By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi Semarak Harlah SKM Amanat
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Harlah ke-38 SKM Amanat, SKM Amanat
Salah satu alumni SKM Amanat angkatan 94, Joko Prihariyanto saat menceritakan pengalamannya di SKM Amanat (Dok. Amanat)
Jejak Amanat

Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi Semarak Harlah SKM Amanat

Last updated: 20 September 2023 7:29 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 20 September 2023
Share
SHARE
Harlah ke-38 SKM Amanat, SKM Amanat
Salah satu alumni SKM Amanat angkatan 94, Joko Trihariyanto saat menceritakan pengalamannya di SKM Amanat (Dok. Amanat).

Mukadimah

Sebagai hasil dari pergulatan batin, puisi memiliki ketergantungan pada kemampuan penciptanya dalam meracik diksi-diksi yang dipilih. Ketika seorang penyair mampu menangkap pesan-pesan melalalui perkawinan jiwanya, puisi itu akan lahir abadi dan penuh makna.

Contents
MukadimahProses Penilaian

Tapi, kata-kata begitu miskin. Sedang realitas begitu kaya. Kadang ada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan dengan baik. Puisi yang menurut kita sudah ditulis dengan baik kadang tidak mewakili apapun. Selain hanyalah sebatas sekumpulan metafora dan kiasan yang cenderung klise dan basi.

Betapapun, puisi selalu menjadi medium atau alternatif lain dalam berekspresi. Tidak peduli betapa buruknya puisi yang kita hasilkan.

Pada lomba cipta puisi kali ini, Dewan Juri disodorkan banyak “puisi”, ini kabar baik. Berarti masih banyak orang-orang yang rela menyia-nyiakan waktunya untuk menulis puisi jelek. Tentu ini bercanda, tapi serius. Puisi-puisi yang masuk ke meja panitia masih di bawah standar. Perbandingan antara puisi yang bermutu dan yang prematur sangatlah kentara.

Penafsiran yang disodorkan cenderung mentah dan harfiah. Sebagian besar puisi bernada seragam. Hal ini membuat puisi-puisi yang yang dihasilkan hanyalah sebatas sekumpulan diksi-diksi yang meliuk-liuk, penuh curhatan, berisi petuah dan nasihat. Jauh dari realitas.

Akan tetapi, dari keseluruhan puisi yang dinilai, beberapa puisi berhasil menunjukkan kualitas penulisan yang baik. Beberapa puisi menampakkan kekayaan bacaan dan renungan. Beberapa peserta mampu menyampaikan pesan besar lewat bahasa yang sederhana namun dalam.

Memang. Menulis puisi itu tidak mudah. Baik dari segi pemilihan diksi, pendalaman tematik, penggunaan metafora, simbol, dan penyisipan renungan sangatlah dibutuhkan latihan yang berkali-ulang dan konsisten. Dewan Juri sangat memaklumi. Karena kami melihat peserta lomba rata-rata merupakan mahasiswa yang mungkin saja baru beberapa kali atau bahkan baru pertama kali menulis puisi. Tapi bagaimanapun, kemauan dan keberaniannya untuk menulis puisi perlu diapresiasi.

Proses Penilaian

Berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditentukan, setiap juri kemudian memilih tiga puisi yang dianggap memiliki kualitas lebih dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Di sinilah perdebatan tidak dapat dihindarkan. Setiap juri memiliki hak yang sama dalam memberikan argumennya, menerima atau menolak pilihan juri lain.

Meski di sana ada perdebatan, diskusi yang alot, pada akhirnya diperlukan sedikit kompromi untuk menentukan puisi-puisi yang dinilai layak dan pantas ditempatkan sebagai pemenang.

Puisi-puisi yang terpilih sebagai pemenang lomba ini sudah melalui kurasi yang panjang. Kami sepakat bahwa, puisi-puisi tersebut sudah menunjukkan kesegaran dibandingkan dengan puisi lain yang menjadi nomine dalam lomba ini.

Pilihan Dewan Juri jatuh pada puisi dengan urutan pemenang sebagai berikut:

(1) Selembar Riwayat Semu di Muka Tanah Raya

(2) Matahari Tenggelam

(3) Garis Khayal

Puisi “Selembar Riwayat Semu Di Muka Tanah Raya” secara tematik kita disuguhi tentang potret fenomena penguasa yang otoriter, korup, dan tentunya rakyat yang tertindas dengan kekayaan diksi yang menyegarkan ini turut menyumbang khazanah puisi. Cukup menarik ketika satire dan kritik sosial menghindari penggunaan bahasa lugas seperti umumnya. Pilihan kata yang meski agak hiperbolis, dapat dimaklumi karena mampu menegaskan nasib rakyat akar rumput.

