
Amanat.id- Dewi Nabela Sofya El-Fikri, mahasiswi Program Studi (Prodi) Psikologi meraih predikat wisudawan terbaik Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,95 pada wisuda ke-99 di Auditorium II Kampus 3, Sabtu (7/2/2026).
Mahasiswi asal Semarang tersebut mengangkat skripsi berjudul “Pengaruh Dukungan Sosial dan Kecerdasan Emosional Terhadap Resiliensi Akademik Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Baitul Abidin Darussalam Wonosobo”.
Nabela menjelaskan dua fokus utama penelitannya, yaitu dukungan sosial dan kecerdasan emosional mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik.
“Dukungan sosial merupakan faktor penting dalam perkembangan mahasiswa, sedangkan kecerdasan emosional akan menjadi bekal utama mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik maupun non akademik,” jelasnya.
Nabela mengaku bahwa yang melatabelakangi skripsinya adalah pengalaman pribadi ketika menempuh pendidikan di pondok pesantren dan tantangan akademik yang dihadapinya ketika berkuliah.
“Saya pernah merasakan struggle antara kegiatan pondok terutama hafalan dengan aktivitas kampus yang seringkali menuntut praktik. Dari situ saya belajar bahwa resiliensi sangat dibutuhkan,” tuturnya.
Nabela menjelaskan jika ia memiliki perencanaan dalam menjalani perkuliahan, salah satunya memiliki target selesai tugas akhir di semester 7.
“Karena sudah memiliki rancangan kuliah, saya mulai mengerjakan tugas akhir lebih awal dengan mengajukan judul skripsi sebelum KKN dan menargetkan selesai pada semester 7,” ujarnya.
Pada proses penyusunan skripsinya Nabela juga mendapat dukungan dari dosen pembimbing yang selalu memberikan target.
“Dosen pembimbing saya menargetkan setiap satu minggu harus ada satu sub-bab yang selesai. Target itu sangat membantu saya agar tetap konsisten dan tidak menunda-nunda,” katanya.
Selain dukungan dosen, Nabela juga merasakan peran besar keluarga sebagai sistem pendukung utama.
“Saya merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang berpendidikan, sehingga lingkungan saya selalu mendukung untuk terus belajar dan berkembang,” ujarnya.
Nabela memiliki pola belajar dengan mempersiapkan segala sesuatu sejak jauh hari sehingga bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
“Menurut saya, belajar jauh-jauh hari memberikan hasil yang lebih maksimal dan membuat prosesnya lebih tenang dibandingkan menerapkan sistem kebut semalam,” tuturnya.
Nabela mengungkapkan bahwa capaian tersebut berawal dari niat sederhana untuk mengejar ketertinggalan akan gap year.
“Saya sempat gap year satu tahun, jadi target awal memang hanya ingin cepat wisuda bersama angkatan saya yang sesungguhnya,” ujarnya.
Bagi Nabela, predikat wisudawan terbaik yang diraihnya ia maknai sebagai sebuah amanah.
“Bagi saya, gelar wisudawan terbaik bukan hanya sebuah pencapaian, tetapi juga tanggung jawab ke depan untuk menjaga nama baik almamater dan memberi kontribusi positif,” lanjutnya.
Menutup ceritanya, Nabela menyampaikan pesan kepada rekan-rekan mahasiswa, terutama yang masih berjuang menyelesaikan skripsi.
“Teruslah berkembang sesuai kemampuan diri sendiri, tidak perlu memaksakan atau membandingkan dengan orang lain. Yang terpenting, ingat kembali tujuan awal kita ketika pertama kali memulai perkuliahan, jadilah versi terbaik masing-masing,” tutupnya.
Reporter: Defina
Editor: Dinda A.



