By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Broken Home dan Stigma Negatif yang Tumbuh
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
Search
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
Ilustrasi broken home (Dokumen joss.co.id).
Artikel

Broken Home dan Stigma Negatif yang Tumbuh

Last updated: 11 Juni 2020 7:41 am
Nur Aeni Safira
Published: 11 Juni 2020
Share
SHARE
Ilustrasi broken home (Dokumen joss.co.id).

Keluarga menjadi salah satu hal yang paling berharga bagi seseorang. Di dalam keluarga pula, karakter anak pertama kali terbentuk. Namun, tidak semua keluarga dapat mempertahankan keharmonisannya dalam waktu lama. Ada keluarga yang baru berusia lima bulan dan hancur ditengah jalan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun berkeluarga namun tetap saja hancur.

Begitulah dinamika keluarga. Lingkungan keluarga yang tidak harmonis dan mengalami perpecahan akan mengarah pada kondisi broken home. Hal tersebut menjadi berbahaya manakala ada seorang anak yang tumbuh dalam keadaan broken home.

Kondisi keluarga yang semacam itu tentu berdampak pada aspek psikologis kehidupan anak. Anak akan cenderung berubah menjadi pendiam dan bahkan memberontak. Secara tidak langsung pun, orang tua tidak menyadari bahwa, tindakan yang mereka lakukan bisa mengundang stigma negatif yang berkembang di masyarakat tentang anak broken home.

Misalnya saja ketika anak tersebut melakukan kenakalan di luar keluarga. Masyarakat akan melabeli anak, seolah setiap tindakan atau kenakalan yang anak lakukan dianggap wajar karena alasan broken home.

Seperti yang diungkapkan oleh Psikolog, Kasandra Putranto bahwa stigma negatif yang diberikan oleh orang lain tentang anak broken home justru akan memicu mereka mengembangkan identitas atau perilaku seperti stigma yang melekat

Stigma negatif bisa saja membuat mereka membatasi diri dalam pergaulan sosial dan merasa menjadi beban. Bahkan, dalam beberapa kasus anak broken home menjadi lebih tertutup dan tak jarang juga yang terkena depresi. Seperti kasus bunuh diri yang terjadi pada remaja di daerah Tondano, Minahasa akibat perceraian kedua orang tuanya.

Akan tetapi, tidak semua hal yang berhubungan dengan broken home terlihat menyedihkan. Banyak yang dapat mereka pelajari dari kondisi yang dihadapi. Seperti menjadi lebih mandiri dan peka terhadap sekitar terutama perasaan orang lain.

Chatreen moko, salah satu penulis buku Broken Home (2013) yang membagikan pengalamannya sebagai anak broken home. Baginya, broken home tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk menghancurkan mimpi sendiri dan menghalangi dalam meraih cita-cita.

Dari apa yang mereka lalui, menjadi apa dan bagaimana menerimanya adalah cara mereka masing-masing. Orang luar hanya tahu apa yang terlihat di luar. Bukankah memberi label terhadap seseorang hanya karena keluarganya bukankah menyakiti orang lain?

Penulis: Nur Aeni Safira

Malas Bekerja secara Tim, Mau sampai Kapan?
Pentingnya Kesadaran Menjaga Kesehatan Mental bagi Mahasiswa
Lima Jenis Rasa Malas Ini Ternyata Membawa Dampak Positif, Apa Saja?
Kekuasaan di Atas Kemanusiaan
4 Gejala Gangguan Kesehatan Mental, Apa Saja?
TAGGED:anak korban perceraianbroken homePerceraian
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Rosa Maulida, Wisudawan Terbaik FDK, FDK UIN Walisongo, UIN Walisongo
Sosok

Sempat Ingin Pindah Kampus, Rosa Maulida Sandang Wisudawan Terbaik FDK

Redaksi SKM Amanat
7 Februari 2024
Semarak Menyambut Genwa 2018, Dema UIN Walisongo Rilis Jingle PBAK
Klasemen Sementara Medali Orsenik 2017, FITK Geser Posisi FDK
Persiapan Kalam FUHUM UIN Walisongo Munculkan Komentar di Kalangan Mahasiswa
Ironi Pelecehan Seksual di Lingkungan Pelajar
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Sosok
  • Akademik
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Broken Home dan Stigma Negatif yang Tumbuh
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Broken Home dan Stigma Negatif yang Tumbuh
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?