
Perjalanan para Astronot Artemis II mengitari bulan mencatatkan sejarah baru dalam perjalanan kehidupan manusia. 56 tahun sejak pendaratan pertama Appolo 11 di Bulan pada 1969. Hal tersebut menjadi tonggak baru yang mengukuhkan dominasi intelektualitas manusia atas batasan fisik.
Pencapaian tersebut adalah manifestasi perjalanan panjang peradaban manusia dari zaman prasejarah. Kisah perjalanan ini bukan hanya pencapaian atas hal-hal yang dahulu sulit dibayangkan, tapi juga dorongan untuk melewati batas. Pencapaian tersebut mengantarkan manusia berada di posisi yang tidak dapat dicapai oleh makhluk lain.
Capaian peradaban manusia juga tercermin dari jumlah populasi yang terus menambah hingga mencapai 8,3 miliar jiwa. Angka tersebut bukan hanya menunjukkan pertumbuhan populasi, namun juga realitas kompleks mengenai sampai kapan bumi dapat menampung manusia.
Peningkatan jumlah manusia dianggap oleh aliran cornucopian sebagai kisah-kisah keberhasilan. Mereka menganggap bahwa bumi membutuhkan lebih banyak manusia. Optimisme ini berdasar pada asumsi seorang ekonom Julian Simon yang beranggapan bahwa pertumbuhan populasi manusia tidak menyebabkan bencana kelangkaan, namun sebaliknya yaitu mendorong inovasi atas masalah global.
Sementara di seberang, sejarawan alam Sir David Attenborough menganggap kondisi tersebut berbeda. Ia menilai jumlah manusia yang banyak akan membutuhkan sumber daya lebih besar. Sehingga, hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan spesies lain dan juga manusia itu sendiri.
Pada Maret 2026, para peneliti Laboratorium Ekologi Global Universitas Flinders, Australia dalam jurnal Environmental Research Letters memaparkan hasil yang menjadi alarm. Populasi manusia kini sudah melewati batas daya dukung Bumi, bukan lagi mendekati tapi melampauinya.
Bukan Sekadar Populasi, tapi Pola Konsumsi
Populasi manusia yang kian banyak mendorong dominasi atas sumber daya alam di Bumi. Hal tersebut secara paralel berdampak pada perubahan lingkungan. Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam Global Environment Outlook (GEO-7) memproyeksikan pada 2050 akan ada 1 juta kilometer persegi hutan dan lahan gabut yang hilang karena alih fungsi lahan pertanian.
Hal tersebut memicu terjadinya kerusakan ekosistem alam dan penurunan keragaman spesies sebesar 3%. Selebihnya berdampak kembali kepada manusia yang akan mengalami krisis air. Setidaknya 3,3 miliar orang atau sepertiga penduduk dunia akan menghadapi kekurangan air pada 2050.
Emisi gas rumah kaca juga akan naik 50% menjadi 75 miliar ton per tahun, beriringan dengan ekstraksi energi mineral dan fosil yang melonjak 60% dari tahun 2020. Mengakibatkan kosentrasi kadar polutan PM 2.5 bertebangan di udara. Sekitar 4,2 miliar kelompok rentan akan terpapar oleh udara dengan partikel halus tersebut.
Bagi sebagian orang, proyeksi tersebut mengilhami mereka untuk memilih memiliki sedikit keturunan dan beberapa memilih tidak mempunyai anak. Trend tersebut dapat dilacak melalui studi yang dipublikasikan di The Lancet pada 20 Maret 2024 yang memperlihatkan jumlah rata-rata anak per perempuan usia subur hanya 2,23 anak. Pada tahun 2021 menurun dari dekade sebelumnya yang masih mencapai 4,84 pada 1950.
Terdapat penelitian yang dilakukan Profesor Studi Internasional di Rhodes College, Tennessee terhadap dampak pertumbuhan penduduk di 22 negara Eropa terhadap lingkungan. Studi tersebut menunjukkan ada korelasi antara pertumbuhan dengan penggunaan lahan dan emisi karbon, terutama di Eropa Barat.
Namun, hasil berbeda terlihat di Eropa Timur yang memperlihatkan hasil sebaliknya. Faktor seperti kebijakan dan pola pembangunan memberikan pengaruh lebih dibanding jumlah penduduk. Hasil penelitian tersebut mendukung asumsi banyak pemerhati lingkungan yang mempercayai bahwa bukan populasi penyebab masalah, namun juga pola konsumsi.
