By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Panggil Kartini yang Telah Mati
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
(Ilusutrasi Foto: www.vice.com)
Artikel

Panggil Kartini yang Telah Mati

Last updated: 21 April 2019 8:16 am
Diah Khalimatus Sa'diyah
Published: 21 April 2019
Share
SHARE
(Ilusutrasi Foto: www.vice.com)

Pagi terdengar riuh, setiap kali hari jatuh pada 21 April. Perempuan-perempuan yang masih berada di sekolah dasar, pagi sekali telah duduk manis di bangku para perias. Mereka tenang, membiarkan wajah alaminya terpoles dengan berbagai bedak yang bertumpuk-tumpuk. Pipi dan bibir mereka menjadi merah. Belum lagi rambut yang disanggul dan badan yang terbalut jarit serta kebaya, membuat wajah kusam mereka saat bermain seketika hilang.

Ya, itu adalah sepenggal acara yang diadakan pada peringatan hari Kartini. Semacam “kontes kecantikan”. Mungkin, sebab ini pula, penjualan kosmetik di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, pada 2016 penjualan kosmetik dalam negeri mencapai Rp 36 triliun, meningkat lebih dari dua kali lipatnya dibandingkan tahun 2015 yang sebesar Rp 14 triliun. Sejak kecil, anak perempuan sudah didik untuk berias.

Namun akhir-akhir ini, banyak kritik yang dialamatkan pada pihak-pihak yang menyelenggarakan peringatan hari Kartini semacam itu. Bukan kritik yang tidak berdasar memang. Mereka tidak salah, ajaran besar Kartini memang tidak untuk berhias apalagi memakai gincu. Kartini adalah seorang pemikir.

Seperti yang disebutkan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku “Panggil Aku Kartini Saja”. Kartini adalah pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern. Dia menjadi pembaca setia surat kabar terbitan Semarang, De Locomotief dan majalah wanita Belanda, De Hollandsche Lelie. Kartini adalah pengguna teknologi komunikasi pada zamannya. Selain sebagai pembaca ulung, Kartini juga tak segan berinteraksi dengan berbagai pihak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran tentang berbagai hal. Dia mengirim surat kepada para sahabat penanya, tentang kebudayaan, kehidupan perempuan, pendidikan, dan juga agama.

Namun dimana Kartini itu sekarang?

Kartini yang dulu memperjuangkan kebebasan pendidikan dan ruang sosial bagi wanita, kini hampir hanya tinggal cerita.

Penulis melihat bahwa perempuan-perempuan di Indonesia sekarang terbagi menjadi 2, perempuan-perempuan dengan status pendidikan tinggi dan perempuan-perempuan yang tak mendapatkan kesempatan untuk mengecap itu.

Mereka, para perempuan yang memiliki kesempatan belajar di perguruan tinggi seakan-akan tinggal di menara gading. Melangit tanpa memberikan bekas kepada bumi.

Dalam rentang 5 tahun, tingkat pendidikan perempuan di Indonesia memang mengalami peningkatan. Untuk pendidikan setingkat sarjana di pedesaan saja, jumlah perempuan melampaui kaum Adam. Dari populasi masyarakat Indonesia, perempuan di pedesaan yang mengantongi ijazah sarjana pada 2015 mencapai 3,37 persen. Sedangkan laki-laki hanya 3,14 persen. Di perkotaan juga melonjak. Jika pada 2010 perempuan yang mengenyam bangku kuliah hanya 7,96 persen, tahun 2015 melonjak mencapai 10,72 persen. Walaupun masih kalah dari kaum pria yang mencapai angka 11,32 persen.

Harapannya, fakta tentang adanya perempuan-perempuan seperti di atas, dapat mengangkat derajat atau setidaknya memperjuangkan hak-hak perempuan yang masih tertindas dalam segi apapun. Namun nyatanya tidak, perempuan-perempuan dengan status pendidikan tinggi disibukkan dengan urusannya sendiri. Tanggung jawab sosial yang harusnya ada pada diri setiap individu, seakan-akan hilang dalam benak mereka.

Begitu juga dengan perempuan jenis ke dua, perempuan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Pagi sampai sore hari, mereka harus berkutat dengan keringat. Mendengarkan ocehan atau tidak jarang amarah dari atasan. Bagi mereka, menumpuk penghasilan di usia muda adalah tujuan utama. Boro-boro, memikirkan nasib perempuan lain. Kebutuhan keluarga pun masih berat membebani.

Ketika hampir perempuan mengalami hal semacam itu. Tiada lagi gagasan-gagasan brilliant, yang tercipta.

Lalu bagaimana dengan kelangsungan Kartini-Kartini Indonesia ke depan?

Penulis: Khalimatus Sa’diyah

4 Manfaaf Musik untuk Kurangi Risiko Depresi
Mencari Kebenaran Agama di Media
Kiat Menerapkan Gaya Hidup Frugal Living
Perebutan Ruang Publik dan Posisi Mahasiswa
Kesadaran Menulis dari Perjumpaan dengan Soesilo Toer
TAGGED:artikel kartinihari kartinikartini yang telah mati
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News

Adoria – Puisi Hasan Tarowan

Redaksi SKM Amanat
10 November 2017
Ratu Tiara Bagikan Tips Menjadi Jurnalis di Era Digital
Sekelumit Gulana
[Resensi Buku] Imajinasi Tak Selalu Lebih Indah dari Realita
Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Siapkan 5 Teleskop untuk Rukyatul Hilal 1444 H
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Panggil Kartini yang Telah Mati
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Panggil Kartini yang Telah Mati
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?