Sebab, saban hari dipaksa mendera mata agar tak menjadi telaga,

memasung perut meski nyeri tak kunjung surut,

pun menegah getir walau impi tinggal sebutir.

Bait-bait yang dihadirkan seolah mempertegas paradoks kekuasaan dan keserakahan dalam mengeksploitasi

ketidakberdayaan.

Tapi sayang, pada bait berikutnya ia sangat berjubel dan terkesan dipaksakan. Hal ini berimbas pada artikulasi dan mengaburkan imaji kengerian kondisi itu bagi pembaca.

Puisi “Matahari Tenggelam” cukup piwai memotret hiruk pikuk kota-kota industri, tentu dengan manusia yang serupa mesin untuk diperas waktu dan tenagannya. Puisi dengan diksi-diksi yang sederhana dan konsisten. Puisi ini menyimpan beberapa aspek menarik yang dapat pembaca petik dalam bahasa dan pesannya.

Telah sampai pada pukul empat

waktunya kita istirahat

matahari mendarat di ufuk barat

di sisa penghabisan ini, adakah yang masih selamat?

Gambaran diksi yang sederhana. Tapi dengan kesederhanaan dan kejujurannya itu ia lepas dari makna tunggal.

Puisi “Garis Khayal” dua bait pertama dan kedua puisi ini cukup memikat, pemilihan diksi yang ringan menuntun pembaca mengenal isi pikiran penyair dan setting latar dalam kereta. Akan tetapi pada bait-bait selanjutnya justru memecahkan imaji pembaca yang kadung masuk ke dalamnya.

Puisi ini menjadi puisi yang tak selesai, penyair kehilangan keseimbangan untuk konsisten menyajikan gaya bahasa yang ia bangun di awal. Lihat saja bagaimana setelah bait kedua menjadi tak karuan yang berubah menadi puisi naratif dan terkesan bertele-tele. Tetapi tidak mengganggu pesan yang hendak disampaikan. Bisa jadi, perubahan gaya itu sekadar siasat dalam membentuk bait-bait puisi…

Pembacaan dan penilaian ringkas atas tiga puisi yang terpilih menjadi pemenang, tentu saja tidak cukup mewakili pembacaan lain atas puisi-puisi itu nantinya.

Di luar kami, tentu akan ada pembacaan-pembacaan yang lebih beragam. Oleh sebab itulah, penilaian kami bukanlah penilaian yang bersifat final, dalam arti tidak boleh ada pembacaan dan penilaian lain atas ketiga puisi tersebut.

Pun, bukan berarti puisi-puisi yang dipilih sebagai pemenang menjadi karya yang tidak memiliki celah sama sekali untuk diberi kritik dan saran. Hanya saja, inilah buah kesepakatan kami dalam lomba ini. Hakikatnya, setiap puisi akan menampakkan wajah lainnya, di hadapan pembaca yang berbeda-beda beserta tafsir-tafsirnya.

Sejauh ini, juri tidak menemukan karya yang mengandung unsur plagiarisme. Jika kelak terbukti ada karya pemenang yang mengandung unsur plagiarisme, keputusan pemenang dapat digugurkan/ dicabut. Di luar hal tersebut, keputusan juri tidak bisa diganggu gugat dan bersifat mutlak.

Jakarta, 18 September 2023

Tabloid SKM Amanat Edisi 90 Tahun 2002
SKM Amanat UIN Walisongo Juara 3 Website Terbaik Ajang LPM PTKI Challenge
Peringati Harlah, SKM Amanat Adakan Lomba Fotografi Jurnalistik dan Ilustrasi
Hijau
Resmikan Kru Magang 2024, Inilah 34 Daftar Nama Generasi Baru SKM Amanat
TAGGED:39 tahun skm amanatcipta puisi skm amanatharlah ke-39 skm amanatlomba cipta puisipuisi amanatskm amanat
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Varia Kampus

Nafilah Kembali Harumkan UIN Walisongo Dalam Lomba Debat Bahasa Arab se-Jateng

Redaksi SKM Amanat
24 Oktober 2019
Dunia Me Generation; Sebuah Perayaan Atas Budaya Narsisisme
UKM Masa Gelar Seminar Nasional, Belajar Public Speaking Bareng Founder Fakta Bahasa
Mendes PDTT: Mahasiswa Harus Mendidik Dirinya Agar Dibutukan di Dunia Kerja, Masyarakat dan Umat
Mulai Hari ini, Mahasiswa Angkatan 2012-2015 Bisa Daftar TOEFL IMKA Jalur Khusus
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi Semarak Harlah SKM Amanat
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi Semarak Harlah SKM Amanat
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?