
Amanat.id- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Pekerja Teater (KPT) Beta Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) menggelar Seminar Sastra bertema “Aksara, Laku, dan Ruang” di Auditorium 1 Kampus 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Jumat (9/10/2026).
Seminar tersebut menghadirkan sastrawan asal Semarang, Lukni Maulana untuk menyampaikan materi bertajuk “Pondasi Penulisan Naskah Teater di Era Kecerdasan Buatan (AI)”.
Lukni menjelaskan naskah teater merupakan karya sastra audiovisual yang diwujudkan melalui pementasan di atas panggung.
“Naskah teater adalah karya sastra yang ditangkap dengan indra penglihatan dan pendengaran lewat pementasan,” jelasnya.
Ia menuturkan naskah teater harus mampu menggambarkan cerita yang ingin disampaikan melalui pementasan.
“Visual teater itu panggung, naskahnya harus bisa menggambarkan kehidupan nyata yang dipentaskan,” tuturnya.
Menurutnya, naskah teater memiliki karakteristik berbeda dari naskah film dan konten media sosial yang dapat melalui proses pemotongan dan penyuntingan.
“Naskah teater itu hidup di panggung yang dibatasi, kalau film dan konten bisa di cut dan di edit, teater tidak bisa. Naskah teater itu hak penonton dan kuasa para penampilnya,” terangnya.
Ia juga membahas penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam penulisan naskah teater memiliki tantangan pada penyampaian emosi kepada penonton.
“Penonton itu dapat tersenyum atau menangis karena naskah teater itu punya rasa di dalamnya, sedangkan naskah buatan AI hanya struktur teks tanpa emosi yang tidak bisa sampai ke penonton,” terangnya.
Ia menekankan penulis tidak dapat hanya mengandalkan AI dalam menyusun naskah teater, terutama untuk menggambarkan suasana emosional karakter.
“Kita tidak bisa membuat naskah teater hanya dengan mengandalkan AI, karena yang mampu menggambarkan suasana emosional karakter hanyalah manusia,” ujarnya.
Lanjutnya, penulisan naskah teater memerlukan pendalaman karakter secara sosiologis dan psikologis agar tokoh yang ditampilkan terasa hidup.
“Naskah teater itu harus punya ruh, jadi perlu pendalaman karakter secara sosiologis dan psikologis pada lakon yang akan ditampilkan agar cerita benar-benar hidup,” lanjutnya.
Ia mencontohkan proses pendalaman karakter yang dilakukannya melalui pengamatan langsung terhadap perilaku seseorang.
“Ketika saya disuruh pentas jadi orang gila, saya mengamati langsung orang gila, berjalan mengikutinya melihat bagaimana tangannya bergerak, mulutnya berbicara agar dapat menjiwai ketika nanti memerankan,” tambahnya.
Ia menerangkan keberhasilan naskah teater terletak pada kemampuannya menarik perhatian penonton melalui pementasan yang melibatkan indra penglihatan dan pendengaran.
“Naskah teater dikatakan berhasil ketika mampu membuat penonton fokus melihat dan mendengarkan pementasan,” pungkasnya.
Reporter: M. Randi Hoerul Azam (Cakruma SKM Amanat 2026)
Editor: Putri Natasya Islamadina

