
amanat.id- Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat mengadakan Launching Video Dokumenter pada kegiatan Sarasehan Hari Lahir (Harlah) ke-42 yang bertempat di Auditorium I Kampus I, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jum’at (25/9/2026).
Videografer Dokumenter Terminal Terboyo, Lutfi Ardiansyah menjelaskan isu yang diangkat pada video Dokumenter yang bertema “Terminal Bayangan” pada Harlah SKM Amanat ke-42.
“Dokumenter mengenai Terminal Terboyo merupakan suatu problem sosial yang awalnya tidak diangkat ke publik. Tujuan launching video ini agar pers mahasiswa mampu peka sehingga tidak hanya mengangkat isu yang ada di sekitar kampus saja,” jelasnya.
Lutfi menjelaskan isu yang diangkat pada Dokumenter “Terminal Bayangan” tersebut berdasarkan pertimbangan diskusi tim dan koordinasi bersama pihak-pihak yang bersangkutan.
“Awalnya kami mengajukan beberapa isu untuk dibicarakan bersama Senior dan koordinasi bersama Koor Konten, serta melakukan analisis SWOT. Setelah melakukan berbagai analisis serta koordinasi akhirnya Isu Terminal Terboyo yang kami angkat,” katanya.
Ia mengatakan Launching Video Dokumenter dilaksanakan saat Harlah ke-42 SKM Amanat sebagai bentuk inovasi penyampaian informasi.
“Tujuannya agar para peserta terlebih Alumni mengetahui Amanat sudah semakin berkembang, jadi tidak hanya menerbitkan berita dalam koran tetapi juga bisa menyesuaikan perkembangan zaman,” paparnya.
Scripwriter Video Dokumenter, Alia Septi Refalina menjelaskan bahwa Video Dokumenter Terminal Terboyo merupakan hasil output magang spesialis konten SKM Amanat 2025.
“Video dokumenter merupakan tugas wajib bagi magang Konten Spesialis SKM Amanat setelah mengikuti pelatihan HRD, sedangkan magang Redaksi menghasilkan buletin,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa alur kerja dimulai dari pembagian tugas dan penentuan isu dengan mempertimbangkan kemudahan data serta keamanan kru dan narasumber.
“Alurnya dimulai dengan pembagian tugas dan penentuan isu. Proses ini mempertimbangkan kemudahan pencarian data serta keamanan kru dan narasumber. Angkatan 24 sempat mengganti isu yang terlalu sulit sebelum akhirnya memilih Terminal Terboyo,” titahnya.
Ia menambahkan bahwa tahap berikutnya yaitu penyusunan framing, pencarian data, serta observasi langsung ke Terminal Terboyo.
“Tahap selanjutnya meliputi penyusunan framing, pencarian data, dan survei lapangan. Kami mengobservasi Terminal Terboyo secara langsung serta membandingkannya dengan Terminal Penggaron dan Terminal Mangkang,” sambungnya.
Ia menyatakan bahwa proses produksi hanya memakan waktu 3–5 hari, tetapi riset dan pembahasan isinya membutuhkan waktu berbulan-bulan.
“Proses produksi berlangsung sekitar 3–5 hari. Namun, riset data dan pembahasan isi secara keseluruhan membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan,” ujarnya.
Alumni SKM Amanat, Imamul Muqorrobin memberikan Apresiasi atas Launching Video Dokumenter SKM Amanat.
“Teman-teman sudah keren, mampu mengevaluasi dari projek-projek dokumenter di Amanat sebelumnya,” ucapnya.
Imamul memberikan masukan terkait pengambilan berbagai footage pada video dokumenter tersebut.
“Saran saya perbanyak lagi pengambilan footage natural di luar wawancara, seperti kondisi asli Terminal Terboyo dan wajah orang-orangnya,” tuturnya.
Alumni SKM Amanat lainnya, Joko Tri Haryanto menyampaikan kebanggaannya terhadap perkembangan SKM Amanat.
“Dahulu Amanat menerbitkan tulisan-tulisan dalam bentuk buku. Sekarang, di usia yang ke-42 Amanat mampu melahirkan video dokumenter yang merupakan salah satu prestasi luar biasa,” ujarnya.
Joko memberikan nasihat kepada penerus Amanat untuk bisa menghadapi berbagai tantangan yang terjadi.
“Tantangan ke depan akan jauh lebih berat dibandingkan jaman saya, karena itu penuhi diri dengan kompetensi yang memungkinkan untuk survive di dunia yang semakin berkembang,” jelasnya.
Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Fairuz Zahran Ats-Tsaqif mengkritisi isi Video Dokumenter SKM Amanat tersebut.
“Saya suka dengan film pendek jadi tertarik dengan video tersebut. Namun, footage yang ditampilkan hanya kumpulan wawancara. Ke depannya footage bisa lebih bervariasi lagi,” tutupnya.
Reporter : Noor Saidah
Editor : Azkiya Salsa Afiana

