepresidenan.

Dari sini, perseteruan di antara keduanya mulai memasuki tahap konflik terbuka. Ketegangan berubah menjadi perang yang berkepanjangan. Beberapa kali kesepakatan gencatan senjata diambil, namun semuanya dilanggar. Warga sipil menjadi korban di tengah perebutan kekuasaan antara dua kelompok bersenjata, RSF dan SAF.

Masyarakat sipil semakin terhimpit

Pada rentan bulan Juli hingga Agustus 2024, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengirimkan tim investigasi independen ke Sudan untuk mengetahui fakta lapangan. Hasilnya, mereka menemukan adanya berbagai tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat. Kejahatan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan illegal dalam aturan perang karena pihak yang berseteru juga menyerang warga sipil.

Kedua kelompok, baik SAF dan RSF terbukti melakukan pelanggaran HAM dalam sekala besar. Mereka melakukan serangan terhadap warga sipil, sekolah, rumah sakit dan membatasi akses pasokan bantuan dari luar.

Terbaru, pasukan militan RSF merebut wilayah El-Fasher dari kelompok SAF. Penguasaan tersebut diikuti dengan peristiwa berdarah. Pasukan RSF telah melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan. Mereka melakukan penyiksaan, pemerkosaan, dan pembunuhan tanpa melalui pengadilan.

Bukti kuat datang dari citra satelit yang memperlihatkan adanyan pembunuhan secara sistematis. Hasil analisa yang diungkapkan Humanitarian Research Lab (HRL) Universitas Yale memperlihatkan objek yang ukurannya sesuai dengan ukuran tubuh manusia serta perubahan warna tanah menjadi kemerahan. Temuan tersbut didapat setelah RSF berhasil menduduki wilayah El-Fasher.

Warga sipil hidup dalam blokade total, membuat akses bantuan kemanusiaan tidak dapat masuk. Mereka bertahan dengan mengkonsumsi pakan ternak. Mereka hanya dapat melakukan pelarian demi terhindar dari pelecehan dan ancaman eksekusi.

Korban terbesar dari perang saudara di Sudan adalah masyarakat sipil, terutama komunitas non-Arab, seperti etnis Fur, Zaghawa, Berti, dan Masalit. Mereka menjadi target dari upaya pembersihan dan pengusiran sistematis. Ratusan ribu orang telah tewas, jutaan lainnya meninggalkan tanah demi mencari perlindungan.

Penulis: Hikam Abdillah

Budaya Negatif Netizen Dunia Maya
Nasib Indonesia dalam Konflik Iran-Israel dan Ancaman Perang Dunia 3
Kemajuan AI dan Sifat Kritis yang Dipertaruhkan
Media Berdarah di Tangan Pemerintah
Petaka Kucuran Sumber Daya Alam
TAGGED:konflik sudankonflik timur tengahperang berdarahperang saudara sudanperang sudansudan
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Wisudawan Terbaik FSH, FSH UIN Walisongo, Intan Permata Putri, Wisuda UIN Walisongo, IPK Terbaik UIN Walisongo
SosokWisuda

Angkat Sengketa Waris, Intan Permata Putri Raih Wisudawan Terbaik FSH dengan IPK Tertinggi UIN Walisongo

Earnest Sherin
24 Mei 2025
Birokrat FDK Akan Fungsikan Taman Dakwah Sebagai Tempat Parkir
Market Sale perbankan Syariah Tidak capai 20%, Arfan: Perlu Andil Mahasiswa
Ganjar Pranowo: Daerah Lain Bisa Tiru UIN Walisongo Hibahkan Gedungnya Untuk Isolasi Terpusat
Protes Kebijakan JKN, Ratusan Mahasiswa UIN Walisongo Demo di Depan Rektorat
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Sudan, Negeri yang Tak Henti Berperang
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Sudan, Negeri yang Tak Henti Berperang
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?