By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Representasi Manusia dan Keserakahannya dalam Pentas “Ozone” KSK Wadas
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
KSK Wadas, Naskah Ozone, Pentas Produksi KSK Wadas, Pementasan teater, UIN Walisongo
Dua aktor dalam Pentas Produksi KSK Wadas bertajuk "Ozone" di Auditorium I Kampus 1 UIN Walisongo, Kamis (5/9/2024). (Amanat/Azkiya).
UIN WalisongoVaria Kampus

Representasi Manusia dan Keserakahannya dalam Pentas “Ozone” KSK Wadas

Last updated: 6 September 2024 2:45 pm
Redaksi SKM Amanat
Published: 6 September 2024
Share
SHARE
KSK Wadas, Naskah Ozone, Pentas Produksi KSK Wadas,  Pementasan teater, UIN Walisongo
Dua aktor dalam Pentas Produksi KSK Wadas bertajuk “Ozone” di Auditorium I Kampus 1 UIN Walisongo, Kamis (5/9/2024). (Amanat/Azkiya).

Amanat.id- Komunitas Seni Kampus (KSK) Wadas Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo mempersembahkan Pentas Produksi dengan tajuk “Ozone” di Auditorium I Kampus 1, kamis (5/9/2024).

Sutradara Pentas Produksi, Jentil menjelaskan makna dari tema naskah yang diangkat dalam pentas kali ini ialah ketidakpuasan manusia atas nikmat dari Tuhan.

“Tema yang diangkat adalah “Belenggu Angkara Dia yang Dibuat Mati Rasa” bagaimana tiga aktor utama yang selalu tidak puas dengan nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa naskah Ozone sebagai representasi kehidupan manusia di zaman sekarang.

“Naskah ini sebagai perwujudan manusia sekarang yang selalu tidak puas atas pemberian Tuhan dan keinginan untuk selalu abadi,” katanya.

Bukan hanya dari aktor, sambung Jentil, setting dan ilustrasi yang disertakan dalam pentas untuk menambah suasana dari setiap adegan.

“Kita perlu ilustrasi untuk membantu menggambarkan suasana,” tuturnya.

Adapun Asisten sutradara, Wartoyo mengatakan bahwa pesan yang ingin disampaikan dalam naskah Ozone ialah untuk tidak mati rasa sendiri.

“Dalam naskah menjelaskan bahwa kita jangan membuat mati rasa sendiri, dengan kata lain ketika kenikmatan sudah dicabut, orang tidak akan pernah lagi bisa merasakannya,” ujarnya.

Lanjutnya, naskah Ozone juga menceritakan tentang keserakahan yang ada dalam diri manusia.

“Naskah ini membahas tentang keserakahan yang ada dalam diri manusia, mereka selalu merasa kurang atas apa yang sudah diberikan,” tambahnya.

Wartoyo mengatakan bahwa inti dari pentas kali ini terdapat pada karakter bernama Semar.

“Inti dari pentas kali ini terdapat pada karakter bernama Semar, seorang dalang yang juga digambarkan sebagai Tuhan,” katanya.

Wartoyo menjelaskan bahwa naskah Ozone merupakan naskah surealis yang mereka kemas dengan realis agar lebih adaptif dalam pementasan.

“Naskah Ozone aslinya memang surealis, tetapi karena terlalu membosankan dan abstrak, makanya kami adaptasi dengan mencampurkan realis didalamnya,” jelasnya.

Sebab, sambung Wartoyo, hal tersebut dilakukan untuk memahamkan isi pesan kepada penonton.

“Kami tidak hanya ingin menyampaikan isi dari naskah, tetapi kami juga ingin memahamkan apa yang menjadi inti naskah yang dipentaskan,” jelasnya.

Selain itu, Wartoyo menambahkan bahwa naskah Ozone merupakan lanjutan dari serangkaian naskah Arifin C. Noer sebelumnya.

“Naskah ozone itu lanjutan dari naskah Arifin C. Noer sebelumnya yakni Madekur Tarkeni, Umang-umang, Sandek Pemuda Pekerja, baru selanjutnya adalah Ozone,” jelasnya.

Salah satu aktor, Liman menceritakan karakternya sebagai Waska dalam pementasan ialah gambaran seorang pemimpin yang bijak, adil, dan baik.

“Tokoh Waska sebagai pemimpin yang bijak, adil, dan bersikap baik terhadap para anak buahnya, tapi di naskah sebelumnya Waska menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan,” ucapnya.

Lanjutnya, hal yang dapat diambil dari pementasan tersebut ialah pentingnya seorang lelaki agar tidak merasa kuat selagi masih adanya sosok perempuan.

“Pesan yang terkandung untuk laki-laki jangan terlalu merasa kuat, karena perempuan ada sebagai penyeimbang,” tuturnya.

Memerankan tokoh Waska, sambung Liman, mengatur suara menjadi tantangan baginya.

“Bagi saya yang menantang dari pementasan kali ini adalah dari segi suara, dimana saya harus bersuara serak-serak tetapi dengan vokal yang keras,” ujarnya.

Meskipun demikian Liman berharap para penonton bisa memaknai pesan yang terkandung dalam naskah.

“Saya berharap para penonton bisa memaknai pesan yang terkandung dalam naskah,” tutupnya.

Reporter: Faisa Dian Kresna

Editor: Eka R.

Kajur PBI Traktir 10 Mangkok Bakso bagi Mahasiswa yang Lakukan Ini
Jamalul Lail, Penerima Beasiswa Bidikmisi Jadi Wisudawan Terbaik FUHum
Khoirul Adib, Wisudawan Terbaik dengan Prestasi Mendunia
Perbedaan Orang Idealis dan Realistis dalam Dunia Kerja
Farah Putri Beberkan Rahasia Menjaga Kesehatan Kulit
TAGGED:ksk wadasnaskah ozonepementasan teaterpentas produksi ksk wadasuin walisongo
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Resmi, FPK UIN Walisongo Sekarang Miliki WHDPC

Diah Khalimatus Sa'diyah
3 April 2017
Wali Wisudawan Keluhkan Kondisi di Luar Gedung Tempat Wisuda
Bangkai Busuk Itu Bernama Nasionalisme
Yang Tak Disentuh Gerakan Mahasiswa
Berpedoman Kepada Al Quran, Jadi Kunci Dhichah Raih Wisudawan Terbaik FST
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Representasi Manusia dan Keserakahannya dalam Pentas “Ozone” KSK Wadas
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Representasi Manusia dan Keserakahannya dalam Pentas “Ozone” KSK Wadas
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?