
Amanat.id- Kerusakan lapisan Gedung Ma’had Al-Jami’ah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo akibat hujan dan angin kencang beberapa waktu lalu telah dikonformasi oleh pihak pengelola Ma’had, Senin (2/3/2026).
Staf Ahli Ma’had Al-Jami’ah, Usfiyatul Marfu’ah menjelaskan bahwa faktor utama kerusakan tersebut disebabkan adanya curah hujan yang tinggi disertai angin kencang.
”Gedung Ma’had ada tujuh lantai, jadi lapisan bagian atas terkena angin kencang sehingga beberapa lapis itu terbang,” jelas Usfiyatul saat diwawancarai tim Amanat.id di ruangannya, Jumat (20/2).
Usfiyatul mengungkapkan bahwa saat ini pihak pengelola Ma’had tidak memegang kendali penuh atas dana perawatan skala besar.
“Perawatan yang sifatnya besar itu dananya ditarik ke Bagian Umum Universitas. Jadi kami di Ma’had tidak memegang dana tersebut secara langsung,” ungkapnya.
Ia mengatakan proses perbaikan kerusakan fisik gedung tidak bisa dilakukan secara instan.
”Kalau ada kerusakan, prosedurnya kami harus melapor dulu ke sana. Hal itulah yang membuat proses perbaikan terkesan lama,” ungkapnya.
Ia menambahkan, selama ini pihak Ma’had hanya memiliki wewenang untuk perbaikan kecil yang bersifat operasional rutin.
”Ketika ada kerusakan kecil itu baru larinya ke Ma’had seperti kebocoran ringan dan lampu mati,” tuturnya.
Ia menjelaskan untuk laporan kerusakan sudah disampaikan kepada kepala bagian umum Universitas.
”Untuk laporan sudah kami teruskan, tinggal menunggu tindak lanjut dari pihak terkait,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Subbagian (Kasub Bag) Tata Usaha dan Rumah Tangga, Mahmudi mengklarifikasi bahwa laporan dari Ma’had memang sudah diterima dan sedang ditindaklanjuti.
“Laporan dari Ma’had memang sudah diterima. Saat ini saya selaku pengelola bagian rumah tangga dan tata usaha juga sudah mencarikan pekerja untuk perbaikan,” ungkapnya saat diwawancarai tim Amanat.id di ruangannya, Senin (2/3).
Ia menjelaskan, penanganan perbaikan Ma’had cukup lama karena cuaca yang tak terduga.
“Karena kejadian ini adalah musibah dari alam dan tidak kami duga, penanganan juga membutuhkan waktu. Rekanan sudah kami tunjuk dan sudah kesini juga. Mungkin masih melakukan survey bahan dan persiapan lainnya,” jelasnya.
Mahmudi menerangkan lamanya penanganan bisa terjadi karena pertimbangan bagian lain yang dianggap sudah tidak kokoh.
“Walaupun yang rusak hanya bagian depan, saya ingin semua bagian yang kiranya sudah tidak kokoh dan kemungkinan bisa menjadi penyebab kerusakan seperti sebelumnya bisa diganti sehingga lebih aman,” tuturnya.
Ia juga menambahkan, musibah tidak hanya merugikan pihak Ma’had dan santriwati, tetapi juga merugikan warga sekitar lokasi.
“Antisipasi ini saya lakukan agar musibah tidak terjadi lagi. Karena tidak hanya instansi yang dirugikan, tapi warga sekitar juga ikut terdampak masalah dari lepasnya lapisan Ma’had ini,” jelasnya.
Mahmudi menceritakan bahwa dirinya mendapat komplain dari warga sekitar yang ikut terdampak dari rusaknya lapisan luar Ma’had.
“Puing-puing dari lapisan Ma’had berterbangan dan jatuh di atap rumah warga sehingga menyebabkan rusak dan berlubang akibat hujan. Selain itu, debu-debu akibat lepasnya lapisan luar mahad juga turut menambah kejengkelan warga,” ungkapnya.
Untuk menangani masalah tersebut pihak Kasub Bag sudah menemukan solusi bantuan untuk warga yang terdampak.
“Untuk kerusakan-kerusakan yang terjadi karena lepasnya lapisan luar Ma’had kita suruh mereka perbaiki dulu, baru kemudian total perbaikan nanti kita bantu,” jelasnya.
Mahmudi juga mengungkap bahwa perbaikan Ma’had akan dimulai perkiraan minggu depan.
“Mungkin untuk perbaikan Ma’had kita akan mulai minggu depan, tinggal menunggu rekanan konfirmasi saja,” tutupnya.
Reporter: David Setiawan & Kholifatim Muallimah
Editor: Ragil Alfiyyah



