
Amanat.id- Program studi (Prodi) Manajemen Haji dan Umrah (MHU) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo mengalami lonjakan mahasiswa baru tahun ajaran 2025/2026, Selasa (15/9/2026).
Kaprodi (Kepala Prodi) MHU, Abdul Rozaq menjelaskan penambahan kuota mahasiswa baru MHU.
“Tahun ini Prodi lain di FDK itu pendaftarnya menurun, maka untuk keseimbangan Prodi MHU yang peminatnya melonjak ini kemudian ditambahlah kuota Prodi MHU,” jelasnya ketika diwawancarai tim Amanat id di ruangannya, Selasa (8/9).
Rozaq menerangkan kuota awal dan jumlah peminat Prodi MHU yang melebihi perkiraan.
“Pendaftarnya itu sampai 700 padahal kuotanya hanya 200, dari universitas kemudian memutuskan menerima sekitar 400-an,” tuturnya.
Ia mengaku tidak memiliki wewenang dalam menentukan jumlah mahasiswa yang diterima.
“Penambahan kuota ini murni kebijakan universitas dan panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), Prodi hanya operator saja,” akunya.
Ia menuturkan terdapat penyesuaian jumlah dosen yang mengajar di Prodi MHU.
“Secara home base jumlah dosen Prodi MHU itu hanya sembilan, tapi ada sekitar dua puluh dosen Prodi lain di FDK yang membantu,” tuturnya.
Ia menambahkan sistem pengajaran di FDK sesuai kompetensi yang dibutuhkan, bukan berdasarkan Prodi.
“Sistem pembagian dosen di FDK itu fakultas bukan Prodi, ada dosen yang mengajar di Manajemen Dakwah (MD) lalu juga mengajar di Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), tergantung kompetensi yang dibutuhkan Prodi tersebut,” tambahnya.
Rozaq mengatakan ia telah mengajukan permohonan penambahan dosen ke pihak fakultas demi menjaga kualitas Prodi.
“Agar kualitas Prodi MHU tetap terjaga, saya sudah mengusulkan ke fakultas nanti fakultas ke rektorat lalu ke Badan Kepegawaian Negara (BKN), jadi kami hanya bisa menunggu, kecuali untuk perekrutan dosen luar biasa yang penggajiannya di bawah fakultas,” jelasnya.
Ia menerangkan ruangan kelas untuk Prodi MHU mengalami perubahan di beberapa lokasi.
“Sebenarnya ruang kelas sudah memadai, tapi karena fakultas kedokteran dipindah ke kampus 3 untuk akreditasi, kami melakukan penyesuaian sehingga kelasnya terpencar ke kampus lain,” terangnya.
Kesiapan Prodi dalam Memfasilitasi Pengalaman Mahasiswa
Mengenai persoalan magang, Rozaq menuturkan hal tersebut terfasilitasi penuh oleh Prodi MHU dan fokus pada pengalaman kerja.
“Tempat magang itu dari Prodi, kami bekerja sama dengan Kementrian Haji dan Umroh Tingkat kota/kabupaten, tujuannya agar mahasiswa benar-benar mendapat pengalaman kerja,” tuturnya.
Ia menambahkan Prodi MHU memiliki pilihan tempat magang yang beragam.
“Meskipun mahasiswanya semakin banyak, itu tetap efektif karena di Jawa Tengah itu ada sekitar 30 Kota yang memiliki Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu,” tambahnya.
Sementara itu, Mahasiswa Program Studi (Prodi) MHU, Sumanto (bukan nama sebenarnya) mengaku kesiapan izin magang Prodi MHU belum memadai.
“Kendala utama kami itu bukan tidak adanya tempat magang, tapi perijinan pada kemenhaj daerah setempat yang berkali-kali ditolak,” akunya saat diwawancarai tim Amanat.id via Whatsapp, (12/9).
Ia menambahkan lokasi yang jauh dan penolakan berkali-kali mengakibatkan mahasiswa harus mengeluarkan tenaga dan biaya yang besar.
“Lokasi yang direkomendasikan prodi itu jauh, kami ditolak beberapa tempat magang di dengan alasan sudah penuh Padahal kami sudah mengeluarkan tenaga dan biaya untuk mengirimkan surat secara langsung,” tambahnya.