Manusia selama puluhan tahun bertahan karena alam masih memiliki cadangan energi. Seperti halnya tabungan pasti ada batasnya, Bumi yang selama ini memenuhi standar kebutuhan industri juga akan habis. Fosil yang terbentuk selama jutaan tahun tersimpan di perut bumi tidak akan kembali dalam hitungan generasi.
Sehingga, pola konsumsi manusia dan populasi total berjalan bersamaan dalam memperburuk keadaan lingkungan. Hal ini menjadi tanda, total populasi yang selama ini dikhawatirkan memang benar memiliki dampak pada lingkungan. Namun hal tersebut bukan hanya menjadi faktor utama dan penentu. Pola konsumsi yang selama ini terjadi juga turut andil dalam menentukan nasib manusia kedepannya.
Ketimpangan Sumber Daya
Pada 2010, warga Amerika Serikat diperkirakan menghabiskan 455 miliar galon air tawar. Sepersepuluhnya digunakan untuk rumah tangga, sepertiganya untuk irigasi pertanian dan sepersepuluhnya digunakan untuk memproduksi listrik. Jika diambil rata rata per orang, lebih dari 1.000 halon digunakan untuk setiap harinya.
Angka tersebut jika disamaratakan pada level warga Amerika ke 1,7 miliar orang, maka konsumsi air di dunia akan mencapai 10.000 kubik kilometer pertahun. Angka yang kecil jika dibandingkan dengan total keseluruhan total suplai air tawar danau dan sungai di dunia. Yang mana cadangan bumi berkisar 91.000 kubik kilometer.
Laporan Global Footprint Network pada 2023, memodelkan jika seluruh orang di bumi hidup seperti rata-rata warga Amerika. Hasilnya manusia memerlukan lima planet seperti bumi untuk mencukupinya. Simulasi serupa juga dimodelkan dengan gaya konsumsi rata-rata warga Indonesia, setidaknya perlu 2,5 planet bumi agar dapat menopangnya.
Selaras dengan itu, laporan IPCC Sixth Assessment Report (2023), menunjukkan adanya ketimpangan ekstrem. Ada 3,3 miliar hingga 3,6 miliar orang hidup dalam kondisi rentan terhadap perubahan iklim yang terjadi.
Solusi yang Menyeluruh
Pada 1798, seorang pendeta Inggris, Thomas Malthus dalam karya terkenalnya, An Essay on the Principle of Population. Ia mengawali naskahnya dengan kalimat “semua orang perlu untuk makan dan mereka suka berhubungan seks.” Kalimat pembuka tersebut mengarahkan pada fakta yang mengantarkan manusia melampaui kapasitas bumi. Melalui gaya konsumsinya yang ekstraktif sampai pada jumlah populasinya yang kian meningkat.
Maju ke era kini, penelitian yang dilakukan oleh Profesor Corey Bradshaw dari Laboratorium Ekologi Global Universitas Flinders, Australia. Ia menekankan bahwa krisis terjadi bukan hanya karena populasi yang terlalu banyak, namun juga pola konsumsi manusianya.
Data lapangan memperlihatkan bahwa ada korelasi antara total populasi dan pola konsumsi per kapita dalam pengaruhnya kepada lingkungan.
Sehingga dibutuhkan solusi yang dapat mencakup keduanya. Gagasan lama seperti memperlambat laju pertumbuhan populasi melalui kemudahan akses kesehatan reproduksi, pendidikan dan kesetaraan adalah bagian dari inisiatif yang efektif. Dalam ranah energi dan pangan, usaha pembangunan ekonomi sirkular yang meminimalisir pemborosan sumber daya dan transisi energi terbarukan dapat diimplementasikan.
Pilihan hari ini akan menentukan nasib generasi mendatang. Mungkin yang kini anak-anak adalah orang dimana akan hidup di puncak populasi global dan di tengah tekanan perubahan alam. Sehingga kini pilihannya adalah bertindak sebelum terjadi atau sesudahnya. Peradaban membutuhkan alam untuk bergerak. Tetapi disaat yang bersamaan, peradaban juga membutuhkan alam untuk tetap hidup.
Penulis: Hikam Abdillah


