By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Amanat.idAmanat.idAmanat.id
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Berdebat untuk Hal Sepele, Masih Perlukah?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Amanat.idAmanat.id
  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Advertorial
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
SeARCH
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
Have an existing account? Sign In
Follow US
ArtikelEsai

Berdebat untuk Hal Sepele, Masih Perlukah?

Last updated: 14 Oktober 2019 9:52 am
Agus Salim I
Published: 14 Oktober 2019
Share
SHARE
Ilustrasi berdebat (sumber foto: www.okezone.com).

Adanya perbedaan pendapat dalam pergaulan, organisasi, maupun antar anggota suatu instansi seringkali menimbulkan perdebatan yang melelahkan. Namun, tidak serta merta perdebatan tersebut bersifat substansial dan bahkan cenderung berangkat dari hal yang sepele.

Walaupun merupakan hal sepele, tetapi bisa menjadi perdebatan panjang lantaran pemahaman tentang berdebat itu tidak pada tempatnya, sehingga bisa menimbulkan konflik pribadi atau kelompok. Esensi berdebat pun bukan lagi didasarkan pada pencarian asas kebenaran, melainkan pembenaran atas irasionalitas yang sudah bersemayam di hati. Lain halnya jika perdebatan itu dipahami dalam konteks yang benar, maka dapat dipetik manfaat karena bisa menambah dan memperluas wawasan berpikir.

Misalnya saja, masalah hukum harus dibahas tuntas dari sudut hukum, dan masalah psikologi harus dibahas dari sudut psikologi juga. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan berlaku manakala ada kesepakatan yang mengatakan bahwa, masing-masing akan mengambil dari sudut pandang yang berbeda.

Kelompok pro akan melihat permasalahan dari sudut ilmu agama sedangkan yang kontra akan mengambil dari sudut pandang filsafat. Terlepas dari dua kelompok tadi, argumentasi yang dilontarkan juga harus berdasarkan pada rasio atau penalaran. Sehingga, akan menghasilkan perdebatan yang berkualitas pula.

Beda halnya ketika suatu perdebatan hanya berangkat dari permasalahan yang sepele tanpa menggunakan rasio yang matang. Akibatnya, urusan yang awalnya sepele ini, bisa saja merambah ke ranah yang lebih filosofis. Argumen yang dilontarkan pun, seringkali dibumbui dengan nalar logika yang salah dalam permainan kata-katanya.

Yang terjadi selanjutnya, situasi perdebatan menjadi tak terarah. Berbagai teori diperdebatkan dan menjadi senjata terampuh dalam menjatuhkan lawan bicara. Bahkan, tidak jarang perdebatan semacam ini berakhir pada kebencian dan permusuhan.

Sebenarnya, perihal permusuhan yang diakibatkan oleh perdebatan yang sepele ini, telah diceritakan oleh S. N. Ratmana (1936-2013) dalam sebuah cerpen berjudul “Kubur”. Ratmana menggambarkan bagaimana kemudian keutuhan sebuah keluarga, harus tercerai-berai hanya karena dua kubu yang berbeda pendapat gagal memahami bahwa, masalah yang mereka perdebatkan adalah masalah kecil dan memiliki banyak pendapat.

Jika sudah demikian, akankah kita perlu menggaungkan kembali perdebatan yang bahkan telah menjadi tradisi hari ini?

Penulis: Agus Salim

Mengenal 4 Ciri Abusive Relationship
Bagaima Founding Father Kita Mencontohkan Persatuan Meskipun Beda Pandangan Politik
Virus Corona Menghantui, Kemanusiaan Masyarakat Diuji
Inner Child: Luka Trauma Masa Kecil dan Cara Menanggapinya
Sertifikasi Halal dan Diskriminasi Identitas
TAGGED:artikel berdebatesai berdebatIlustrasi berdebatperdebatan
Share This Article
Facebook Email Print

Follow US

Find US on Social Medias
FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow

Weekly Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Popular News
Melisa Anggar, Manfaat berpuasa, UIN Walisongo
NasionalUIN WalisongoVaria Kampus

Melisa Anggar; Manfaat Berpuasa bagi Kesehatan Tubuh

Fatma Deka Latifah
7 April 2023
Sakit Akibat Revisi Berulang Kali Tidak Runtuhkan Dinny Raih Wisudawan Terbaik FISIP
Kepala Ma’had Al Jami’ah UIN Walisongo Respon Keluhan Mahasantri, Mulai Pencurian hingga Minimnya Fasilitas
Nafilah Kembali Harumkan UIN Walisongo Dalam Lomba Debat Bahasa Arab se-Jateng
Diet yang Salah Itu Tidak Baik, tetapi Tidak Ingin Diet Itu Kesalahan
- Advertisement -
Ad imageAd image
Global Coronavirus Cases

Confirmed

0

Death

0

More Information:Covid-19 Statistics
  • Warta
    • Varia Kampus
    • Indepth
    • Seputar Ngaliyan
    • Regional
    • Nasional
  • Artikel
    • Esai
    • Opini
    • Mimbar
    • Kolom
    • Buku
    • Film
  • Milenial
    • Kesehatan
    • Teknologi
    • Melipir
  • Akademik
  • Sosok
  • Lainnya
    • Epaper
      • Tabloid SKM Amanat
      • Soeket Teki
      • Buletin SKM Amanat
      • Bunga Rampai
    • Ormawa
    • Jejak Amanat
  • Cerpen
  • Puisi
Reading: Berdebat untuk Hal Sepele, Masih Perlukah?
Share

Tentang Kami

SKM Amanat adalah media pers mahasiswa UIN Walisongo Semarang.

Kantor dan Redaksi

Kantor redaksi SKM Amanat berlokasi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lantai 1, Kampus III UIN Walisongo, Jalan Prof. Hamka, Ngaliyan, Kota Semarang, dengan kode pos 50185

  • Tentang Kami
  • Media Partner
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Advertorial
  • Kontak
Reading: Berdebat untuk Hal Sepele, Masih Perlukah?
Share
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?