Menurut Sumanto, bentuk penolakan dari tempat magang merupakan bagian dari ketidaksiapan Prodi memfasilitasi mahasiswanya.
“Dari penolakan tersebut dapat dilihat bahwa Prodi belum ada kerjasama atau MOU yang jelas dari tempat magang terkait,” paparnya.
Sumanto menuturkan beberapa praktik di tempat magang tidak relevan dengan yang ia pelajari di kelas.
“Waktu praktik di tempat magang itu teorinya ada yang berbeda dengan yang saya pelajari di kelas, jadi ada kontradiksi di sini, mungkin kalau saya mengikuti KKN Haramain bisa lebih paham praktiknya,” tuturnya.
Ia turut menyayangkan keputusan kampus yang menerima mahasiswa baru MHU dengan jumlah besar tanpa mempertimbangkan kesiapan Prodi.
“Walaupun peminat MHU banyak, kampus seharusnya paham dengan kapasitas Prodi, apalagi Prodi MHU ini masih perlu banyak perbaikan terutama dalam fasilitas magang,” ungkapnya.
Salah satu Mahasiswa Prodi MHU yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Haramain, Luqyana Durrotun Nafisah mengaku dapat mempraktekkan pembelajaran yang ia dapat selama perkuliahan.
“Tujuan KKN ini kan supaya mahasiswa MHU dapat mempraktikkan keilmuannya, dan aku merasakan bisa menerapkan 60% pembelajaran di kelas secara langsung di sini,” akunya saat diwawancarai tim Amanat.id via WhatsApp, (16/9).
Ia merasa program KKN yang dijalaninya memberikan pelatihan sekaligus penerapan yang cukup sebagai mahasiswa MHU.
“Saya suka program ini karena awalnya kami dimbing dulu oleh mutawif untuk melaksanakan umrah meskipun kami juga sudah manasik, setelah dua minggu baru kami diamanahi untuk membimbing jamaah, jadi setidaknya kami sudah menguasai lapangan,” jelasnya.
Ia menerangkan KKN di Arab Saudi memberikan pengalaman yang berkaitan langsung dengan Prodi MHU.
“Kalau KKN didalam negeri itu pasti kan sudah hafal dengan budaya masyarakatnya, berbeda pun hanya sedikit, tapi budaya masyarakat di Arab itu sangat berbeda, kumpul-kumpul di tempat umum itu sangat diawasi, jadi kami menyesuaikan juga untuk tempat program kerja (proker),” terangnya.
Ia menambahkan proker mengajar dirasa kurang efektif karena jarak antara tempat tinggal dengan sekolah yang jauh.
‘’Kami mewajibkan anak Pendidikan Bahasa Arab tiap hari ke sana untuk mengajar di Sekolah Indonesia Mekkah, sedangkan yang lain dengan sistem shift. Tapi karena jarak sekolahnya sangat jauh itu menjadikan proker ini kurang efektif,’’ tambahnya.
Luqy menuturkan kelompoknya diberi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN, namun tidak dapat mendampingi secara penuh.
“Selama di sana kami diberi DPL, tapi beliau tidak sepenuhnya mendampingi kami karena fokus ke jamaah juga, namun cukup membantu kami mengarahkan di pertengahan, sedangkan Bapak Kaprodi mendampingi kami secara online,” tuturnya.
Ia menilai kegiatan KKN Haramain perlu seleksi dan disesuaikan kompetensi mahasiswa.
”Anak Tarbiyah sebaiknya bisa fokus di sekolah untuk mengajar karena sesuai kompetensinya. Untuk jamaah umroh bisa di pegang oleh mahasiswa MHU, dan pengabdian masyarakat umum oleh mahasiswa Prodi lain,” jelasnya.
Luqy berharap kedepannya proker KKN bisa dipersiapkan dengan matang agar lebih efektif.
”Harapanku semoga tahun depan proker bisa lebih matang dan tidak berpatokan dengan proker KKN Haramain tahun sebelumnya,’’ harapnya.
Reporter: Putri Natasya Islamadina
Editor: Dinda Alfiani


