
Amanat.id- Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Semarang Raya (BEM SERA) menggelar aksi bertajuk Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) yang digelar di kawasan Tugu Muda Semarang, Rabu (26/8/2026).
Aliansi BEM SERA menyampaikan lima tuntutan utama sebagai berikut:
- Turunkan harga bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM)
- Kembalikan TNI dan POLRI ke fungsi utama
- Evaluasi total MBG dan hentikan program KDMP
- Kembalikan kepemilikan tanah ke rakyat dan revitalisasi segera wilayah terdampak bencana
- Hentikan praktik Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintahan
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Faiz Al-Amin mengatakan poin Panca Tuntutan Rakyat terdapat sedikit perubahan dari aksi sebelumnya.
“Kita tidak merubah tuntutan lama. Kita sebenarnya sudah pernah aksi dengan membawa tajuk Pantura atau panca tuntutan rakyat,” ujarnya.
Faiz memaparkan perubahan terdapat pada poin keempat dari lima tuntutan yang dibawakan.
“Ada sedikit perubahan di poin keempat yang awalnya ‘kembalikan kepemilikan tanah kepada rakyat’ menjadi ‘revitalisasi segera wilayah terdampak bencana’,” paparnya.
Ia juga menjelaskan tujuan pemilihan kawasan Tugu Muda sebagai lokasi aksi agar diketahui oleh publik.
“Tujuan kami memilih lokasi tersebut untuk mendapatkan atensi dari publik, supaya perjuangan bisa diketahui masyarakat. Kami bisa mengabarkan langsung secara real kepada masyarakat yang melintas. Jadi masyarakat tahu bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” ucapnya.
Ia menyebut terdapat sekitar delapan perguruan tinggi yang mengajukan koordinator lembaga dalam aksi tersebut.
“Universitas yang tercantum turut aksi ada sekitar delapan lembaga, yaitu Unnes, USM, Unwahas, Unissula, UIN Walisongo, Ivet, Unimus, dan UPGRIS,” sebutnya.
Ia menjelaskan jumlah massa yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang
“Estimasi awal kita sekitar 800. Kemudian ada beberapa kampus yang massanya bertambah karena masifnya kabar, sehingga teman-teman yang lain saling mengajak. Jadi bisa dikatakan sekitar 1.000 massa itu ada dalam aksi ini,” paparnya.
Ia menjelaskan keberangkatan sempat mengalami kendala karena mobil komando serta adanya penahanan massa dari salah satu kampus.
“Kami berencana berangkat jam dua belas. Tapi sempat terkendala mobil komando dan ada kabar dari teman-teman bahwa beberapa massa ditahan sama kampusnya. Jadi mau tidak mau kita harus menunggu sampai akhirnya sekitar jam tiga teman-teman baru mulai berangkat dari titik kumpul aksi,” jelasnya.
Selain menyampaikan tuntutan, massa juga melakukan aksi simbolik tabur bunga.
” Kami juga melakukan aksi tabur bunga. Aksi tersebut dimaknai sebagai simbol matinya rasa empati pemerintah terhadap kondisi rakyat,” ucapnya.
Massa juga berencana menggunakan pewarna merah sebagai simbol darah rakyat yang berjuang menghadapi kebijakan pemerintah. Namun, rencana batal karena keterbatasan bahan.
“Sebenarnya kami juga berencana membawa pewarna untuk ditabur-taburkan. Warnanya merah sebagai simbol rakyat yang setiap hari berdarah-darah menghadapi pemerintah saat ini. Namun, karena keterbatasan bahan yang kami cari, akhirnya kami batalkan dan hanya melakukan tabur bunga serta pernyataan sikap,” sambungnya.
Meski rangkaian aksi akhirnya terlaksana, Faiz menyayangkan kegiatan tidak berlangsung sepenuhnya di lokasi yang telah direncanakan.
“Sebenarnya sudah terlaksana, tetapi tidak sesuai tempat yang kami inginkan. Meskipun kami diizinkan, itu telat. Akhirnya hanya pernyataan sikap saja yang berada di tempat yang kita inginkan,” pungkasnya.
Salah satu peserta aksi, Zidane Muhammad Zidane juga mengimbau agar massa aksi tidak terburu-buru menganggap perjuangan mereka telah mencapai kemenangan sebelum seluruh tuntutan mendapatkan respons.
“Harapannya, mahasiswa jangan terburu-buru merasakan kemenangan selama tuntutan kita belum direspons sama sekali. Semoga pemerintahan yang populis hari ini akan segera berakhir,” ujarnya.
Reporter: Romaito dan Nijam


